Pria Pertama

1026 Words
Jeff mendelik seakan tak percaya apa yang baru saja ia dengar dari Alice, “apa kau sudah gila?” Alice menjambak rambutnya sendiri terlihat sangat frustrasi, “tidurlah denganku atau orang lain yang akan melakukannya!” serunya tampak kacau. “Apa yang kau bicarakan? Kenapa aku harus tidur denganmu?” tanya Jeff. “Jeff aku sudah membuat perjanjian dengan Natasya dan pelanggan tetapnya sudah membayar mahal untuk tidur denganku, itu semua bisa dibatalkan kalau ada yang bisa membayar lebih mahal darinya,” jelas Alice. Jeff seakan mendengar berita paling buruk yang pernah ia dengar hingga ia pun tak bisa berkedip dan hanya menatap Alice dengan mata nyalang. “Maksudmu Natasya yang menemuimu saat kau dipecat itu?” tanyanya. Alice menganggukkan kepala. Jeff yang tak terima lalu meremas kedua lengan Alice, “kenapa kau lakukan itu? Kenapa kau harus membuat perjanjian dengannya, kau tahu akan sangat sulit keluar dari pekerjaan seperti atau mungkin saja kau tidak akan bisa melepasnya?” “Jeff, aku tidak punya pilihan, aku butuh uang!” tegas Alice, “jangankan untuk membuktikan pada kakakku bahwa aku bukan beban keluarga, aku bahkan tidak tahu apakah besok aku bisa makan atau tidak,” tambahnya dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, “setiap hari uang tabungan uang kubawa dari rumah semakin menipis, Jeff dan aku perlu pekerjaan untuk bisa menabung lagi, tapi bagaimana aku bisa menabung kalau uang untuk menyambung hidupku saja aku tidak punya,” ungkapnya. Jeff seakan tertohok mendengar pernyataan Alice. Ia ingin menjawab bahwa ia saja yang akan menghidupi Alice. Tetapi, bagaimana kata-kata itu bisa keluar dari mulutnya, ia sendiri bahkan tak punya pekerjaan tetap. “Jeff, aku mohon, tidur denganku sekali saja, pelanggan pertamaku adalah pria yang sudah beristri, bagaimana kalau dia menyiksaku?” pinta Alice. “Itu risiko pekerjaanmu, Alice,” jawab Jeff dengan wajah seakan ia tak berperasaan. Alice pun terdiam mendengarnya. “Apa, Jeff?” suara Alice hampir saja tenggelam saking terkejutnya. “Kau sendiri yang memilih jalan itu, aku sudah memberitahumu bagaimana risikonya, sekarang kau harus menanggungnya sendiri,” kata Jeff kemudian membalikkan badan. Alice tiba-tiba meraih lengan Jeff bermaksud menghentikan pria itu, “Jeff, aku masih perawan, kau tidak bangga mendapatkannya?” Jeff bergeming tanpa menoleh sedikit pun dan meninggalkan Alice. Alice pun kini menjatuhkan diri ke lantai dan memeluk lututnya. Entah bagaimana kata-kata yang seperti tadi keluar dari mulutnya. Meski itu bukan gaya bicaranya dan tentu saja ia bukan gadis yang pandai menggoda, ia pikir Jeff akan berubah pikiran ketika tahu ia benar-benar masih orisinil. Tetapi, ia salah, Jeff bukan pria seperti itu. Yang akan merasa bangga setelah merobek dinding pertahanan seorang gadis. Alice bisa melihat betapa Jeff sangat kecewa padanya. Sekarang matilah dirinya bersama pilihannya sendiri. *** Malam pun tiba dan Alice sudah didandani dengan begitu cantiknya. Sebuah gaun dengan belahan yang memperlihatkan paha mulusnya melekat dengan apik sehingga itu membuatnya tampak sangat menggoda. Dengan menggunakan mobil sedan hitam Alice diantarkan menuju sebuah hotel berbintang. Dua orang bodyguard mengawalnya untuk berjaga-jaga kalau-kalau terjadi hal yang tak diinginkan terjadi pada Alice. Sebelum masuk ke kamar yang