"ras kita Sudah melangkah sejauh ini. kita akan bersama mengatasinya"
"apa?? ini bukan kemauanku" laras mulai meninggikan suaranya lalu memungut bajunya lalu ke kamar mandi
dimas tetap menunggu laras sampai selesai. setelah laras keluar.
"tapi semua sudah terjadi, kita harus bersama" dimas mendekati laras
"bagaimana kalau papiku menolakmu lalu melaporkanmu?" laras mulai geram
"aku terima, karena memang salahku tapi apa tidak ada lagi rasa cintamu padaku?"
"sudah sirna sejak tadi malam. janji akan menyelesaikan baik baik ternyata aku mendapat penghinaan" laras menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
ingin rasanya dimas menghapus air matanya tapi sepertinya laras sudah sangat membencinya
"maafkan aku laras, maafkan aku..." dimas berdiri di hadapan laras dan hendak memeluknya
"habis stok maafku" laras melewati dimas dan menyenggol bahu dimas sehingga dimas mundur 1 langkah karena tak seimbang berdiri, laras mengambil tasnya, menuju pintu dan menghempasnya
aku akan mendatangi orang tuamu, aku berjanji.....
.....
Laras meninggalkan apartemen dino saat cahaya matahari menampakkan dirinya. perasaan laras sangat kacau. apa yang harus dikatakannya pada papinya. saat laras sampai di rumah, bik ijah membukakan pintu rumah "bik, papi mami di mana?" "mereka tadi pagi keluar kota ada dinas luar, nyonya ikut organisasi dari kantor tuan"
"tuan pesan kalau non laras sampai di rumah, hubungi mereka"
berpikir panjang kata kata yang akan diucapkan laras untuk meyakinkan orangtuanya
ting....ting...
"halo laras, kenapa semalaman ponselmu tidak aktif sayang"
"ponsel laras habis baterai dan di tempat santi tidak ada charger yang sama dengan ponsel cinta pi"
"kau baik baik saja nak, kenapa suaramu seperti habis menangis?" tanya rian
"laras tidur larut malam pi jadi sekarang mengantuk" laras berbohong
'di tempat santi kamu tak ke temuan sama dimaskan?"
"enggak pi, laras akan patuh sama papi"
"baguslah nak, kami percaya padamu"
air mata laras menglir begitu derasnya. maafkan laras papi
laras ke kamarnya dan membersihkan diri,, selesai mandi duduk di depan meja rias, tampak tanda yang banyak di leher dan sekitar d**a nya. dia semakin takut, semoga sore nanti sudah hilang karena takut akan ketahuan maminya. duh Gusti, tolong hambaMu....
selesai semua, dia merebahkan tubuhnya ke ranjang 'hai ras, kok kemarin enggak masuk kuliah?"
tiba tiba santi sudah ada di depan pintu kamarku, masuk dan merebahkan dirinya di samping laras
"aku lembur" laras berbohong
"kemarin tante yuni telepon aku menanya kamu, aku bilang kita enggak ketemu"
"apa????" mata laras terbelalak dan alis terangkat ke atas menoleh pada santi, mampus aku, pasti mami sudah tahu kalau aku berbohong
"kenapa ras, apa ada yang tidak aku ketahui?"
"aku bilang sama papiku kalau aku semalam bersamamu"
"astaga kenapa kau tak memberitahuku agar kita mempunyai jawaban yang sama semalam"
"san, aku ketemuan sama dimas"
"gila kau ras, kan kau sudah berjanji sama orang tuamu enggak akan ketemu dimas lagi terus"
"aku diperkosa" air mata laras seketika itu tumpah
"APA?????" santi membelalak matanya tak percaya
laras mulai bercerita sampai kejadian itu terjadi, laras terus menangis dan santi memeluknya
"ras, kita harus lapor polisi. dimas dan dino harus bertanggung jawab. dino sudah menjebakmu"
"nama baik papiku...."
santi mengerti dengan ucapan laras, dia diam dan terus memeluk laras agar dia lebih tenang
......
"mampus gue kalo sampai laras melaporkan gue ke polisi" dino mondar-mandir di apartemennya
gue akan bertanggung jawab din, loe enggak usah khawatir" dimas berujar
"diam loe.... nyesel gue bantuin loe. kalo sampai gue disidang terus papinya yang jadi hakimnya bisa bisa gue dipenjara seumur hidup'
"dan loe mungkin dihukum modar" sambil menunjuk dimas
"kita harus cari cara gimana supaya ketemu laras"
"ah... gue enggak mau lagi ikut campur, ini saja gue sudah stres"
"loe sudah terseret jadi mau enggak mau loe harus bantuin gue"
"brings*k loe" maki dino
"kita harus ketemu santi karena dia sahabat laras"
dimas mengambil kunci mobil dan diikuti dino dengan raut kesal
.....
sampai di depan rumah ternyata santi sepertinya baru tiba dari bepergian
"san...." dimas menyapa. santi memicingkan matanya
"berani bener loe datang kemari, mau gue antar ke kantor polisi?"
"laras sudah cerita?" dimas mulai mendekat
"loe dan loe sama b******k, kalian akan mendapat surat panggilan"
"san, tolong gue, gue cuma mempertemukan mereka enggak ikut ambil dalam rencana dimas" dino mulai ketakutan
"gue enggak mau tahu yang pasti semua ada buktinya"
santi hendak masuk lalu di halang dimas. "ada masa lalu orang tua kami sehingga kami tak direstui"
santi memandang dimas tak percaya
'percaya sama gue' dimas menyakinkan santi
"aku akan menyelesaikannya masa lalu mereka. jadi tolong bantu aku" dimas terlihat memohon
"gue beri waktu loe 15 menit buat menjelaskkan nya" santi membuka pintu dan menyuruh mereka duduk di ruang tamu
"awalnya ibu gue setuju laras menjadi kekasihku..... ibu sangat peduli padanya. lalu setiap ibu telepon gue tanya kabar pasti di akhir perkataannya kirim salam buat laras. begitu juga kalo mami laras ketemu gue di rumahnya. jadi kami ingin melanjutkan ke pertunangan setelah laras selesai kuliah baru menikah, itulah rencana kami sampai suatu saat orang tua kami tak sengaja ketemu d mal, ibu gue dan papinya laras menolak hubungan kami"
"terus kenapa harus ngerusak anak orang"
"gue pikir kalo anak gue ada d rahim laras, ibu gue akan stuju"
"bagaimana kalo tetap enggak setuju?"
"enggak mungkin san karena ibu gue pada dasarnya baik dan enggak tegaan"
"baiklah... terus loe yakin orang tua laras enggak laporin loe?"
dimas terdiam,,,,, "makanya gue minta bantuin loe buat bujuk laras menerima gue"
"kenapa loe enggak hadapi papinya laras, bertanggung jawab atas apa yang loe buat"
"apa loe gila san? gue bakal terseret" dino sudah putus asa
"siapa yang berani jumpai papinya laras, jangan kan buat ngomong, melihat matanya saja gue sudah gemetaran" dino sepertinya mulai gemetar
"itu jalan terakhir san, kalau laras tetap enggak mau ketemu gue. gue akan jumpai papinya laras"
"pliss dim jangan nanti loe langsung dipenjara, dan gue akan dicari" dino mulai mondar-mandir di ruang tamu santi
'gue takut ketemu papinya laras dim" akhirnya dino menangis
"ah gue enggak mau ikut dalam rencana gila loe" santi menolak
"tapi cuma loe yang bisa bantu gue"
santi tetap menolak karena santi lebih memihak pada keputusan laras
///
sudah 2 minggu laras tak mau berjumpa dengan dimas, mulai dari tempat kerja dan kampus laras, dimas tetap tak berhasil untuk membujuk laras bicara dengannya
tanpa terduga saat laras di kantin, dimas segera menghampiri laras, ingin beranjak tapi dimas mencengkram tangan laras sampai laras merasa kesakitan
"aku mau bertanggung jawab"
"aku jijik setiap kali melihatmu, enyah dari hadapanku" laras tetap memberontak
"kalo kau tak mau bicara, aku akan jumpai orang tuamu"
"silakan saja kalau kau mampu berhadapan dengan papi" laras mengancam.
