Bertahanlah

541 Words
Anin bergegas turun dan menyerahkan helm dan lembaran uang pada pengemudi ojek yang bahkan belum sempat mematikan mesin motornya ,” Terima kasih.” Serunya sambil berlari ke UGD. “ Selamat siang, pasien atas nama Tania … yang hamil.” “ Mari. Keluarganya ?” “ Iya.” Diikutinya langkah cepat petugas berpakaian putih itu. “ Dok, keluarganya sudah datang.” “ Selamat siang.” Dokter cantik itu mengangguk ,” Kami sudah mempersiapkan operasi, bayinya harus dilahirkan sekarang agar tidak membahayakan keduanya.” “ Lakukan yang terbaik, dok.” Anindhita menatap sosok yang terbaring lemah ,” Kak ….” Diusapnya tangan Tania lembut. “ Anin …. “ Gadis itu mendekatkan diri ,” Ya, kak …” Tania terlihat mengatur nafas ,” Selamatkan anakku … berjanjilah kamu akan merawatnya.” “ Sst …. Dokter akan melakukan yang terbaik buat kalian berdua. Berjuanglah demi anakmu kak … pikirkan bahwa setelah dia lahir, kita tidak lagi berdua, kita akan bertiga.” Tania tersenyum lemah, mencoba mengangguk ketika perawat membawanya ke ruang operasi. “ Berdoalah, kami akan melakukan yang terbaik.” dr Ayu menepuk bahu gadis yang selama ini rajin menemani Tania memeriksakan kandungannya. Anin mengangguk dan terduduk di bangku sambil mencoba menenangkan diri. #Flashback Hujan yang mengguyur dari siang tadi tak menunjukkan tanda tanda berhenti. Anin bergelung di sofa tua sambil memangku laptopnya, menyelesaikan beberapa pekerjaan ditemani segelas besar minuman berempah. Mengerutkan kening mendengar suara benda jatuh dan ketukan lemah di pintu. “ Kak ……” terkejut melihat Tania berdiri dengan tubuh basah kuyub sementara tasnya teronggok mengenaskan didekatnya ,” Ada apa ? Ah, masuklah dulu.” Tania hanya menurut saat Anin memapahnya ke kamar mandi dan menyiapkan mengatur air hangat untuknya. “ Mandilah dulu.” Anin mengulurkan handuk dan pakaian ganti sebelum membawa masuk tas yang teronggok di teras lalu menyiapkan segelas minuman hangat ,” Kak ….” Diketuknya pintu kamar mandi dan mendudukkan Tania di sofa ,” Minumlah. Aku keringkan dulu rambutmu.” Tania duduk dengan tatapan kosong, meneguk minumannya perlahan. Dan saat rasa hangat mengaliri d**a dan perutnya, tangisnya kembali pecah dipelukan Anin. Anin tidak bertanya, hanya membiarkan preemption lembut itu menangis, sampai akhirnya bersandar lelah sambil terisak. “ Aku hamil, Nin …. Dan dia memberikan uang untuk menggugurkannya. Harusnya aku tahu, dia hanya punya uang … tidak lebih dari itu.” “ Bos mu ? Yang kakak kelasmu itu ?” Tania mengangguk. Anin menarik nafas panjang, merasakan dingin yang membuat dadanya ngilu ,” Istirahatlah dulu. Kakak sudah makan ?” “ Aku tidur dulu.” Tania menyeret langkahnya ke kamar ,” Pinjam kamarmu.” Anin mengikutinya, menebarkan selimut dan beranjak pergi setelah Tania tertidur masih dengan isaknya. Rasanya baru beberapa bulan ia melepaskan Tania sambil tersenyum bahagia mengatakan akan meninggalkan kota kecil ini untuk meraih kesempatan yang lebih besar yang ditawarkan kakak kelasnya. “ Aku akan mengenalkannya padamu nanti, aku akan mengajaknya pulang.” Senyum itu mengembang begitu indah sampai Anin tak tega untuk merusaknya dengan menanyakan detail lelaki yang hanya diketahuinya bernama Andro, tidak lebih dari sekedar nama. Flashback# Ditatapnya pintu yang tertutup dan lampu diatas pintu yang menunjukkan operasi masih berlangsung … bertahanlah kak, bertahanlah untuk anakmu. Kamu sudah menjalani sejauh ini dengan tidak mudah, anakmu membutuhkanmu …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD