Laynata saat ini sedang berada di sebuah klub malam bersama teman-temannya. Memang tidak ada yang mentraktir kali ini, hanya saja mereka menemani Lay yang sedang ingin menghabiskan waktunya selain di apartemennya.
"Lo yang ngajak kita ngumpul tapi lo juga yang diem," tegur Yeol ke Laynata.
"Terus gue harus gimana?" tanya Lay yang membuat Yeol terdiam. Ia bingung bagaimana meresponnya.
"Gue ada stok cewek, lo mau pake nggak?" Shan menawarkan. Laynata menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Hal itu membuat teman-teman yang lain memandang heran ke arahnya.
"Tumben," cibir Luthfian.
"Tobat lo?" tanya Krisna sedikit sangsi.
Laynata menggelengkan kepalanya. "Lagi males aja."
"Seorang playboy kelas berat kayak lo males ditawarin cewek? Ada apa dengan dunia?" tanya Kaili tidak percaya.
"Jatuh cinta ya lo?" tebak Luthfian.
"Sok tahu," timpal Laynata.
"Cuma ada dua hal yang bikin playboy kayak lo tobat. Pertama kena penyakit kelamin, kedua jatuh cinta. So, lo yang mana?" tanya Krisna to the point.
"Gue nggak kena penyakit kelamin! Enak aja! Selama ini gue selalu pilih-pilih ya, gue main aman juga. Gue juga rutin check up tiap tiga bulan," jawab Laynata.
"Jadi jatuh cinta nih?" tebak Yeol.
"Enggak," Laynata berkelit.
"Coba gue tebak, asisten lo?" ucap Shan membuat yang lain mengarahkan atensi sepenuhnya ke Laynata.
"Gue bilang enggak! lo kan tau gue ngggak suka komitmen."
"Lo nggak suka komitmen bukan berarti lo nggak bisa jatuh cinta." Kaili menasihati.
"Nggak suka komitmen itu prinsip, sedangkan jatuh cinta pilihan hati," timpal Luthfian.
"Gue nggak jatuh cinta." Laynata tetap pada pendiriannya.
"Kalau gitu lo tidurin aja dia biar sama kayak cewek-cewek lainnya." Krisna memberi usul.
"Lo gila? Dia asisten gue!" tolak Laynata mentah-mentah. Jawaban Laynata membuat teman-temannya yang lain mengulum senyum.
"Lo selama ini nggak pernah peduli dengan status kan? Yang penting berjenis kelamin cewek, bersih dan bisa dipake. Dia keliatannya udah masuk kriteria. Kenapa nggak lo tidurin kayak cewek lainnya?" tanya Kaili mencoba memancing, dan Laynata hanya diam dan tidak bisa menjawab.
"Oke kalau emang lo nggak mau, gimana kalau gue aja?" tanya Shan.
"Jangan!" Laynata spontan melarang.
Respon Laynata yang begitu cepat membuat Luthfian memicingkan mata curiga dan melihat ke arah teman-temannya yang lain. Mendapat respon senyuman dari yang lainnya, ia pun bertanya, "kenapa lo ngelarang?"
"Karena menurut gue dia nggak layak untuk diperlakukan kayak gitu. Dia baik, bukan cewek sembarangan yang bisa lo pake terus buang gitu aja," jawab Laynata.
"Lo jatuh cinta itu namanya Laynata Yisakha!" Yeol menyimpulkan.
"Sisi primitif laki-laki yang lo keluarkan membuat gue semakin yakin kalau lo jatuh cinta." Kini Krisna mengeluarkan pendapatnya.
"Sisi primitif?" tanya Laynata bingung.
"Posesif, nggak mau ngeliat dia sama yang lain," timpal Luthfian.
Laynata kemudian mengingat kejadian di lobby tadi. Melihat asistennya pergi bersama pria lain membuatnya merasa begitu kesal, bahkan ia sempat mengikuti mereka. Namun ketika kewarasannya datang di tengah jalan, Laynata langsung merubah arah mobilnya dan memilih untuk tidak mengikuti mereka lagi.
"Diem tandanya iya," kata Kaili.
"Enggak." Laynata masih tetap dengan pendiriannya.
"Biar aja biar dia terus ngelak, ntar kalau asistennya jadi sama orang lain atau ngundurin diri karena mau nikah baru kalang kabut ntar," ucap Luthfian mengompori.
"Kontraknya cuma bisa gue yang mutusin." Laynata berkata seolah itu adalah kartu kemenangannya.
Yang lain pun tertawa mendengar perkataan Laynata. "Enak di lo dong bisa seenaknya?" ungkap Shan.
"Kemarin dia juga sempet mau ngundurin diri gara-gara gosip nggak enak di kantor," terang Laynata.
"Terus gimana?" tanya Yeol.
"Gue robek surat pengunduran dirinya. Kerjanya cukup bagus, rapi dan juga gercep."
"Bakal di-keep terus gitu? Meskipun dia nikah nanti?" tanya Krisna.
"Liat nanti," jawab Laynata. Kini wajahnya terlihat berpikir.
"Biasanya poin itu lo gunakan untuk pecat asisten lo ya? Sekarang buat nge-keep," komentar Kaili.
"Kontrak aja jadi asisten seumur idup lo sekalian," usul Shan.
"Emang bisa?" tanya Laynata yang langsung melihat ke arah Shan dengan pandangan penasaran.
"Tanda tangannya di buku nikah," timpal Shan yang membuat yang lainnya tertawa, sementara Laynata hanya mendengus.
"Udah gue bilang gue nggak suka komitmen," Laynata kembali mengelak.
"Lo nggak suka sekarang, tapi liat nanti kalau dia udah komitmen sama orang lain. Lo masih bisa ngomong kayak gini apa enggak," timpal Krisna. Laynata kemudian terdiam memikirkan perkataan Krisna barusan.
"Gue sudah cukup mapan dan minat berkomitmen dengan asisten lo," ucap Shan dengan cengirannya.
"Lo lakuin itu bakal gue obrak-abrik kantor lo ya!" ancam Laynata dengan kesal.
"See? Lo cemburu!" kata mereka kompak.