Misteri Tomcat 2

1117 Words
Losmen 86 Afgan menantang Paijo, yang kemudian meminta bantuan Betta untuk masuk ke kamar Bu Ratu tanpa menimbulkan kecurigaan. Isi paket misterius milik Bu Ratu masih menjadi misteri. Sementara itu, Titah dan Abdul Latief berada di toko roti langganan mereka. Titah membeli seragam baru untuk karyawan Losmen 86. Toko Roti "Dul, sudah semua ini. Oh ya, antar saya ke mal ya, Dul. Saya mau cari seragam karyawan, sekalian beli baju," kata Titah. "Baik, Bu Titah," jawab Abdul Latief. Losmen 86 "Terus, apa yang harus kulakukan, Jo?" tanya Betta. Paijo berpikir keras. Tiba-tiba, Betta berseru, "Aha!" Paijo terkejut. "Apa, Bett?" "Aku punya ide, Jo!" "Ide apa?" "Kita bilang ke Bu Ratu kita mau menyambut kedatangan Bu Afgan di lobi. Setelah itu, kita masuk kamarnya dan ambil paket misterius itu!" Paijo ragu. "Ide bagus, Bett, tapi…" "Tapi apa, Jo?" "Kita butuh bantuan Pak Lik Purwanto." "Baiklah, aku yang bicara sama Pak Lik Purwanto," kata Betta yakin. Paijo setuju. Kamar Pak Lik Purwanto Betta menghampiri Pak Lik Purwanto. "Assalamu'alaikum, Pak Lik." "Wa'alaikumussalam, Betta. Tumben nganter kopi. Ada apa, ya?" Pak Lik Purwanto menatap Betta curiga. "Enggak kok, Pak Lik. Inisiatif saya sendiri. Eh, Pak Lik…" Betta mulai menjelaskan rencana mereka untuk menyambut Bu Afgan sebagai kedok untuk mengambil paket misterius. Pak Lik Purwanto langsung mengerti. "Jadi, kamu minta bantuan saya, ya?" Betta hanya tersenyum. "Serahkan padaku. Nanti, saya yang akan memberitahu Bu Ratu," kata Pak Lik Purwanto. "Terima kasih, Pak Lik! Saya ke lobi dulu, ya," pamit Betta. "Ya." .... "Gimana, Bett? Berhasil?" tanya Paijo. "Alhamdulillah, berhasil," jawab Betta. Renaldi masih menggaruk-garuk karena gatal. "Haduh, gatal banget!" Winda membujuknya, "Om, minum obatnya dong." "Obatnya mana?" tanya Renaldi. Dzaka menjawab, "Sebentar, Om, aku cari di kamar Om Aldi." Afgan datang membawa obat alergi. "Ini, Mas, obatnya." "Thanks, Gan," kata Renaldi. "Sama-sama," jawab Afgan. Dzaka memberikan air minum pada Renaldi. "Terima kasih, Dzaki," kata Renaldi. "Sama-sama, Om," jawab Dzaka. Afgan memanggil Pak Lik Purwanto. "Pak Lik, Pak Lik…" "Iya, Gan? Kenapa?" "Mau ke mana?" "Mau ke kamar Bu Ratu. Tamunya ibu mertuamu. Mau kasih tahu kalau sebentar lagi istrimu pulang dan kita akan menyambutnya bersama-sama. Kamu istirahat saja di kamar, Gan," jelas Pak Lik Purwanto. "Baik, Pak Lik," kata Renaldi. Kamar 010 Tok… tok… tok… Pak Lik Purwanto mengetuk pintu kamar Bu Ratu. "Nuwun sewu, Bu Ratu," sapa Pak Lik Purwanto. "Nggih, sinten nggih?" tanya Bu Ratu. "Inggih, kula Pak Lik Purwanto. Sampun wonten ing ngriki, Bu Ratu," jawab Pak Lik Purwanto. "Oh, Pak Lik Purwanto. Menapa, Pak Lik?" tanya Bu Ratu. "Kula aturi, Bu Ratu. Dinten punika, Njih Titah badhe rawuh, saha kula sedaya badhe ngaturi raos sugeng rawuh. Punapa Bu Ratu kersa mirengaken rawuhipun Njih Titah?" tanya Pak Lik Purwanto dengan sopan. "Inggih, Pak Lik. Titah wangsul dinten punika? Sumangga, kula badhe mirengaken rawuhipun," jawab Bu Ratu. "Sampun, mangga kula tindak rumiyin. Sanesipun sampun wonten ing lobi, mbok bilih ketinggalan," pamit Pak Lik Purwanto. "Inggih, Pak Lik. Mangga kula tindak," jawab Bu Ratu. .... Di dapur Losmen 86 "Kok bisa ya, Pak Aldi gatal-gatal seperti itu? Seingat saya, tidak menambahkan terasi sama sekali," tanya Cengek ragu-ragu. "Loh, Ngek, kok kamu masih di sini? Orang sudah pada kumpul di lobi. Ayo, ke sana!" pinta Mbah Sutarno. "Iya, Mbah, tapi..." Cengek masih ragu. "Apa? Itu masalah nasi goreng tadi pagi? Sudah, nanti saja dipikirkan. Kamu ikut sekarang, ayo ke lobi!" paksa Mbah Sutarno. "Iya, Mbah," kata Cengek patuh. Lobi Losmen 86 "Akhirnya sampai juga," kata Titah. Abdul Latief membukakan pintu mobil untuk Titah. "Mari, Bu Afgan." "Terima kasih," balas Titah. Titah mencium punggung tangan Mbah Sutarno, Afgan, Pak Lik Purwanto, dan Bu Ratu. "Mbah, Mas Afgan, Pak Lik, dan Tante Ratu." "Ibu!" sorak anak-anak Afgan dan Titah. "Iya, anak-anak," Titah memeluk anak-anaknya. "Dul, bawain masuk, ya," pinta Pak Lik Purwanto. "Loh, Betta dan Paijo ke mana, Pak Lik?" tanya Titah. "Mboten mangertos, nduk. Nggih, sampun mangga mlebet," jawab Pak Lik Purwanto. "Loh, Kang Mas Aldi?" tanya Titah lagi. "Di kamar, sayang. Istirahat. Tadi gatal-gatal, alerginya kambuh lagi. Tapi kata Paijo, bukan. Mas Aldi gatal-gatal karena digigit tomcat," jawab Afgan. "Haaaa... Tomcat?" tanya Titah heran. "Sembarangan kamu, Afgan! Orang losmen ini bersih, kok. Mana ada tomcat di sini!" protes Mbah Sutarno. "Kata Paijo, Pak. Bukan Afgan, Afgan hanya menjelaskannya saja," Pak Lik Purwanto menjelaskan pada Mbah Sutarno. "Sudah, Mbah, Pak Lik," keluh Titah. Abdul Latief memulai, "Maaf, Bu Afgan, ini oleh-olehnya...?" Namun, ucapannya terpotong. "Di sana saja, Dul," jawab Titah, memotong Abdul Latief. "Nah, ini untuk Tante Ratu," Titah memberikan bingkisan pada Bu Ratu. "Terima kasih, sayang. Oh ya, Tante juga punya sesuatu untuk kamu. Tunggu sebentar, ya, Tante ambilkan dulu di kamar. Tante yakin kamu pasti suka," kata Bu Ratu. "Iya, Tante. Jadi penasaran, kira-kira Tante Ratu mau kasih apa ya ke aku?" tanya Titah penasaran. Kamar 010 Paijo mencari paket milik Bu Ratu. "Duh, di mana ya paket itu?" Betta memanggil, "Jo..." "Nggih, Mas Betta. Ada apa?" tanya Paijo. Betta memberi kode pada Paijo. "Itu..." "Ha... Apa sih? Nggak ngerti aku," tanya Paijo lagi. Betta memberi kode lagi. "Tuh..." "Oh, itu..." kata Paijo. Betta berbisik, "Waduh, gajah makan kawat, Jo..." "Apaan sih? Nggak ngerti tahu," tanya Paijo lagi. Betta menjelaskan, "Gajah makan kawat sama dengan gawat, Jo." "Gawat kenapa?" tanya Paijo lagi. "Gawat, Bu Ratu mau masuk ke dalam kamar ini, Jo," jawab Betta lagi. "Apa!!" Paijo panik. Betta juga panik. "Haduh, bagaimana ini, Ayo, Jo." Paijo panik, "Ke kamar mandi, sana masuk!" Kamar 010 Paijo dan Betta buru-buru masuk ke kamar mandi, bersembunyi di balik pintu. Bu Ratu memasuki kamar, mencari-cari paketnya. Setelah beberapa saat, memastikan Bu Ratu sudah cukup lama mencari, Paijo dan Betta keluar dari kamar mandi dengan hati-hati. Lobi Losmen 86 Bu Ratu kembali ke lobi, masih tampak bingung mencari paketnya. Paijo dan Betta sudah lebih dulu berada di lobi, membawa paket tersebut. Ketegangan terlihat di wajah mereka. Semua orang di lobi penasaran dengan isi paket itu. Pak Lik Purwanto, melihat situasi tegang, berkata, "Paijo, bukalah paket itu. Kita semua penasaran." Paijo mengangguk gugup, membuka ikatan paket itu dengan hati-hati. Semua mata tertuju pada isi paket tersebut. Saat itu juga, Renaldi dan Bu Ratu masuk bersamaan. Dari dalam paket, muncul seekor kucing gembul abu-abu yang menggemaskan, menggeliat-geliat. Suasana tegang langsung berubah menjadi riang. Bu Ratu tertawa, "Tom! Kucingku!" Ia menjelaskan, "Tomcat yang dimaksud adalah Tom, kucingku ini." Titah mengelus kucing itu, "Gemas sekali!" Cengek menghampiri Renaldi, merasa bersalah. "Mas Renaldi, maafkan saya. Saya yang menambahkan terasi ke nasi goreng Anda tadi pagi." Renaldi tersenyum, "Tidak apa-apa, Cengek. Sudahlah, yang penting sekarang kita sudah tahu siapa 'tomcat' itu." Mbah Sutarno tersenyum, lega semuanya sudah terselesaikan. Suasana kembali hangat dan penuh canda tawa di lobi Losmen 86. Anak-anak Afgan dan Titah bermain-main dengan kucing gembul itu, menambah keceriaan suasana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD