Dinda sebenarnya agak malas pulang. Rumah terasa sunyi, memaksanya menelan lagi rasa kesepian dan kesedihan yang selalu datang bersama kerinduan pada mendiang kedua orang tuanya. Dengan motor matik, Dinda memaksakan diri melaju perlahan.
"Aku seperti sendirian di dunia ini. Menikah pun bukan dengan lelaki yang aku cintai," batin Dinda getir.
Tiba-tiba, bayangan Geger melintas. Andai saja ia menikah dengan Geger, ia yakin akan mendapatkan keluarga yang bahagia, apalagi ia sangat menyayangi Vina meski Vina bukan anak kandungnya.
Tin... Tin...
Dinda tersentak. Dia tidak sadar lampu merah sudah berganti hijau karena terlalu hanyut dalam lamunan.
"Astagfirullah, lindungi hamba dari tipu daya dan pikiran yang bisa merusak iman hamba, Ya Rabb," gumam Dinda, beristighfar seraya menarik napas.
Namun, belum sempat bergerak, tiba-tiba sebuah dorongan keras menghantam motornya dari belakang. Seketika ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Brugh...
"Astagfirullah!"
Rasa sakit langsung menjalar di kaki dan sisi kiri kepalanya. Orang-orang sekitar mulai berdatangan menolong, sementara si penabrak justru kabur tanpa rasa tanggung jawab.
"Mbak, kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang.
"Kaki... sakit," jawab Dinda, suaranya tercekat dan tak mampu berdiri.
Kepala Dinda mulai pusing. Dia bisa mendengar keributan orang-orang di sekitarnya, ada yang berteriak mengejar pelaku tabrak lari, ada pula yang mencoba menghentikan mobil untuk membawanya ke rumah sakit.
Samar-samar, di tengah pandangan yang kabur, Dinda melihat sosok Arjun baru saja turun dari mobil. Sesaat setelah itu, kegelapan menyelimutinya.
Arjun yang sedang terburu-buru pulang, merasa kesal dengan keributan di jalan. Kekesalannya memuncak ketika warga menghentikan mobilnya secara paksa.
"Mas, tolong, ada yang kecelakaan! Kalau menunggu ambulans kelamaan," pinta seseorang memohon.
Arjun turun dari mobil, bukan karena rasa kemanusiaan, melainkan karena khawatir akan diamuk massa jika menolak. Seketika matanya terbelalak kaget. Perempuan yang tergeletak itu adalah Dinda.
"Ayo, Pak, saya antarkan dia ke rumah sakit. Kebetulan saya mengenalnya," ucap Arjun cepat.
Dibantu beberapa orang, Arjun memasukkan Dinda ke dalam mobilnya.
"Mas, maaf saya tidak bisa ikut. Ada urusan penting," ucap orang yang tadi menolong.
Arjun hanya mengangguk dan masuk ke mobil.
"Sialan, menyusahkan saja dia," gumam Arjun kesal.
Arjun segera melajukan mobilnya. Urusan motor Dinda, dia sama sekali tidak peduli dan menyerahkannya pada polisi.
Sepanjang perjalanan, Arjun terus menggerutu. Dia masih tidak terima dijodohkan dengan Dinda, yang menurutnya sangat tidak cocok dengan selera dan gaya hidupnya.
"Huh, bisa-bisanya Romo menjodohkan aku dengan perempuan seperti ini! Dia pakai cadar pasti karena jelek. Bahkan kalaupun tidak jelek, hanya memalukan saja! Aku suka perempuan yang modis dan seksi," gumam Arjun.
Dalam bayangannya, Dinda pasti memiliki hidung pesek, kulit belang, atau bibir tebal. Segala pikiran buruk berputar di kepalanya, membuat Arjun bergidik ngeri.
"Atau jangan-jangan seluruh tubuhnya penuh panu?" gumam Arjun lagi, penuh prasangka.
Arjun berpikir, gadis cantik pasti akan memamerkan keindahannya untuk menarik perhatian lelaki. Walaupun berhijab, setidaknya tetap berhias seperti gadis pada umumnya. Namun, Dinda benar-benar tertutup rapat, hanya menyisakan kedua mata yang ditutupi kacamata. Kakinya berkaos kaki, tangannya berkaos tangan. Penampilan Dinda yang "terlalu" tertutup membuatnya sama sekali tidak punya niat untuk melihat wajah istrinya itu.
Setelah sampai di rumah sakit, Arjun meninggalkannya begitu saja.
"Hanya kecelakaan ringan, pasti bisa pulang sendiri nanti," batin Arjun tak acuh.
Sore ini dia punya janji penting dengan teman-teman alumni yang sama-sama kuliah di luar negeri. Dia harus pulang, mandi, dan berganti pakaian terbaik agar tidak dipandang remeh. Setelah itu, dia akan menjemput kekasihnya, Sinar, untuk dibawa ke salon agar terlihat semakin memukau.
Demi Sinar, Arjun memang menghabiskan banyak uang, mulai dari perawatan kuku, rambut, dan wajah yang mahal, hingga pakaian dan tas mewah. Namun, Arjun tidak pernah menyesal, sebab hasilnya selalu memuaskan. Setiap kali ada pertemuan, dia selalu dipuji karena memiliki pasangan yang begitu cantik dan seksi.
Sesampainya di rumah, Arjun langsung bergegas mandi. Namun, baru saja selesai berpakaian, kedua orang tuanya, Farel dan Amih Bella, langsung menggedor pintu kamar.
"Arjun! Ayo, kita segera ke rumah sakit. Dinda kecelakaan!" ucap Farel panik.
"Mo, kalian berangkat duluan. Nanti aku menyusul," jawab Arjun beralasan.
"Romo tidak percaya padamu. Batalkan acaramu dan ikut bersama kami!" bentak Farel tegas.
Arjun membuka pintu kamar dengan wajah marah.
"Romo, aku ini ada acara penting! Lagian Dinda hanya luka ringan, tadi yang mengantar dia ke rumah sakit juga aku!" sela Arjun cemberut.
"Astagfirullah! Jadi kamu sudah tahu duluan, tapi malah tidak memberitahu kami? Nak, dia itu calon istrimu! Kalau bukan kita yang menjaga, lalu siapa lagi? Dia itu sudah yatim piatu," sergah Farel, hilang kesabaran.
"Dia itu sudah bukan anak kecil lagi, Romo. Belum juga menjadi istri, kenapa aku harus repot-repot?" balas Arjun tak mau kalah.
"Kamu kira jika dulu Romo tidak dibantu oleh Romonya Dinda, kamu masih bisa hidup enak? Bisa sekolah sampai tinggi di luar negeri? Bisa memberikan kamu modal sampai kamu sesukses ini?" sindir Farel telak.
Arjun terdiam. Jika sudah membawa-bawa masa lalu itu, dirinya tidak bisa berkutik.
"Baiklah, aku antar ke sana, tapi aku tidak bisa lama-lama karena memang ada acara," jawab Arjun mengalah.
Arjun tahu, setelah menikah, kedua orang tuanya akan selalu membela Dinda. Oleh karena itu, dia berencana tinggal mandiri saja. Jika hanya berdua dengan Dinda, dia bisa bebas membawa Sinar pulang. Toh Dinda tampaknya tidak akan keberatan jika ia memiliki kekasih lain.
"Dinda, jika kamu masih kekeh menikah denganku, kira-kira kamu sanggup bertahan berapa lama?" gumam Arjun, menyeringai.
Arjun marah sekali. Tadi pagi dia sudah ke rumah sakit bersama kedua orang tuanya, dan siang ini dipaksa lagi hanya untuk mengantarkan buah-buahan. Padahal, dia sudah berjanji makan siang bersama kekasihnya. Tetapi, walau hati menggerutu, dia tidak berani melawan perintah Farel.
Sesampainya di rumah sakit, Arjun langsung masuk tanpa mengucapkan salam. Kebetulan, di sana sudah ada Geger dan Vina.
"Mas Arjun, ada apa?" tanya Dinda heran.
"Ini. Aku disuruh Amih membawakan buah," jawab Arjun jutek.
Arjun menatap Geger sekilas tanpa ada keramahan sedikit pun.
"Tante Dinda, Om ini siapa?" tanya Vina penasaran.
"Dia..."
Dinda bingung harus menjawab apa. Berbohong pada Vina juga tidak baik.
"Dia adalah calon suami Tante Dinda, Sayang," sela Geger.
"Wah, calon suami Tante Dinda ganteng! Tapi, masih ganteng Papa, sih," balas Vina polos.
Dinda tertawa kecil, seolah membenarkan ucapan Vina. Sementara Arjun merasa kesal dan tidak terima dengan ucapan anak kecil itu. Sebenarnya soal wajah masih tampan Arjun, hanya saja Geger nampak lebih matang dan berwibawa.
"Dinda, motor kamu masih berada di bengkel. Dan maaf soal kecelakaan itu..." Geger tampak ragu, menatap Vina dengan pandangan kasihan.
"Ada apa, Pak Geger?" tanya Dinda penasaran.
"Ehm... Aku sempat melihat hasil rekaman CCTV. Dan aku sekilas bisa melihat jika yang menabrak kamu adalah selingkuhan Windi," jawab Geger apa adanya.
"Astagfirullah! Kenapa bisa bertindak sejauh ini?" pekik Dinda kaget.
"Aku juga tidak tahu. Tapi saat aku bertanya pada Windi, dia tidak mau mengaku sudah bersekongkol. Dia bersikeras sudah lama tidak pernah berhubungan lagi dengan selingkuhannya itu," jawab Geger.
"Kalau motif Mbak Windi marah padaku sudah jelas, sebab mengira aku mendekatimu. Tetapi kalau dengan mantan selingkuhannya itu, aku benar-benar tidak kenal," balas Dinda.
"Tapi sekarang dia masih dalam buronan. Semoga segera ditangkap, karena itu murni tindakan kriminal. Setelah diselidiki, mobil itu memang sudah membuntuti kamu dari awal kamu keluar dari rumahku," terang Geger.
Arjun bosan mendengar pembicaraan yang sama sekali bukan urusannya, apalagi dia diabaikan.
"Dinda, aku pulang dulu," pamit Arjun cuek.
"Iya," jawab Dinda, yang sudah tidak heran lagi dengan sikap Arjun.
Arjun segera pergi menuju ke salah satu restoran tempat dia janjian dengan Sinar. Tetapi, kali ini kekasihnya itu tampak begitu ketakutan dan cemas.
"Sinar, kenapa kamu gelisah?" tanya Arjun.
"Tolong aku, Arjun. Aku tidak mau dipenjara," bisik Sinar.
"Memangnya kenapa?" tanya Arjun semakin penasaran.
"Hust... Jangan keras-keras! Jadi begini, aku menyuruh abang aku untuk menakuti calon istrimu. Tapi, aku tidak menyangka malah ditabrak dari belakang. Dan sekarang dia jadi buronan," bisik Sinar.
"Apa?! Kenapa kamu begitu?! Walau aku tidak cinta dia, tapi bukan berarti kamu bisa berbuat jahat sampai melukainya!" tegas Arjun.
"Sumpah! Aku tidak ingin menyakiti Dinda. Hanya menakutinya saja agar tidak mau menikah denganmu. Tapi Abang aku sudah terlalu kesal padanya. Aku takut... Aku berbuat seperti itu karena tidak ingin kehilangan kamu," rengek Sinar sambil bergelayut manja di lengan Arjun.
Semarah-marahnya Arjun, dia akan selalu luluh dengan bujuk rayu Sinar yang cantik dan menggoda.
"Tadi aku dengar jika yang menabrak Dinda adalah mantan selingkuhan Windi. Apa mungkin yang mereka maksud adalah Abangnya Sinar? Aku percaya Sinar tidak akan berbuat senekat itu. Pasti ada motif lain yang tersembunyi," batin Arjun.
"Terus, sekarang Abang kamu di mana?" tanya Arjun, berusaha tetap tenang.
"Dia keluar kota. Karena tidak bisa kerja untuk sementara, dia minta uang padaku. Sedangkan kamu tahu, gaji aku sedikit," rengek Sinar.
"Berikan nomor rekeningnya padaku, nanti akan aku transfer," jawab Arjun.
"Ah... Terima kasih, kamu memang kekasih terbaik," puji Sinar, mengecup pipi kanan Arjun.
Saat itu, Arjun tidak sadar jika ada salah satu tetangganya yang juga tengah makan di sana. Ketika Sinar mengecup pipinya, momen itu secara kebetulan direkam dan langsung diberikan pada Farel, karena mereka memang saling mengenal.