Malam itu Bella merasa lapar, sebenarnya dia terlalu sungkan untuk mencari makanan di rumah Laura, tapi karena perutnya meronta-ronta dan tidurnya juga jadi tidak bisa tenang, maka Bella memutuskan untuk keluar dari kamar, niatnya hanya untuk menghirup udara segar.
Bella merapatkan sweater yang dia pakai di tubuhnya.
"Nggak tidur Bel?" tanya seseorang.
Bella kemudian menoleh karena ternyata itu adalah daddy Laura yang sedang merokok di dekat kolam renang, Bella agak menyesali karena memilih mencari udara segar di dekat kolam renang.
"Ah iya om, nggak bisa tidur," jawab Bella berbohong, karena kalau dia mengatakan dirinya lapar agak memalukan juga.
Bella kemudian memandang ke arah kolam renang, dia harus memandang daddy Laura sebagai seorang ayah walaupun tampilannya kelihatan sangat muda karena memang begutu seharusnya.
"Kamu temenan sama Laura udah lama?" Tidak menyangka juga Bella kalau daddy dari temannya ini akan mengajaknya berbicara.
Bella mulai menganggukkan kepalanya. "Sejak masuk SMA," jawab Bella.
"Duduk sini Bel, ini ada kopi juga." Daddy Laura menawarkan.
"Nama saya Joe, santai saja," ujar Joe akhirnya memperkenalkan diri, semakin membuat Bella tidak mengerti, ini apa? Kenapa mereka harus berkenalan secara personal begini?
Bella menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil posisi duduk di bangku kosong sebelah Joe, akhirnya dia tahu nama daddy Laura ini, om Joe.
"Maaf ya kalau mungkin selama ini Laura kekanakan, mungkin salah saya juga memanjakannya, tapi dia hanya punya saya di hidupnya," jelas Joe, entahlah karena Bella adalah yang paling dekat dengan Laura sekarang ini, dia jadi merasa harus menjelaskan pada Laura.
Bella mengangguk-anggukkan kepalanya, karena memang pertemanannya dengan Laura sudah sampai tahap saling memahami, jadi ya Bella kemudian sudah tidak masalah dengan sikap Laura yang mungkin terasa kekanakan.
"Mommy-nya udah punya kehidupan baru sekarang dan dia memutuskan untuk nggak mengganggu mommy-nya," jelas Joe.
Bella hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, ya karena dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Om sendiri? Emang nggak berniat punya kehidupan baru?" tanya Bella, ya karena memang kalau Laura tidak mau mengganggu kehidupan mamanya, bagaimana dengan kehidupan daddy-nya?
Joe terkekeh, usianya bahkan masih belum memasuki empat puluh tahun, tentu kalau niatan ada, tapi dia masih tidak tahu kapan merealisasikannya.
"Mungkin, seseorang yang cocok dengan Laura, karena saya mencari ibu untuk anak saya sekarang."
Bella mengangguk-anggukkan kepalanya, baguslah kalau punya pemikiran seperti itu karena Laura juga berhak punya seseorang yang membuatnya bahagia.
"Kamu kalau butuh bantuan jangan sungkan untuk meminta bantuan karena meseki sedikit mungkin saya bisa bantu," ujar Joe, teman anaknya adalah seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya juga.
Sekali lagi Bella hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, ya apalagi coba? Semoga saja dia tidak memanfaatkan kebaikan keluarga Laura.
***
Adiknya kembali masuk rumah sakit dan hari ini juga Bella harus pulang ke rumah, ada banyak hal yang tiba-tiba menjadi tanggung jawabnya saat semua orang harus menunggu adiknya di rumah sakit.
Jadi, pagi-pagi sekali Bella langsung bersiap untuk pulang dari rumah Laura.
"Emang harus sekarang?" tanya Laura.
"Iya, soalnya semua orang udah di rumah sakit," ujar Bella, dia baru selesai mandi dan buru-buru memakai bajunya, Bella ikut panik sama seperti keluarganya yang panik juga.
Bella kemudian keluar dari dalam rumah dan malah bertemu dengan Joe, dia memutuskan hanya sedikit menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah karena sungguh sebenarnya sama sekali tidak ada waktu untuk berbincang atau berpamitan.
"Mau ke mana?" tanya Joe pada anaknya sendiri karena ternyata Laura mengikuti di belakang Bella.
"Mau ke rumah sakit Bella, karena adiknya tiba-tiba masuk rumah sakit," jawab Laura.
Joe tampak terdiam sejenak.
"Mau diantar?" tanyanya, entah kenapa dia malah menawarkan untuk mengantar, padahal selama ini juga apa pun urusan Laura dia serahkan pada supir untuk mengantarnya ke manapun.
"Mau naik ojek aja, biar nggak macet."
Joe kemudian menatap punggung Bella yang kian menjauh, karena ternyata kepanikan seseorang juga berpengaruh padanya.
Bella benar-benar sudah tidak melihat ke belakang lagi.
"Adiknya sakit udah parah ya Lau?" tanya Joe, mungkin karena perasaannya sebagai seorang ayah, Joe jadi agak prihatin dengan sosok Bella, seolah bisa merasakan bagaimana jika Laura yang berada di posisinya.
"Lumayan, udah habis-habisan juga keluarganya." Laura menjelaskan, karena dia juga prihatin dengan apa yang terjadi di dalam hidup Bella selama ini. Niatnya mengantar Bella sampai depan, tapi ternyata daddy-nya mengajaknya untuk berbicara.
***
Bella sampai di rumah dan ternyata mamanya sedang berada di rumah,dalam kondisi menangis-nangis, satu hal yang selalu Bella benci adalah dia tidak bisa berbuat banyak saat berada di situasi yang sebenarnya sangat dibutuhkan.
Bella memilih untuk tidak bertanya, dia kemudian mendekat dan mendekap tubuh mamanya, karena kalau dia bertanya maka kemungkinan besarnya mereka hanya akan berujung menangis bersama. Tidak ada hari yang baik-baik saja selepas semua ini terjadi, mereka harus berjuang setiap hari, bahkan merelakan apa-apa yang sebenarnya masih ingin mereka genggam.
Tapi, meski pada akhirnya dia memutuskan untuk memeluk mamanya, nyatanya Bella tetap ikut menangis, karena mungkin memang ikatan batin mereka sangat kuat jadi ya kesedihan itu menular.
Bella berusaha menahan dirinya sebenarnya, karena kalau dia ikut sedih, siapa yang akan menguatkan orang-orang yang ada di sekitarnya ini, di situasi seperti ini selalu Bella harus mengesampingkan dirinya sendiri, harus berusaha baik-baik saja karena orang lain rasanya lebih butuh untuk menangis.
Tapi, ternyata benar-benar tidak bisa ditahan, air mata sialannya meluruh begitu saja, membuatnya perlahan sesenggukan dan membuat bahunya bergetar hebat. Meski sedang menangis, tetap saja Bella memeluk tubuh mamanya yang juga menangis.
"Mama udah nggak tau lagi harus gimana," ujar mamanya, membuat hati Bella hancur berantakan, karena dia juga tidak bisa berbuat banyak, dia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk meringankan beban mamanya.
Entah bentuk menenangkan seperti apa lagi yang bisa Bella berikan, dia hanya seorang remaja, bahkan apa yang terjadi di luar kendalinya, dia tidak pernah juga menginginkan kehidupan yang seperti ini.
"Maafin Bella, maafin aku," ucap Bella pada akhirnya, memang rasa bersalah ini hanya dia yang merasakan, hanya dia yang bisa mengerti dan tidak akan pernah bisa dia jelaskan.
"Maafin aku.”
Untuk banyak hal yang sebenarnya sama sekali bukan kesalahannya, jika ada waktu dan kesempatan Bella akan terus meminta maaf, hanya karena dia berdiri di sana tanpa bisa melakukan apa pun dan hanya bisa ikut menangis, itu saja sudah menjadi sebuah rasa bersalah untuknya, dia merasa bersalah pada semua orang yang ada di dalam hidupnya.
***