10. Desakan sang adik tiri

1241 Words
Semalam saat Nabila berada di rumah Kenaan, ia tampak seperti orang bodoh. Menangis sambil bersandar di bahu Kenaan sampai tengah malam, setelah itu barulah Kenaan mengajaknya untuk pulang. Dia bilang kalau ia tidak boleh begadang karena esoknya ia akan pergi ke Bandung. Ada perasaan tidak rela, meninggalkan kota ini. Kelelahan serta rasa sakit kembali menyambutnya. Saat kaki ingin melangkah keluar, tarikan para manusia serakah selalu menariknya ke tempat awal. Nabila berdiri di depan rumah, menunggu seseorang datang untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal. Sudah hampir setengah jam, Nabila menunggu orang itu tapi tak kunjung datang juga. Jangankan kedatangannya, pesan perpisahan dari dia pun tak kunjung muncul. Kepalanya menggeleng keras, untuk apa menunggu hal yang tidak pasti? Pada kenyataannya, ia dan Kenaan tidak ada hubungan sespesial itu sampai-sampai harus datang ke sini. Ia berdecak, mengembuskan nafasnya panjang lalu masuk ke dalam mobilnya. Sebelum Nabila menjalankan mobilnya, terlebih ia terlebih dahulu mengecek Handphonenya lagi. Sama saja, tidak ada notifikasi dari dia. Geram dengan dirinya sendiri, Nabila hendak mematikan Handphonenya namun— nama Kenaan tiba-tiba muncul. Kenaan: Hati2 jangan ngebut? kalau udh sampe kabarin saya Meledak sudah hati Nabila. Tidak, perasaannya yang meledak bukan hatinya. Senyumnya mengembang dengan sangat lebar. Beberapa kata dari Kenaan sudah bisa membuatnya mesem-mesem. Nabila menoyor keningnya sendiri. Ia mencoba untuk tenang, menarik dan mengembuskan nafasnya. "Kamu kenapa lagi sih Nabila! Kamu udah gila ya?" tanya Nabila pada dirinya sendiri. *** Kenaan merebahkan tubuhnya di kasur. Beruntunglah, Kenaan diberikan dispensasi oleh Aditya. Tubuhnya seperti remuk, seluruh badannya pegang-pegal. Kasur adalah tujuan utama Kenaan meliburkan diri dari tugas-tugas kantor. Ia menutupkan matanya, berpikir jernih tentang kejadian semalam. Betapa memalukannya ia semalam. Bersikap bodoh di depan Nabila. Ia tidak menemui Nabila pagi ini karena dua alasan, pertama semua badannya sakit-sakit; kedua, ia tidak ingin melihat Nabila menampakkan wajah ilfeelnya. Entah Nabila akan beranggapan apa setelah melihatnya habis minum alkohol. Kenaan meraih Handphonenya. Mencari-cari kontak Nabila kemudian mengetikan pesan singkat untuk Nabila. Saat ini Nabila pasti sedang dalam perjalanan. Dia tidak mungkin melihat pesannya apalagi membalasnya. Tak pernah menduga, Nabila langsung membalas chatnya. Nabila? : Iya Kenaan. Makasih ya^^ anda : Jangan main Hape Bila. Kamu lagi di jalan kan? Nabila? : Aku baru mau berangkat sih. Ini mau jalan? anda : Kenapa? Ini udh lebih dari jam seharusnya? Kamu sendirian? Nabila?: Tadi nunggu Umi pulang dulu hehe. Nabila? : Iya Nan aku sendirian nih? anda : Kamu itu cewek Nabila. Lain kali kalau bepergian jauh harus didampingin sama orang! Yaudah cepet berangkat, hati-hati? kita bertemu di lain waktu Setelah mengirim pesan itu, Nabila tidak membalasnya lagi. Kenaan yakin kalau Nabila sudah berangkat. Kenaan melempar Handphonenya asal. Ia memandang langit-langit kamarnya. Tiba saja, ada seseorang mengetuk pintu kamarnya. Kenaan bangkit, menatap pintu. "Kak Ken? Kak Ken tidur ya?" tanya seseorang di balik pintu. "Gak Jingga. Masuk aja, kamarnya gak dikunci," perintah Kenaan. Pintu sedikit terbuka, menampilkan seorang gadis dengan rambut di ikat tinggi. Dia adiknya, Jingga Mentari. "Kata mama, Kak Ken pegel-pegel ya?" tanya Jingga dibalas anggukan oleh Kenaan,"jingga bisa ngurut. Kak Ken mau gak?" Kenaan tersenyum. "Kamu gak capek?" Jingga menggeleng keras. "Gak Kak! Jingga gak capek, kok." "Yaudah boleh, Jingga manis." Jingga tersenyum semringah, ia naik ke atas kasur. Kenaan membuka kaos hitam polosnya, memperlihatkan roti sobek di bagian belahan d**a dan perut Kenaan. Perempuan mana yang tidak terpesona melihat ketampanan Kenaan? Apa lagi saat melihat roti sobek milik Kenaan. Jingga menggelengkan kepalanya, tidak ingin larut dalam pesona Kenaan. Jingga mengolesi minyak urut ke punggung Kenaan, memijat-mijat sesekali memukulnya pelan. Kenaan mematahkan kepalanya ke kiri dan ke kanan sampai menimbulkan bunyi patahan. Mendengar suara itu, Jingga bergidik ngeri. "Kamu pinter juga ngurutnya," puji Kenaan. "Hahaha, iya emang Jingga suka ngurut dan mungkin udah jadi kebiasaan. Dulu ya Kak... Kak Jino dan Kak Jeno sering minta Jingga buat ngurut mereka berdua. Kadang, Kak Jino narik-narik Jingga pas Jingga lagi main sama Adnan, cuma buat ngurut," cerita Jingga bersemangat, tangannya tak berhenti menguruti punggung Kenaan. Jino dan Jeno adalah kakak kandung Jingga. Jeno sudah dipanggil oleh Tuhan sedangkan Jino, dia kabur dari rumah Jingga dulu dan sekarang— dia sudah kembali, menyatukan keluarga ini menjadi keluarga yang lengkap. Kenaan tahu semua soal cerita kelam adik tirinya. Gadis kecil yang sudah merasakan pedihnya kesepian ditinggal kakak dan ayah kandung. Kenaan sangat bersyukur sekali bisa mengenal sosok Jingga, dia baik, sopan dan penyayang. Kadang, ia belajar dari Jingga. Ia diibaratkan dengan bocah SD kelas 1 sedangkan Jingga kelas 6. Soal sopan dan santun, adiknyalah yang menang. "Kasian ya, kamu lagi enak-enak main sama temen eh malah disuru ngurut hahaha." Kenaan tertawa meledek. "Ya ... Jingga gak keberatan si tapi Kak Jino nyebelin, 'kan Jingga bisa jalan sendiri kenapa pake gotong-gotong Jingga. Haduh malu, kalau nginget," balas Jingga kikuk. "Sekarang Jino masih kasar ke kamu?" Jingga spontan menggeleng. "Enggak kok Kak, dia baik banget sama Jingga. Tau enggak Kak? Kemarin malam masa tiba-tiba ada boneka beruang gede banget di kamar Jingga, eh ternyata dari Kak Jino. Udah lama banget ... berasa beda," cerita Jingga antusias. "Suka?" "Iya! Suka banget hehehe. Maaf Kak, boleh berbalik gak?" pinta Jingga sopan. Kenaan tersenyum lalu membalikkan badannya. Ia menjulurkan sebelah tangannya ke arah Jingga untuk diurut juga. Kalau boleh jujur Jingga sangat hebat dalam mengurut, tangannya ajaib, buktinya dia bisa menghilangkan rasa pegal-pegal di badan. Jingga menguruti tangan Kenaan. Menarik dan menggoyangkan jari-jari tangan Kenaan. "Sekolah kamu gimana?" tanya Kenaan. "Baik," jawab Jingga sambil menarik jari telunjuk Kenaan sampai menimbulkan suara. "Maksud Kakak, kamu dibully lagi gak di sekolah?" Jingga menghentikan aktivitasnya, menatap wajah Kenaan. "Bully fisik sih eng—" "Fisik!" sentak Kenaan marah, memotong ucapan Jingga. "Eh, udah enggak kok! Palingan main sindir-sindiran hahaha," jelas Jingga berusaha meyakinkan Kenaan bahwa dirinya baik-baik saja di sekolah. "Lagian, ada Adnan juga." "Okay... kalau ada apa-apa lapor ke Kakak ya! Inget! Sekarang, saya ini Kakak kamu!" Jingga mengangguk cepat. "Ngomong-ngomong, gimana hubungan Kakak sama Teh Bila?" tanya Jingga tiba-tiba. Kenaan terdiam, menatap sang adik datar. "Baik, kami berteman." "Kok berteman!" sewot Jingga. "Ya ... emang kenapa kalau berteman?" "Kakak emang gak suka sama Teh Bila?" "Enggak." Jingga berdecak. "Kalau enggak berarti Kakak jahat!" "Jahat?" "Iya jahat! Gak ada perasaan tapi ngasih perhatian lebih, nanti Teh Bila ngerasa ter-PHPin," sahut Jingga sedikit ketus. "Memangnya dia suka sama Kakak?" Jingga mengetuk-ketukan jari telunjuknya di dagu, berpikir keras. "Kayaknya sih suka, dilihat dari mata Teh Bila yang penuh harapan. Kalau gak percaya, coba aja kode-kode dikit." "Kalau dia gak suka?" "Ya ... bagus dong, kan Kakak juga gak suka." Kenaan menggeleng keras, tidak menyetujui ucapan adiknya. Ia juga belum tahu, apakah ia sudah mencintai Nabila? Bukankah ini terlalu cepat baginya untuk mencintai? Mengapa ia harus mencintai Nabila secepat ini? Padahal dulu, ia tidak tertarik mengenai cinta. Tapi—baguslah, jadi ia tidak sampai mencintai adiknya sendiri. "Kakak suka!" Final Kenaan. Jingga tersenyum senang. "Cepet-cepet tembak ya, Kak. Nanti keburu diambil orang, Teh Bila famaous banget loh di kampusnya. Bye Kak Ken! Semangat!" Setelah mengatakan itu, Jingga pergi ke luar kamar Kenaan. Kenaan menggeleng-gelengkan kepalanya, merentangkan kedua tangannya lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Mendengar ucapan Jingga tadi membuatnya gelisah. Tidak heran, kalau Nabila terkenal di kampusnya. Dia cantik, pintar dan mandiri, pria mana yang tidak akan tertarik pada wanita yang nyaris sempurna seperti Nabila? Sepertinya tidak ada, hanya orang bodoh saja yang memandang rendah Nabila. Seperti tempo lalu, teman-teman Kenaan membuly Nabila. Tidak, bukan teman tapi musuh Kenaan. "Nabila Ainun Hikmah," lirih Kenaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD