19. Bernyanyi

1505 Words
Untuk mencari keempat data penculik Agatha, membutuhkan waktu yang cukup lama. Mereka berada di negara Belanda dan dapat dipastikan para penculik berada di Inggris. Genap tiga hari setelah Jhony memberikan perintah kepada asistennya, hari ini mereka sudah membawa empat penculik melalui transportasi udara ke Belanda. Mereka telah terkurung di penjara dengan rantai yang mencegah pergerakan mereka. Mulutnya ditutup dengan kain. Ruangan itu tak memiliki satupun penerangan. Mereka berada di kegelapan, hal itu menimbulkan rasa takut dalam diri mereka. Pikiran mereka selalu bertanya-tanya tentang tujuan mereka diculik. Mereka para pria miskin yang tak memiliki harta banyak atau kelebihan apapun yang akan dimanfaatkan. Mereka ingin memberontak, hanya saja rantai yang mengurung tubuh mereka memiliki jeruji tajam yang siap mengoyak kulit mereka. Di lain tempat, Agatha dengan Jhony sedang melakukan sarapan bersama. Tak ada Irene, wanita itu pergi ke Inggris pagi tadi untuk bertemu dengan keluarganya. Katanya hanya satu Minggu saja, setelah itu dia akan kembali ke Belanda lagi. "Nanti, kita akan bertemu dengan para penculik mu." Wajah Agatha berubah cerah. Dia sangat tak sabar bertemu dengan penculiknya. Ingin rasanya Agatha juga memaksa mereka memakan narkoba juga, agar tahu rasanya sakau sangat menyiksa. "Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk mengetes darah mereka. Hasilnya positif, mereka adalah pecandu narkoba." Jhony mengambil surat yang berada di sampingnya. Dia memberikan surat itu kepada Agatha. Terlihat logo rumah sakit di kepala surat. Agatha langsung melihat isinya. Dia tak mengeri sedikitpun isi surat itu, di melihat langsung ke bagian bawahnya, di mana kesimpulan di sambil. Mulutnya ternganga membaca kesimpulannya. "Jadi, mereka juga pengguna narkoba." Agatha rasanya ingin melompat kesenangan. "Aku tahu isi otakmu, Agatha." "Mereka juga harus menderita seperti aku. Aku harus menahan sakau, mereka juga harus seperti itu." Agatha berucap dengan sungguh-sungguh. Dia mengingat masa lalunya, di mana dirinya harus menahan sakau yang membuatnya harus menderita dalam jangka waktu lama. "Baiklah. Akan ku turuti ucapanmu. Lagian juga, aku tak mungkin memberikan mereka narkoba. Hanya membuang uang saja." "Lalu, kau taruh di mana mereka?" Setahu Agatha, tak ada ruangan kosong yabg ia temukan di dalam Mansion ini. Semuanya berisi, tak mungkin mereka dikurung dalam gudang, karena gudang juga sudah penuh berisi dengan barang- barang. "Aku memiliki ruang bawah tanah. Di sana, mereka terkurung." Seperti mafia. Ya, hanya kata itu yang terlintas dalam pikiran Agatha saat ini. Dari awal dia bertemu dengan Jhony, pria itu seperti orang yang berkuasa di dunia ini. Namanya tak terkenal, meski dia pengusaha kaya. "Apakah kau bekerja di dunia mafia?" Jhony melihat Agatha sejenak, menatapnya dalam dengan tatapan tak dapat diartikan. Hal itu, membuat keyakinan Agatha bertambah yakin bahwa Jhony adalah orang mafia. Tawa besar pecah dari Jhony, dahi Agatha berkerut, tak mengerti, mengapa Jhony tertawa! Bahkan tadi Jhony masih menunjukkan wajah seriusnya. "Ada apa?" "Aku tak mungkin bekerja di dunia mafia. Kalau aku bekerja jadi mafia juga, pasti keluargaku akan curiga. Jika keluargaku tahu bahwa aku adalah mafia, maka mereka akan mengamuk dan mengeluarkan aku dari keluarga." Agatha mengangguk. Dia juga mengetahui bagaimana keluarga Jhony. Kakak Jhony memiliki pekerjaan sebagai tentara negara, ayahnya memiliki gelar jenderal dan ibunya adalah pengusaha. "Aku kira kau mafia. Lalu, mengapa kau memiliki anak buah yang banyak?" "Hanya jaga-jaga saja agar tak ada yang berani menyusup ke Mansion ku." "Benarkah?" Agatha masih saja curiga. Masalahnya, bodyguard Jhony memiliki tubuh dan penampilan yang sangat mengerikan. "Benar sayang." Agatha terbatuk-batuk mendengar ucapan Jhony. "Menjijikan Jhony." "Kau masih sama saja, Agatha." Jhony terkekeh pelan. Agatha memang sangat sulit untuk di dekatinya, wanita itu mengetahui seluk-beluk kehidupan Jhony dahulu, jadi mereka sangat dekat. "Kau bertambah cantik." "Jhony, jangan menggodaku." Agatha memalingkan wajahnya, enggan menatap wajah Jhony. Wajahnya memerah, entah karena alasan apa. Dia merasa malu, malu? Bahkan sudah ribuan kali Agatha mendapatkan pujian dari publik, tapi tak pernah sekalipun dia merasakan hal ini. "Aku juga sudah mendengar suaramu. Kau memiliki suara yang sangat indah. Aku tak menyangka bahwa kau memiliki kelebihan juga." Wajah Agatha berubah jadi datar. "Jadi maksudmu, aku tak memiliki keunggulan sebelumnya?" Jhony mengangguk. "Benar. Kau dulu hanya bisa mengomel saja. Tak memiliki keahlian apapun." "Kau lupa, kalau aku pernah juara bernyanyi! Get, kau dulu bahkan membawa Baner namaku yang berukuran besar." "Dulu suaramu sangat jelek." "Kalau, suaraku jelek, pasti aku tak akan menang." "Mungkin saja. Ada kesalahan dalam menilai pada juri." Oke, sifat usil Jhony datang lagi. Dia tak akan mengalah dan selalu menang dalam debat. Agatha hanya mengangguk. "Terserah mu. Berbicara padamu membuatku emosi saja." Agatha melanjutkan makannya dengan diam. Tak peduli dengan segala macam hinaan yang Jhony layangkan, yang terpenting dia kenyang dulu. Lagian juga, untuk berdebat, Agatha harus membutuhkan energi yang banyak. "Cepat juga kau makan." Agatha menggeleng, padahal dari tadi Jhony terus berbicara tanpa henti, lalu kapan dia memasukkan makanan dalam mulutnya? "Terlalu, lama makan akan membuang waktu saja." Jhony beranjak, memegang perutnya yang mengerat. "Aku sangat kenyang." "Aku doakan, semoga kau gemuk lagi seperti dulu." Jhony menarik tangan Agatha lalu berkata, "mengapa? Oh, kau pasti tak sabar melihat wajah umurku dulukan. Aku akui memang dulu wajahku sangat imut dan manis. Tidak sepertimu." Agatha mendelik kesal. "Justru dulu kau begitu menjijikan." "Kau tak lupa, kalau dulu kau selalu mencubit pipiku, lalu berkata ...." Jhony menarik bahu Agatha, hingga mereka saling berhadapan. Tangannya mencubit keras pipi Agatha. "Astaga, Jhony kau begitu imut sekali." Cubitan Jhony sangat kuat, membuat pipi Agatha memerah dalam waktu sekejap. Agatha memukul tangan Jhony dengan kuatnya. Dia mengusap pipinya yang sangat sakit. "Bisakah kau tak menggunakan kekuatan penuh saat mencubit pipiku. Lihat nih, sudah merah sekali pastinya." "Kau bertambah cantik. Seperti Tante-tante saat ini." "Sialan." Agatha langsung mempercepat langkahnya. Dia ingin menghindari Jhony dulu. Pria itu sangat menyebalkan. Kesabarannya akan habis jika terus berhadapan dengannya. "Hey, mengapa kau ke situ? Kita akan ke ruang bawah tanah untuk menemui penculik mu." Agatha menghentikan langkahnya. Dia bahkan hampir lupa dengan nasib penculiknya. Karena Jhony yang terus menggodanya saat ini. Dia berbalik, berjalan menuju Jhony. "Makanya sangat menyebalkan. Ayo, kita ke tempat mereka." Untuk ke ruang bawah tanah, mereka harus memakai lift khusus yang telah disediakan. Lift itu hanya bisa dipakai oleh Jhony dan dua puluh bodyguard yang terpilih. Lift terbuka. Lorong yang sangat panjang harus mereka lewati. Lorong itu memiliki banyak guci dan beberapa obor sebagai penerangan. Suasananya sangat menyeramkan, seperti di gua tua yang ada di dalam film. Ditambah lukisan abstrak dengan d******i warna merah dan hitam, menambah kesan menyeramkan. "Mengapa kau membuat ruangan ini menyeramkan, sih." "Aku suka saja. Ruangan ini memang di desain agar terlihat seperti zaman dulu. Aku hanya menambahkan lukisan yang seperti coretan artefak saja agar bisa menambah kesannya." "Lorongnya bahkan sangat panjang." Agatha mengeratkan pegangannya pada Jhony. "Kita akan sampai." Satu kali belikan, mereka dapat melihat empat pria dengan pakaian hitam, penutup kepala berupa kain yang diikat dengan lambang tengkorak sebagai pusatnya. Mereka memasuki ruangan. Ruangan ini lebih terang karena memakai penerangan berupa lampu yang banyak. Ruangan ini juga desiannya lebih modern. "Berada di mana, mereka?" "Ruangan abu-abu, tuan." Ruangan abu-abu? Mengapa namanya begitu aneh. Jika Agatha lihat, maka, setiap pintu yang ada di ruangan ini memiliki warna yang berbeda. Ada hijau, biru, abu-abu, merah dan kuning. Sepertinya setiap ruangan di bedakan dengan warna. Ruangan abu-abu ini tak memiliki perabotan yang banyak. Hanya ada satu meja panjang, tiga kursi dan satu lemari besar. Di tengah ruangan, ada empat pria yang dikurung dengan rantai jeruji. Mata mereka tertutup, entah karena sedang tidur atau pingsan. "Bangunkan mereka!" Salah satu bodyguard mengangguk. Dia mengambil sebuah ember yang penuh akan air dingin. Seluruh isi ember itu di guyur ke tubuh mereka berempat, hingga mereka bangun karena kedinginan. Air es? Pantas saja mereka begitu tersiksa. "Jangan terlalu kejam, Jhony." Agatha berbisik. Baru sampai sini saja, Agatha sudah tak kuat melihat Bodyguard itu tersiksa. Padahal masih permulaan. "Ini tak kejam, Agatha." Dari wajah mereka saja, pasti semua orang tahu bahwa mereka sangat menderita. Jeruji besinya menimbulkan luka hingga saat ketemu air menyebabkan sakit yang amat sangat. Keempat penculik itu bangun. Melihat Agatha dengan mata yang terbelalak. Mereka pasti masih mengenali Agatha sebagai salah satu korban mereka, Agatha yakin itu. Tangan Agatha di tarik menuju kursi. "Kau duduk saja. Aku akan mengatasi mereka." Agatha mengangguk. Jhony menghampiri keempat pelaku penculikan. Wajah Jhony yang menyeramkan membuat mereka takut. "Kalian adalah pelaku penculikan terhadap Agatha Lewis, seorang penyanyi besar yang saat ini berada di puncak karirnya, 'kan?" "Tidak." "Satu kali berbohong, dua cambukan. Satu kali tak menjawab pertanyaan ku, satu cambukan." Bodyguard yang sudah siap dengan cambukan nya maju, dia melayangkan dua cambuk untuk setiap orang. "Siapa yang menyuruh kalian?" Untuk sementara tak ada jawaban. "Dua menit. Hanya dua menit kalian diberikan waktu untuk menjawab, lebih dari itu, satu cambuk." Setelah dua menit berlalu, tak ada salah satu dari mereka yang menjawab. Tanpa perlu diberi perintah, bodyguard langsung mencambuk mereka, satu kali. Satu cambukan ini lebih kuat, sehingga mereka merasakan sakit yang amat sangat. "Satu kali lagi, saya tanya. Siapa yang menyuruh kalian?" Tak ada tanda-tanda mereka untuk menjawab membuat Jhony kesal. "Baiklah. Cambuk mereka dan potong seluruh kuku nya." Mereka langsung terkejut. Memotong kuku sampai habis akan menciptakan rasa sakit yang lebih parah. "Baiklah kami, akan menjawab." "Grace yang menyuruh kami."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD