Gaun mewah itu, dengan rona biru langit yang lembut, berpadu sempurna dengan warna kulit Aletta yang bagai sutra halus. Potongannya yang elegan mengalir mengikuti lekuk tubuhnya, membuat kecantikannya bersinar seperti bintang di malam tenang.
Bahkan mungkin jika Aletta berbohong bila dirinya belum memiliki anak, mungkin mereka akan mempercayai kata-katanya.
Tak heran bila sewaktu melanjutkan studinya, sekali pun Aletta pernah membawa putranya untuk mengerjakan praktik tugas mereka tetap mengejar Aletta.
Hingga Javier menjadikan dirinya sebagai tameng Aletta dengan banyaknya pria yang menggodanya, dan secara terang-terangan mengatakan bila Aletta adalah kekasihnya.
Memang awalnya ia melakukannya untuk melindungi Aletta. Namun, semakin lama ia mulai nyaman dengan semuanya dan berharap apa yang ia katakan dan mengakui kepada semua orang menjadi kenyataan.
Javier tahu mengenai latar belakang Aletta yang telah menikah dari ayahnya dan juga Henry. Namun, ia tak mempermasalahkan itu.
Toh Javier pikir semua hanya masa lalu.
Bukan hanya itu saja, hubungannya dengan Arthur pun mereka sangat dekat, ia bahkan selalu menjadi garda terdepan untuk pria kecil itu jika bahaya menghampirinya.
“Arthur Sayang, tetap di rumah Grandpa dan jangan menyulitkannya ya,” pesan Aletta kepada putranya yang sudah turun dari mobil dengan di dampingi bodyguard ayahnya yang di tugaskan untuk menjaga Arthur.
Pria kecil itu langsung menganggukan kepalanya.
Karena mereka tak memiliki waktu yang banyak pun Javier menyalakan kembali mesin mobilnya.
“Arthur, baik-baik dengan Grandpa, nanti Mommy dan Uncle kembali lagi ....”
“Baik Uncle ...,” ucap Arthur.
Javier menjalankan kembali mobilnya, meninggalkan perkarangan rumah Flavio.
Sepanjang perjalanan menuju tempat acara, Javier sesekali melirik ke arah Aletta yang terlihat sedikit gusar.
“Letta, kau kenapa?” tanya Javier, bukan hanya melirik ke arah wajah Aletta saja, ia juga melihat bagaimana wanita itu mengeratkan tangannya sendiri.
Javier menarik sudut bibirnya, ia mengerti, pasti Aletta tengah mengalami rasa gugup.
“Aku baik-baik saja hanya saja, aku merasa jantungku berdetak lebih cepat,” jawab Aletta.
“Hal yang sangat wajar Lett.. hari ini kau memiliki acara yang sangat besar, pembukaan cabang perusahaan mu, jelas ini akan membuatmu sedikit lebih gugup, tapi it’s oke semua akan berjalan dengan baik.. aku tahu kau sangat baik dalam hal apa pun,” ucap Javier sangat mempercayai Aletta, ia bahkan membawa salah satu tangannya ke atas tangan Aletta.
Namun secepat mungkin pula Aletta menarik tangannya agar tak bersentuhan lama dengan Javier.
“Ah, maafkan aku ...,” ucap Javier melupakan bila Aletta tidak menyukai skin ship, dan Javier menghargai hal tersebut.
Aletta menarik sudut bibirnya. “It’s oke Javier, tapi terimakasih berkat ucapanmu aku sedikit lebih tenang,” ucap Aletta, support dari Javier selalu berhasil membuat hatinya bisa sedikit lebih tenang.
Javier pun kembali fokus kepada jalanan yang sedang mereka lalui.
Langit hari ini sedikit lebih gelap, mungkin hujan akan turun, entahlah Aletta hanya menduganya saja.
Perjalanan yang menempuh hampir sekitar dua jam, akhirnya mereka sampai di sebuah gedung baru, di mana di sana telah terdapat beberapa wartawan yang menghadiri.
Aletta melihat ke arah Javier, bagaimana bisa ada media di sini, sedangkan Aletta tidak mengizinkan media untuk meliput.
Seakan mengerti dan paham, Javier turun lebih dulu dari mobil kemudian memberi pengarahan pada wartawan untuk tidak meliput, akhirnya para wartawan tersebut satu persatu pergi dari tempat.
Javier membuka pintu mobil bagian Aletta, lalu mempersilahkan dirinya untuk keluar.
“Aku sudah mengatakan pada mereka untuk tidak meliput jika tidak inginku tuntut, mereka semua baik dan tidak ada yang membantah setelah aku mengatakan itu.”
Aletta mengangguk, ia percaya Javier melakukannya dengan baik dalam melindunginya.
Aletta pun turun dari mobil dengan di dampingi Javier masuk ke dalam gedung baru perusahan Aletta.
Aletta ternganga saat melihat tamu acara, Rupanya yang menghadiri acara sudah cukup banyak di area belakang taman gedung miliknya yang menjadi tempat acara.
Mereka semua yang awalnya duduk, seketika langsung berdiri saat melihat Aletta datang menghampiri para tamu dan berjalan menuju ke arah atas panggung.
Aletta menarik sudut bibirnya kepada mereka semua.
Aletta benar-benar terlihat sangat bersinar di atas panggung.
Aleta pun mulai membuka acara yang sudah sangat di nanti-nantikan oleh semua orang.
Riuh tepuk tangan penonton pun tak lama terdengar memenuhi tempat acara saat pita peresmian telah terpotong dengan sempurna.
Aletta menarik napas dan membuangnya, ia sangat lega akhirnya ia berhasil berada di titik ini mengembangkan bisnisnya.
Marshell, kau lihat, aku berhasil membangun bisnis ini. ucap batin Aletta
Andai Marshell masih ada di sini mungkin sahabatnya itu akan tersenyum lebar dan memeluknya.
Kini senyuman itu yang menggantikannya adalah Javier, pria yang selalu memberikan semangat padanya sama seperti Marshell dulu.
Aletta turun dari panggung dengan di bantu oleh Javier yang dengan siap siaga berada di dekat Aletta.
Javier mengulurkan tangannya dengan senyum yang masih ia perlihatkan.
“Congrats Letta ...,” ucap Javier, ia sangat bangga dengan Aletta yang mampu bangkit dari keterpurukannya.
Aletta membalas uluran tangan Javier. “Karenamu juga aku bisa berada di titik ini ...,” ucap Aletta.
Senyum Aletta benar-benar menenangkan hati Javier, haruskah ia mengungkapkan semua isi hatinya saat ini juga? Di depan banyaknya orang?
Tapi Javier memikirkan keadaannya, bagiamana jika Aletta membencinya? Sedangkan ia tahu luka yang Aletta alami pasti sangat dalam.
Aletta menjentikkan jarinya di depan wajah Javier seketika membuatnya tersadar.
“Kau memikirkan apa?” tanya Aletta dengan nada menggodanya.
Javier langsung menggelengkan kepalanya dan melepaskan jabatan tangannya dengan Aletta.
“Lett, kalau aku memiliki perasaan—“
“Tuan Javier ....”
Javier menoleh ke sisi kanannya saat melihat rekan yang ia kenal datang menghampirinya.
“Selamat Nona Aletta, Anda memang benar-benar luar biasa ...,” ucap pria paruh baya yang kini bergabung dengan mereka berdua.
“Terimakasih ...,” ucap Aletta dengan ramah.
Bincang-bincang yang mereka berdua lakukan pun membuat Aletta merasa tidak enak jika ia harus mendengarkan percakapan mereka, Aletta pun memilih untuk pamit dan menuju tempat air minum saat ia merasa tenggorokannya sangat kering.
Tanpa Aletta sadari bila suasananya yang tadinya sedikit ramai, kini mulai hening saat hadirnya seorang pria yang mereka tahu jadwalnya sangat padat dan tidak mungkin menghadiri sebuah acara.
Pria yang menggunakan pakaian formalnya dan kacamata hitamnya itu berjalan melalui para tamu dan kini ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Aletta yang masih fokus pada minumannya.
Aletta mencoba untuk membalikkan arah tubuhnya, betapa terkejutnya ketika ia melihat sosok yang sangat tidak ia harapkan kehadirannya.
Gelas di tangan Aletta pun hampir terjatuh jika pria ini tidak segera menangkap gelas tersebut.
Kedua mata yang sudah lama tidak saling bertautan satu sama lain, di mana salah satu di antaranya menyiratkan kerinduan yang amat besar.
Aletta menelan salivanya ia mencoba berbalik kembali dan melangkah pergi tetapi pria ini segera menahannya.
Kenapa ia bisa ada disini?! ucap batin Aletta yang merasa bingung dengan kehadiran Matthew disini.
Benar, pria itu adalah Matthew, untuk pertama kalinya setelah lima tahun berpisah Matthew dapat menyentuh tangan lembut istrinya yang sangat ia rindukan.
Tentu ia dapat mencapai ke tempat ini tidaklah mudah, karena Matthew berusaha mati-matian mencari apa pun yang berkaitan dengan istrinya selama hampir satu bulan setelah ia bertemu dengan Aletta terakhir kali di acara pesta itu.
Dan ketika ia berhasil dan tahu mengenai sebuah perusahaan yang dimiliki oleh wanita cantik bernama Mirriam tengah membuka siapa pun yang ingin bergabung dengan perusahaan miliknya.
Matthew jelas memanfaatkan hal tersebut, ia langsung membuat surat kerjasama kepada perusahaan Almeré Luxe milik Aletta dan yang membuat Matthew lebih bahagia adalah ketika surat kerjasama miliknya dsetujui oleh Aletta.
Tentu Matthew sudah memikirkan dengan matang, bahkan ia membuat perusahaan baru agar Aletta tidak menolaknya lebih dulu sebelum ia bertindak.
Classy Galore Corp merupakan perusahaan baru yang Matthew dirikan, bergerak di bidang interior.
Dan dugaannya tidak salah, tidak menyangkut pautkan Theme On Group dan Aletta langsung menyetujuinya.
Bukan kah itu artinya dirinya bisa mendapatkan peluang untuk lebih dekat menjangkau Aletta seperti saat ini ia mendapatkan kesempatan dan menjadi tamu istimewa di sini.
Namun apa yang Matthew harapkan salah, saat Aletta kini memilih untuk menghempaskan tangannya dengan memberikan tatapan dingin padanya, itu benar-benar menusuk ulu hati Matthew.
Aletta mencoba lagi untuk pergi dan Matthew kembali menyentuh dan menahan lengannya.
“Lepaskan tanganmu!” ucap Aletta dengan penekanan kemudian mencoba untuk menghempaskan tangan Matthew lagi. Namun, kali ini tidak bisa karena Matthew tidak membiarkan hal itu terjadi.
“Letta, akhirnya aku menemukanmu,” ucap Matthew dengan sangat melirih.
“Lima tahun aku mencarimu dan Tuhan akhirnya mendengarkan doaku ....”
“Lepaskan!” ucap Aletta pelan, ia benar-benar tidak ingin berhadapan lagi dengan Matthew.
“Letta—“
Tangan lain pun akhirnya berhasil melepaskan tangan Aletta dari genggaman Matthew.
“Kau mau apa?!” desis Javier tajam saat ia melihat Aletta tampak tertekan karena seorang pria.
Jelas tatapan Matthew amat tidak suka dengan pria yang ia ketahui datang bersama dengan Aletta di acara malam itu sebagai pasangan dari istrinya!
Tangan Matthew terkepal, ia sangat marah pria itu menyentuh istrinya seintens itu.
“Kau!”
Aletta menarik Javier untuk menjauhi Matthew, karena ia tahu Matthew merupakan pria nekat, apa pun pasti akan ia lakukan jika hal itu tidak ia sukai.
Aletta memberikan isyarat kepada Javier untuk tidak meladeni Matthew dan pria itu paham dengan yang Aletta maksud lalu membawa Aletta untuk pergi dari hadapan Matthew.
Lagi-lagi Matthew masih berusaha untuk menahan Aletta, dengan cekatan pula Javier segera menghempas tangan Matthew dan juga tatapan tajamnya yang ia berikan kepada Matthew.
Matthew mengepalkan tangannya, ia sangat marah dengan pria bernama Javier itu! Tetapi, Matthew juga tidak bisa untuk meluapkan amarahnya disini, ia tahu ini adalah acara milik istrinya, tidak mungkin ia menghancurkannya karena emosinya.
Terlebih kini dirinya menjadi sorotan para tamu.
Tatapan yang benar-benar membuatnya ingin mencongkel mata mereka semuanya!
"Jika bukan aku, maka tak ada yang bisa memilikimu, Aletta," ucap batin Matthew, penuh tekad dan obsesi.