sudah diberitahukan kepada Alice, ia mengecek ponsel untuk melihat jam berapa sekarang. Tetapi, matanya justru tertuju pada sebuah pesan dari Natasya. Ia pun cepat-cepat membuka pesan itu. “Alice, aku lupa memberitahumu, klienmu mendadak berubah, dia adalah pria muda yang tampan, kau pasti suka.” Pria muda dan tampan? Alice mengerutkan dahi setelah membaca pesan itu. Entah siapa si muda dan tampan itu tetapi kini Alice sedikit lega karena setidaknya pengalaman pertamanya tidak akan seburuk yang ia bayangkan. Alice akhirnya sampai di kamar tujuannya. Ia pun mengetuk pintu dengan perasaan yang campur aduk. Ia takut, gugup bahkan dia mulai menyesal. Entah bagaimana ia bisa mengambil keputusan ini? Ia benar-benar menjual diri? Di tengah lamunan Alice pintu akhirnya dibuka dan pelanggan pertamanya muncul dari balik pintu. Namun, betapa Alice sangat terkejut melihat pria yang ada di depannya. “Jeff?” nyaris saja Alice berteriak. “Silakan masuk, Alice,” ucap Jeff sambil memberi jalan pada Alice. Kaki Alice melangkah tanpa perintah bersama wajahnya yang mungkin sudah sepucat hantu paling penasaran yang pernah ada. Benarkah yang ia lihat di depannya adalah Jeff yang ia kenal? Tetapi, pria itu tampak sangat lain. Alice selalu melihat Jeff yang urakan bahkan rambutnya sering kali berantakan. Celana robek dan kaos oblong juga wajahnya yang kusam karena terkena panas dam debu. Kali ini Alice melihat Jeff dengan wajahnya yang bersih dan rambutnya rapi. Dia memakai kemeja yang sudah disetrika dengan rapi dan tidak ada satu robekan pun di celananya. Ia benar-benar tampak seperti putra konglomerat yang entah berapa jumlah hartanya. Jeff pun mempersilakan Alice untuk duduk di sofa. Alice bukannya duduk malah memperhatikan kamar yang ia masuki. Seluruhnya tampak elegan dan mewah. Ia bisa menafsirkan berapa tarif per malam di kamar itu dan hanya orang-orang yang berkantong tebal saja yang bisa menginap di kamar seperti itu. “Kenapa hanya berdiri, Alice?” tanya Jeff, “duduklah,” suruhnya seraya menepuk sisi sofa di sebelahnya. Entah kenapa Alice secara otomatis mundur satu langkah, “siapa kau, apa kau benar Jeff? Jeff yang aku kenal?” tanyanya dengan wajah takut. “Aku Jeff, Alice, kau mengenali wajah ini bukan?” jawab Jeff. Alice seakan kesulitan untuk berkata-kata bahkan kesulitan untuk percaya pada apa yang ia lihat. Ia benar-benar seperti baru saja melihat hantu. “Bagaimana kau bisa ada di sini, Jeff?” tanyanya. Tiba-tiba saja Alice merasa malu di hadapan Jeff. Selama ini pria itu menjaganya dan membantunya. Tetapi, kali ini ia berpakaian menggoda di depan pria itu dan membuatnya kecewa dengan pekerjaan baru yang ia pilih sendiri. Rasanya ia seperti menampar dirinya sendiri dengan kebaikan orang lain. “Aku yang sudah membayar mahal, Alice, bukankah kau bilang jika ada yang bisa membayar lebih mahal pelangganmu bisa berubah, kau yang minta agar aku menjadi pria pertamamu kan? Sekarang aku di sini untuk menjadi pria pertamamu,” tutur Jeff. “Apa?” Alice terkejut, “kau membayar? Ta-tapi, tapi, ba-bagaimana bisa, dari mana kau dapatkan uangnya?” Alice menatap Jeff curiga, "kau tidak mencuri seseorang kan?" tanyanya. Jeff terkekeh, "mana mungkin mencuri uang sebanyak itu dari seseorang? Uang itu pasti di simpan dengan aman di dalam bank," jawabnya. "Lantas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD