Malam Tanpa Pengantin Pria

1044 Words
"Karena saya sudah memenuhi keinginanmu, maka sekarang giliran kau yang harus menepati janji." Suara dingin Alex menginterupsi Dewi yang sedang menyisir rambutnya dengan wajah tertunduk. Wanita itu sontak mendongak, menatap ke arah cermin di depannya yang memantulkan bayangan Alex. Matanya seketika bertemu pandang dengan lelaki yang juga tengah menatapnya tajam melalui kaca cermin. "Kau tidak lupa akan perjanjian awal kita menikah 'kan?" Dewi menghela napas berat. Pertanyaan lelaki itu membuatnya tersenyum getir. "Iya. Aku tak mungkin melupakan perjanjian itu," sahut Dewi seraya menaruh sisir di atas meja rias. Suasana dalam kamar itu terasa sangat menegangkan. Terlebih Alex menatap dingin wajah Dewi, nyaris tanpa ekspresi dan membuat wanita itu jadi sangat takut dibuatnya. "Ingat ya, Wi. Saya mau menikahimu semata-mata hanya karena anak itu. Dan sesuai dengan perjanjian yang telah kita sepakati sebelumnya, saya akan langsung mengurus surat perceraian setelah kau melahirkan nanti." Perkataan Alex seketika membuat mata Dewi memanas. "Dan saya tegaskan padamu sekali lagi. Kalau saya tak bisa memberikanmu cinta dan perhatian karena menikah denganmu tidak pernah masuk ke dalam daftar salah satu tujuan hidup saya. Tetapi karena katanya kau telah hamil anak saya. Maka saya hanya bisa memberikan tanggung jawab sebagai suami dan ayah dari anak yang kau kandung. Tidak lebih dari itu. Jadi jangan pernah berharap akan ada cinta dalam pernikahan ini." Dewi seketika mematung, tak memberikan reaksi apa pun atas perkataan Alex. Merasa tak di tanggapi, lelaki itu lantas berjalan pergi hendak meninggalkan Dewi yang masih tampak syok. Belum beberapa langkah Alex berjalan menjauh, lelaki itu kembali berbalik badan. "Dan satu lagi." Alex kembali mendekat dengan jari telunjuk teracung ke wajah Dewi. "Jaga mulutmu itu! Saya tidak ingin ada orang lain yang tahu soal pernikahan kita. Apalagi orang-orang yang bekerja di kantor. Jangan sampai mereka tahu. Mengerti?" "Mengerti, Pak." Dewi mengangguk patuh. Walau status mereka sekarang sudah sedikit berubah menjadi suami istri, tapi Alex tetaplah bos bagi Dewi saat berada di kantor. Seperti sebuah kebiasaan, mungkin lelaki itu juga tetap akan memperlakukannya sebagai bawahan walau sudah berada di luar kantor. "Malam ini kau bebas melakukan apapun sesuka hatimu, tapi ingat jangan coba-coba meninggalkan kamar ini sebelum saya kembali." Setelah mengatakan sepatah kata penutup, Alex berjalan ke arah pintu dan... Brak... Alex keluar kamar, membanting pintu dengan sangat keras. Air mata yang sengaja ditahan wanita itu kini sudah tak bisa di bendung lagi. Dewi menangis, meratapi semua kenyataan yang telah menimpa hidupnya. Beberapa waktu yang lalu, Dewi yang dilema karena hamil tanpa seorang suami dihadapkan pada pilihan sulit saat harus memberitahukan kondisinya pada Alex yang tak lain ialah bosnya. Lelaki yang tak banyak berbicara dan memiliki sikap angkuh itu tak langsung percaya begitu saja saat dirinya mengatakan kalau tengah hamil anaknya. Namun beberapa hari kemudian lelaki yang sempat menuduh Dewi berbohong itu, tiba-tiba saja memberinya dua pilihan sulit. Yang pertama Dewi harus berhenti bekerja di perusahaan Alex. Sebagai gantinya dia bersedia menikahi Dewi dengan syarat wanita itu harus merahasiakan pernikahan mereka di depan umum. Atau Dewi tetap dibolehkan bekerja dengan syarat harus rela mengugurkan janin yang di kandungnya. Dan sebagai gantinya Alex bersedia memberikan uang sejumlah satu juta dollar untuk biaya pemulihan pasca aborsi. Jelas saja, Dewi memilih pilihan yang kedua. Walaupun kehadirannya tidak diinginkan, ia tak akan sanggup membunuh makhluk tidak berdosa yang kini sedang bertumbuh dalam rahimnya. Selain itu Dewi memang tak berani berharap lebih apalagi menuntut yang macam-macam. Ia hanya menginginkan status untuk anak yang di kandungnya. Dan memang hal itu saja yang terpenting baginya saat ini. Walau dirinya sangat sadar akan posisinya di mata lelaki itu. Namun entah mengapa kata-kata yang tadi diucapkan Alex pada malam pertama mereka, membuat Dewi kembali bersedih. Malam pertama biasanya dinikmati berdua oleh sepasang pengantin yang baru menikah. Tapi tidak dengan Dewi. Sang pengantin pria malah pergi meninggalkannya seorang diri di dalam kamar hotel. Entah kemana perginya lelaki itu, Dewi tak tahu. Untuk sekedar bertanya mau kemana saja, wanita itu tak sanggup. Apalagi sampai melarang pergi lelaki yang baru beberapa jam resmi menjadi suaminya. ☆☆☆ Brak... Dewi yang sedang tertidur pulas seketika terbangun kaget begitu mendengar suara gebrakan pintu yang dibuka cukup keras. Saking kagetnya ia langsung terduduk dengan mata setengah terbuka. "Sudah pagi ya?" tanya Dewi seraya menguap lebar-lebar. Dewi berbicara dengan tingkat kesadaran yang belum penuh. Merasa tak mendapatkan jawaban, Dewi pun menoleh. Wajahnya sedikit terkejut melihat penampilan Alex yang hanya mengenakan sehelai handuk untuk menutupi tubuh polosnya. "Lihat apa kau?" Dewi mengeleng dengan cepat. Tatapan tajam Alex yang mengintimidasi membuat nyalinya kian ciut dan akhirnya mengalihkan pandangan. "Kenapa hanya duduk diam disitu? Apa kau tahu sekarang sudah jam berapa?" "Jam tujuh," balas Dewi sembari melirik jam di ponselnya. Menyadari Alex yang meradang seperti menahan kesal, Dewi lantas kembali bertanya. "Memangnya saya harus apa sekarang?" "Kau nggak perlu membersihkan diri sehabis bangun atau memang seperti ini kebiasanmu tiap pagi." Dewi mengejapkan mata berulang kali sembari mencerna perkataan Alex. Disaat ia tengah berusaha memahami maksud kata-katanya, lelaki yang sedari tadi sudah memasang tampang garang seketika menunjuk pintu kamar mandi dengan mata melotot. "Cepat sana mandi! Atau kau mau saya tinggal di hotel ini sendirian." Mendengar titah tegas bernada ancaman yang dilontarkan Alex, Dewi segera bergegas turun dari ranjang dan tergopoh-gopoh menuju kamar mandi. "Saya tunggu lima belas menit. Lewat dari lima belas menit jangan salahkan saya kalau kau nanti saya tinggal," sambung Alex sebelum Dewi menutup pintu kamar mandi. Tidak sampai lebih dari lima belas menit, Dewi sudah keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, ia dibuat terkesima dengan penampilan Alex yang lain dari biasa dilihatnya. Biasanya lelaki itu selalu berpakaian formal saat di kantor. Jas dan kemeja yang tak pernah lepas di badan, seperti sebuah seragam wajibnya saja. Dan untuk pertama kalinya, Dewi melihat Alex berpakaian sangat santai. Kesan lelaki dingin nan angkuh seketika lenyap dalam balutan kaos putih yang di lapisi sweater dan celana jeans yang di kenakannya saat ini. "Astaga, kenapa dia terlihat semakin tampan memakai pakaian begitu?" Dewi seketika tertunduk saat Alex memergokinya yang diam-diam memandang kagum sang suami. Entah lelaki itu mendengar atau tidak, yang jelas Alex hanya menatapnya tanpa ekspresi sebelum melengang pergi dari kamar. "Saya tunggu dibawah. Jangan lama-lama ganti bajunya," ujar Alex sebelum menghilang dari balik pintu. Selepas cek in hotel, Alex meminta Dewi untuk mengikutinya dari belakang. Walau tak membantah sedikitpun, namun Dewi bertanya-tanya dalam hati hendak di bawa kemana kah dirinya? BERSAMBUNG... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD