Bab 12. Kedatangan nenek Rafa

1732 Words
Menjelang sore, bel rumah berbunyi. Renata yang tengah duduk bersantai diruang tengah bersama Rafa beranjak keluar untuk membukakan pintu.  Tampaklah dalam pandangan Renata seorang wanita paruh baya yang masih terlihat mempesona berdiri di depan pintu. "Selamat sore, bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Renata sopan. Detik pertama wanita paruh baya itu memandang penuh tanya pada Renata. Detik berikutnya wajah wanita itu langsung berubah santai seolah ia sudah menduga siapa wanita cantik yang berada dihadapannya ini. “Kamu pasti Renata. Kenalin, saya mamanya Ryan. Kesini mau jengukin Rafa. Rafa dimana sekarang?” “Oh iya, bu. Saya Renata, nurse yang bertugas jagain Rafa sejak satu hari lalu.” “Iya, Ryan sudah kasih tahu saya. Kamu keliatan masih muda. Umur kamu berapa?” tanya Terry blak - blakan. “Saya 25 tahun.” Terry merenung sejenak. “Dua puluh lima tahun ? Masa sih ? Tapi kamu keliatan lebih mudah dari umur kamu. Tapi bolehlah.” Renata kebingungan dengan ucapan Terry tetapi ia menepis keinginannya untuk bertanya. “Nenek…” ucap Rafa setengah beteriak. Anak itu kemudian berlari kecil dan menghampiri Terry.   “Halo cucu nenek yang ganteng. Kiss nenek dulu dong.” pinta Terry. Cup... Rafa mengecup pipi Terry.   “Pinter sekali cucu nenek. Eh, gimana keadaan Rafa sekarang ? Kenapa sih bisa sakit kemarin ? Maaf nenek baru bisa datang hari ini soalnya encok nenek kambuh.”     “Kasihan nenek seling sakit pinggang. Kalau Lafa sekalang sudah sembuh kok. Sekalang malah papi yang sakit.” “Hah? Papi sakit apa?” tanya Terry terkejut. Terry paling tahu kehidupan Ryan. Putra nya itu  tipe pria yang kuat. Dia jarang sekali sakit. Tapi begitu dia mengalami sakit, sikapnya berubah menjadi manja dan kadang kekanak – kanakkan. Terry berubah khawatir.  “Papi sakit pelut.” Terry mengalihkan pandangan matanya ke Renata yang sejak tadi mengekori mereka. Pandangannya mengartikan bahwa dia butuh lebih banyak penjelasan. “Pak Ryan terkena diare. Tapi beliau sudah minum obat. Sekarang beliau berada dikamarnya sedang berisritahat. ” kata Renata menjelaskan. “Oh, begitu.” Mata Terry kembali menatap Rafa. “Rafa main sama tante Renata dulu ya. Nenek mau ke atas dulu  tengokkin papi.”   Rafa mengangguk menyetujui sementara Renata mendengus frustasi. Astaga, apa aku keliatan seperti tante - tante ? * Dikamar, Ryan tampak tertidur pulas. Terry hanya berdiri memperhatikan Ryan dalam kesunyian selama beberapa menit. Tidak ingin mengganggu tidur putranya itu.   Baru saja Terry ingin melangkahkan kakinya keluar, ia mendengan Ryan mulai menggeliat. Diurungkannya niatnya itu. Ia kemudian memandang ke arah Ryan lagi. “Kamu sudah bangun.” “Mama..” ucap Ryan dengan suara serak khas suara orang yang baru bangun tidur. “Kapan mama datang? Kesini nya sendirian atau ?” “Mama baru saja datang.” ujar Terry lalu menghampiri Ryan. ”Kesininya sendirian soalnya Nana masih dikampus.” Riyana atau yang di lebih dikenal dengan panggilan Nana adalah adik Ryan. “Oh.”   Ryan bangun dan duduk tegak sambil menyandarkan punggunnya dikepala ranjang. Sementara Terry duduk ditepi tempat tidur.      “Bagaimana keadaan kamu? Mama dengar dari perawat itu kamu terkena diare. Sekarang apa masih bolak – balik toilet?” “Maksud mama Renata?” “Iya.”     Ryan menarik napas. “ Tapi tadi Renata sudah kasih aku obat, makanya sekarang keadaan aku agak mendingan. Sudah nggak bolak –balik toilet lagi. ”   “Syukurlah.” ujar Terry lega. “Tapi perutnya masih terasa sedikit melilit. Pijitin perut aku dong ma.” Manjanya mulai kumat.   Terry bangkit dan membuka laci nakas, mencari minyak angin. “Ini, gosok sendiri diperut kamu. Sudah tua kayak gini masih ada manja kalau sakit.” gerutu Terry. “Kan manjanya sama mama sendiri. Boleh – boleh aja dong.” Terry tidak menjawab ucapan Ryan. Dia hanya menggeleng.  Sambil memperhatikan Ryan menggosok perutnya, Terry mengajukan pertanyaan.  “Ngomong – ngomong, kenapa kamu nggak kasih tahu mama kalau perawat yang ngurusin Rafa itu masih muda,. Cantik lagi.”   “Ya ampun, ma. Menurut aku itu nggak terlalu penting. Kenapa juga harus kasih tahu ke mama?”   “Mama kan pengen tahu, Yan. Kalau perawatnya cantik kayak gitu kali aja bisa dijadiin istri dan ibu buat Rafa. Gimana menurut kamu? " tanya Terry memancing Ryan. “Jangan mulai deh ma. Dia tuh disini buat kerja ngurusin Rafa bukan buat melamar jadi istri atau ibu buat Rafa. Oh ya sekarang gimana keadaannya ? Encoknya sudah sembuh?” Ryan mengalihkan pembicaraan. “Sudah. Tapi  beneran kamu ngga mau nyoba berhubungan lebih dekat dengan perawat itu ?" Terry tetap membahas Renata.   “Ya ampun ma. Apa sih maksud mama?”   Jelas – jelas Ryan tahu apa sebenarnya maksud mamanya, tetapi dia berlagak bodoh dan malah pura – pura bertanya.  “Kamu nih, ditanya malas balas nanya.”   “Menurut pendapat aku, Renata itu baik , bertanggung jawab, penuh perhatian dan kasih sayang. Dia merawat Rafa dengan baik.” Terry tersenyum. “Nah itu... Berarti dia cocok buat jadi istri kamu dan ibu buat Rafa. Iya kan?” Ryan terbelalak. “Astaga ma. Kenapa pikiran mama hanya itu – itu saja? Aku itu tidak ada ketertarikan pada Renata seperti yang mama maksudkan."  Memang Ryan bersyukur dengan kehadiran Renata dirumahnya. Memang dia senang karena Renata mengurus Rafa dengan baik. Memang dia bahagia saat melihat Renata memperhatikan serta menyayangi Rafa dengan tulus. Memang dia merasa nyaman saat dekat dengan Renata. Tapi bagi Ryan itu belum cukup. Ryan butuh waktu untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perasaannya. Terry menatap putranya itu dengan ekspresi tidak percaya karena dalam hati Terry ia merasakan bahwa putranya itu berbohong.  Terry berasumsi bahwa putranya itu sudah mulai menampakkan ketertarikan pada Renata tapi dia masih enggan mengakuinya. "Ya kan mama hanya nanya, Yan. Kali aja ada harapan. Kali aja nanti kamu bisa mempertimbangkan untuk berkencan dengan dia. Lagian kemarin kamu bilang mau nyari perempuan yang bisa sayang dan perhatian ke Rafa. Sekarang sudah ada, malah sudah sangat dekat dengan kamu. Kenapa kamu nggak mau sama dia ?” Sekuat apapun Ryan berusaha mengelak dan mengalihkan topik pembicaraan, Terry tidak akan menyerah. Sudah lama Terry menginginkan Ryan menikah lagi. Dan kesempatan itu sedikit lagi bisa menjadi kenyataan. Terry bertekad penuh untuk mencari tahu. Apabila dia tahu letak masalahnya dimana, barangkali dia bisa membantu.   Ryan menghembuskan napas panjang, wajahnya menampakkan kebingungan yang tidak bisa dijelaskan. Ryan berdeham. “Ok, sejujurnya aku mengagumi Renata. Tapi kurasa itu masih tidak  berarti apa – apa ma. Lagipula, aku juga belum tahu lebih jauh tentang wanita itu. Bisa jadi sekarang dia sudah memiliki kekasih.” “Apa kamu sudah bertanya padanya?” “Belum.”   “Ya Tuhan, Ryan. Dasar bodoh! Kamu belum bertanya padanya tetapi sudah berspekulasi. Dimana akal sehat kamu?”  Ryan tidak tahu. Mungkin akal sehatnya sudah hilang. Sebenarnya Ryan sudah mencoba berbicara dengan Renata tentang hal - hal yang lebih bersifat pribadi. Otaknya memutar kembali kejadian siang tadi dimana ia telah mencoba untuk bebicara santai dengan Renata dengan menagajukan pertanyaan  seputaran pekerjaan. Maksud Ryan. apabila respon Renata baik, Ryan berencana akan yang sifatnya lebih pribad, seperti menanyakan apakah dia sudah memiliki kekasih atau belum.     Namun sayangnya harapan Ryan sia – sia.   Pertanyaan seputar pekerjaannya pun tidak secara mudah dijawab oleh Renata. Malah dia terlihat seperti ingin melarikan diri. Apalagi jika Ryan mengajukan pertanyaan seputar kehidupan pribadi wanita itu. Ryan tidak bisa menduga apa yang akan terjadi.   Tetapi kemudian Ryan juga  berpikir, sekalipun Renata masih belum memiliki kekasih itu tidak berarti dia wanita yang mudah didapatkan. Renata pasti memiliki standar khusus terhadap pria yang ingin menjalin hubungan dengannya. Pasti harus seumuran dengan dia dan yang lebih penting pria impiannya harus single. Ryan menduga - duga. Lalu Ryan menilai dirinya.  Ya Tuhan, dia tidak masuk standar. "Sebaiknya kamu tanyakan sama Renata Yan kalau dia sudah memiliki kekasih atau belum." saran Terry. "Ah sudahlah ma, Nggak penting juga." Terry berubah kesal. "Nggak penting ? Jangan berubah b**o kamu. Jelas ini penting. Ini tentang hidup kamu dan juga hidup Rafa. Ini tentang kebahagian keluarga kamu Yan. Ini jelas  sangat penting! Apa perlu mama bantuin kamu? Ryan mendengus. "Nggak usah ma. Hubungan aku sama Renata biarkan saja mengalir apa adanya. Nggak usah terburu - buru, karena nggak baik melakukan suatu hal dengan terburu - buru." Terry menatap Ryan lekat - lekat. “Memang benar. Tidak baik melakukan sesuatu terburu – buru. Semua harus dilakukan perlahan – lahan. Tapi mama ingatkan, jangan kamu mengulur – ngulur waktu. Jangan sampai kamu kehilangan kesempatan.” Terry berhenti sejenak untuk menarik napas. “Tapi apa hanya itu masalahnya?”   “Hemmm…” gumam Ryan. “Ini hanya masalah waktu ma. Butuh banyak waktu untuk kami saling mengenal.”     “Syukurlah kalau begitu. Tadinya mama pikir masalahnya adalah karena kamu belum melupakan Helen. Dia sudah meninggal. Sudah 5 tahun. Sementara kamu masih hidup. Jangan sampai kamu larut dalam kubangan masa lalu. Kamu harus move on, melakukan sesuatu yang menyenangkan, maksud mama, kamu harus menikmati hidup dengan sedikit  bersenang – senang. Buka hatimu dan jalin sebuah hubungan dengan wanita.” "Demi Tuhan ma, aku tidak terjebak dalam masa lalu. Aku hidup normal sebagai seorang manusia karena aku bersosialisasi dengan baik dan aku juga sering bersenang – senang.”   Sementara Ryan berbicara dia berpikir. Tentu saja dia menikmati hidunya. Dia sering bersenang – senang. Tetapi maksudnya adalah dia sering bersenang - senang dengan Rafa, putranya. Setiap akhir pekan ia meluangkan banyak waktu untuk Rafa. Terkadang  mengajak putranya itu  ke mekdi untuk membeli ayam goreng dan eskrim atau ke mall untuk beli mainan atau ke biskop untuk menonton film. “Tapi kamu nggak pernah berkencan dengan wanita setelah menduda. Selama ini, meskipun kamu memenuhi permintaan mama berkenalan dengan putri teman mama, tapi semua hanya sebatas berkenalan saja. Nggak pernah lebih dari itu." Ryan terdiam. Memang benar. Sudah lama ia tidak berkencan dengan wanita, dalam artian membangun sebuah hubungan seperti sepasang kekasih. Sebenarnya Ryan bisa saja melakukkan itu, tapi apa gunanya ? Dia sudah pernah dikecewakan, disakiti dan dikhianati. Untuk menjalin sebuah hubungan dengan seorang wanita Ryan menjadi semakin hati – hati bahkan pemilih. Terry mendesah panjang. “Ini memang hidup kamu, tapi ketahuilah mama hanya ingin kamu bahagia.”   Ryan mengangguk mengerti.   “Aku juga ingin bahagia, ma.” ucapnya lemah.     “Kalau begitu jangan banyak alasan dan jangan tutupin perasaan kamu. Kalau suka, kejar dia. Jangan sampai dia bertemu cowok lain dan jadian sama cowok itu. Mama yakin diluar sana banyak yang mau sama Renata. Sebaiknya kamu gercep Yan. Jangan sampai kamu kehilangan kesempatan untuk memiliki wanita  yang kamu  suka.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD