Ruang ICU itu tak pernah benar-benar sepi. Bahkan ketika malam turun dan lampu-lampu rumah sakit mulai meredup, suara mesin monitor yang berdetak pelan tetap menjadi satu-satunya tanda bahwa Jesslyn masih bertahan. Christian duduk di kursi yang sama, di sisi ranjang, tak beranjak sejak hari pertama ia diizinkan masuk. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari seminggu yang lalu. Rambutnya mulai tumbuh acak, mata sembab, dan garis lelah di pipinya kian dalam. Tapi setiap kali ia menatap wajah Jesslyn yang tenang di bawah selimut putih itu, sesuatu di dadanya kembali berdenyut — bukan harapan, tapi ketakutan kehilangan yang begitu nyata. “Gue nggak tahu harus berapa kali minta maaf,” suaranya parau, nyaris serak. Tangan Christian menggenggam jemari Jesslyn yang dingin, mencoba menghangatkanny