dimas pergi meninggalkan laras. berani berbuat, berani bertanggungjawab
////
"apa kabar nak?" suara lusi dari seberang
"baik bu" jawab dimas
"kapan bisa main ke rumah, ibu dan adik adikmu sudah kangen"
"minggu depan ya bu karena ini ada pelatihan 5 hari dari kantor"
"baiklah, ibu tunggu ya" sambungan telepon diakhiri
setelah seminggu...
"dimas, duduk di sini ibu sudah kangen sama dimas" dimas diajak ibu makan malam di rumah mereka. setelah Hendra, lusi, dimas dan kedua adiknya duduk di ruang keluarga, ibu memberi kode agar kedua adiknya masuk kamar mereka
"dim, ibu ada rencana menjodohkanmu dengan anaknya teman ibu" dimas menoleh pada lusi
"plis cuma kenalan saja dulu, kalau jodoh kan bisa langsung menikah" lusi tersenyum
"dimas menolak bu" jawaban dimas tegas
"apa karena perempuan itu?" ucap lusi dengan nada geram
"bu, tolonglah mengerti dimas, dimas sangat mencintai laras"
"ingat dimas, sampai ibu mati enggak bakal ibu merestui hubungan kalian"
"ibu, jaga bicaramu" ayah marah dengan ucapan ibu
lusi pergi meninggalkan mereka dan sampai di kamar.... bang, aku enggak mau kau diambil yuni, lusi menangis dan tak berapa lama lusipun tertidur
///
dimas melangkahkan kakinya di depan rumah mewah dan membunyikan lonceng pintu rumah tersebut
wanita paruh baya membuka pintu "ooo... den dimas, mau ketemu neng laras?"
"bukan bik, mau ketemu papi mami laras ada bik?"
"ada den" wanita itu mempersilakan dimas masuk
lalu memanggil tuan dan nyonyanya
"loh nak dimas kok datang malam-malam begini, laras sudah tidur. ada perlu apa ya?" yuni mendatangi dimas walau tanpa rian suaminya
"tante, saya mencintai laras dan laras pun demikian" dimas menepis ketakutannya
"nak, kalian masih muda, mungkin laras bukan jodoh dimas"
"tante..... dimas minta maaf, dimas enggak mau berpisah dari laras" getaran suara dimas terdengar oleh yuni. sebenarnya yuni sangat mengerti perasaan dimas dan laras hanya saja semua tak dapat diselesaikan dengan mudah.
"coba kenalan dengan gadis gadis lain mungkin orang tua mu lebih setuju dari pada ;laras. laras juga akan kami jodohkan dengan kenalan tante"
dimas mengumpulkan kekuatannya, menarik nafas panjang
"dimas sudah memperkosa laras tan" yuni terkejut sambil memegang dadanya dan tubuhnya lemas seperti jeli. ternyata rian sudah ada di belakang yuni dan mendengar apa yang dikatakan dimas
wajah rian menggelap, tangan dikepal, rahang mengeras
"di-dimas kemari mau bertanggung jawab tante, om"
seketika yuni menoleh ke belakang, "rian...." air mata yuni menetes dan semakin deras
"SEBAIKNYA BAWA ORANG TUAMU MENGHADAP SAYA, KALAU SAMPAI DALAM MINGGU INI TAK ADA BERITA DARI KELUARGAMU, SAYA AKAN AMBIL LANGKAH HUKUM" rian membuka pintu ruang tamu mempersilakan dimas untuk pulang
"saya minta maaf om, tante.... tolong jangan pisahkan kami" dimas berdiri, mencium punggung tangan yuni lalu melangkah ke rian tapi rian enggan memberi tangannya
"saya permisi om" pintu dihempas rian melangkah
"LARASSS!!!!!!!!..... " teriak rian membuat seisi rumah terbangun