Penipu Ulung!

1001 Words
Sarapan kali ini adalah buatan Raniya. Dikenal punya bakat memasak, Hanin pun memujinya. "Dulu, waktu masih di Bandung, kata bi Fadlun dan bi Ratih kamu memang pintar memasak. Aku juga sering membeli kue buatan ibu kamu," puji Hanin. Ya, harus diakui bakat tersembunyi Raniya selain menggodà pria beristri. Kedatangan Raniya ke kota padahal awalnya ingin berubah wujud. Menghindari konflik di kampung halaman. "Terima kasih ya, Ran. Berkat kamu kita sarapan seenak ini." Yang dipuji hanya senyum-senyum sendiri. Ia melihat reaksi Galang, pria yang sudah berani mengibarkan hasrat ke arahnya. "Ah ya, nanti Mas ke kantor?" Galang yang sedang mengunyah tersentak karena mendengar namanya terpanggil. "Iya, kenapa?" "Oh, kalau begitu aku ke kamar dulu. Lupa mempersiapkan pakaian dan perlengkapanmu." Hanin sudah bangkit dari kursi, meninggalkan suaminya mengobrol dengan teman lama. Soalnya adalah wanita yang dia biarkan begitu saja adalah musang berbulu domba. Sama-sama menikmati sarapan, Raniya dan Galang tidak terlihat dekat. Tapi ada sesuatu yang ingin Galang katakan, entahlah harus bagaimana memulainya? "Tidak menungguku bicara?" ucap Galang. Raniya melihat ke arah pria itu, memangku dagu, menatap pria yang kini menjadi pusat perhatiannya. Tampan juga. Apalagi permainannya boleh juga. "Aku harus ke kantor." "Iya, tadi istrimu sudah bilang." Raniya sengaja membiarkan rambutnya terkuncir, memamerkan leher jenjangnya. Masih berbekas sedikit kecupan Galang, ingin menjadikan itu kenangan. "Katanya kamu demam? Kok ke kantor, harusnya mbak Hanin itu membiarkan suaminya di rumah saja bukan?" Dari mana Raniya bisa tahu kalau Galang tak enak badan? Ya, karena kekhilafannya sendiri, Galang merasa tak nyaman dan serba salah sekarang. Galang terdiam karena Hanin sudah kembali. Ia belum sempat menjawab pertanyaan Raniya. "Hanin, tapi sepertinya aku nggak jadi ke kantor. Aku sudah memberitahu Gerdy dan Johan. Mereka akan ke sini nanti." Ah, syukurlah. Rencananya hari ini Hanin ingin mengajak Raniya jalan-jalan. Setidaknya ia harus mengajak Raniya membeli beberapa setelan yang sesuai ukuran wanita itu. *** Setelah kedatangan Johan dan yang lainnya, barulah Hanin lega bisa keluar rumah. Sekali lagi Raniya melemparkan kedipan mata usai masuk ke mobil. Sedangkan Galang hanya diam saja. Baru saja mobil istrinya pergi, Johan dan kawan-kawan mengejeknya. "Wah, menang banyak nih lu, Lang. Punya bini cakep, temennya juga aduhai. Resep apa sih, bolehlah siapa tadi namanya, ajak check in kayaknya gak bakalan nolak," bangga Johan. Dari seluruh pegawai kantor, Johan memang mendewakan hidup bebas. Berulang kali ganti pasangan adalah moto hidupnya. "Gila, bukankah terakhir kali lu punya hubungan sama aktris wanita yang lagi naik daun?" Johan mengangkat bahu, tak tahu lagi mau dibawa ke mana hubungannya dengan aktris yang hanya mempersulit keadaannya. Begitu merepotkan. Entahlah, cepat atau lambat Johan yakin hubungannya akan segera berakhir. Menurutnya Raniya jauh lebih pintar diajak bersenang-senang. Membahas tentang Raniya, entah mengapa sedikit tersinggung. Ia juga tak ingin melihat para pria busuk di depannya menggunakan jasa Raniya demi kesenangan ranjang mereka. *** Sambil melihat-lihat apa yang akan Raniya beli, ia bahkan ragu untuk menyentuh salah satu gaun yang Hanin rekomendasikan karena harganya selangit. "Gak usah Mbak, ini saja sudah lebih dari cukup. Aku merasa sungkan." "Tak apa. Aku senang bisa jalan-jalan begini. Biasanya mas Galang hanya bisa libur saat pekerjaan di kantor tidak menumpuk." Senang pasti rasanya bisa hidup berdua hanya dengan pria kaya, mapan dan tampan. Sungguh, Raniya semakin ingin memiliki Galang seutuhnya. Karena hidup yang begitu rumit, Raniya ingin sekali bisa berdampingan dengan orang yang juga menginginkannya. Bukan hanya ingin tidur dengannya saja. "Kamu gak ingin menikah, Ran?" "Entahlah, tapi aku ingin benar-benar fokus dengan kerja saja, Mbak. Ada ibu yang harus kuperjuangkan." Akhirnya mereka sudah selesai berbelanja. Bahkan berbaik hati mengganti ponsel lama Raniya dengan model ponsel terkini. Beruntung sekali Raniya bisa mendapatkan kemewahan juga mencicipi suami temannya sendiri. "Dulu Mbak Hanin bertemu dengan pak Galang di mana?" Sambil melihat-lihat postingan di instagràm, ia menoleh ke arah Raniya. "Di tempat kerja, kita pacaran lumayan lama. Dan memutuskan untuk menikah." Ah, cinta yang terdengar mulus sekali. Tapi Raniya heran, kenapa Galang masih bisa tergoda dengan dirinya. Meskipun hanya sentuhan-sentuhan dasar tetap saja bermakna bagi keduanya. "Kamu lagi dekat sama siapa sekarang, Ran?" Entahlah. Banyak pria yang mampir di hidupnya, ada yang lama menetap demi kepuasan batin lalu pergi begitu saja. Harus diakui, sekarang Raniya sedang berusaha mendekati suami temannya. Entah nanti apa hasilnya. *** Malam-malam begini, saat Hanin sudah terlelap, suaminya yang memang kegerahan hanya bisa memandang langit dari jendelanya. Gila! Pikirannya makin kacau karena melihat Raniya akhir-akhir ini makin bertingkah. Apalagi wanita itu makin mahir memikat hati. Mulai dari penampilannya, wajahnya yang mulai memakai bedak dan make up tipis. "Hanin, Mas ambil minum dulu ya?" Hanin masih meringkuk dengan selimut, tak peduli mau ke mana suaminya. Meskipun Bandung dan Surabaya memiliki suhu udara yang berbeda tapi tetap saja jam segini pasti tetap dingin. Galang benar-benar ke dapur. Membuka kulkas dan mengambil air untuk rasa hausnya. Baru saja menikmati beberapa teguk, sentuhan tangan membuatnya tersentak kaget. "Malam sekali terjaganya, Mas? Atau kamu gak bisa tidur? Menungguku?" Galang tidak menoleh, ia hanya berdiam diri dan membalas genggaman tangan Raniya. Dari aroma dan bentuk tangan saja ia tahu kalau Hanin dan Raniya sudah berbeda. "Aku memang terbangun, kamu sendiri?" "Aku memang selalu jalan-jalan jam segini." "Dengan pakaian seperti ini?" Ya, Raniya tidak terbiasa dengan Surabaya yang panas baginya. Ia hanya mengenakan dress tipis khusus untuk tidur saja dan mungkin saja untuk menipu Galang. Sekali lagi gerak-geriknya mulai beraksi. Raniya dengan sengaja menampilkan paha, melingkas bahunya dan memamerkan apa saja agar Galang tergoda. "Mau pindah ke situ, Mas?" tawarnya. Melirik ke arah sofa yang terlihat empuk untuk melakukan sesuatu yang lebih panjang dan membangkitkan gelora. Galang ragu-ragu. Ia takut Hanin terbangun dan mencarinya. Meskipun tidak ada siapa-siapa dan jarang sekali istrinya bangun tiba-tiba tapi tetap saja Galang harus waspada. Lebih gilanya lagi, Raniya sudah mendahului dan duduk. Menunggu Galang mengikutinya. "Atau di kamar saja?" ulangnya. Gila! Raniya memang senekat itu demi kepuasan hasratnya. Melupakan betapa baiknya Hanin Sahara dan juga nama persahabatannya. Galang pun sama gilanya, ia mulai mendekati Raniya, mengecup bibir yang sejak tadi merekah sempurna. Mereka pun mulai saling memadu kasih layaknya kekasih. Mereka benar-benar lupa akan janji terhadap hidup masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD