Bab 4. Kekacauan

781 Words
Monre yang melihat wajah Cahaya sungguh terkejut, dia tidak tahu harus berkata apa. Monre melihat tangan besarnya yang tadi sudah meninju wajah Cahaya. “Apa yang aku lakukan?” Monre merutuki dirinya sendiri kemudian berlari menyusul Kevin dan Cahaya. Monre melihat Kevin yang sibuk menyadarkan Cahaya. Dia memberikan napas buatan pada Cahaya, entah kenapa saat melihat itu d**a Monre bergetar kesal. Kevin dengan bantuan dua penjaga UKS membuka baju seragam Cahaya, dengan cepat Monre membalikkan tubuhnya, menutup semua jendela dan pintu. d**a Monre naik turun. “Ada apa denganku?” Monre memegang letak jantungnya, mereka yang ada di dalam sana sungguh sibuk berdetak bak genderang perang. “Permisi...” Ucap salah seorang siswi yang ingin masuk ke ruang UKS. “Maaf sedang di perbaiki...” Jawab Monre. Siswi itu mengerutkan keningnya. Dia sangat tahu Monre berbohong. Tapi melihat wajah Monre saat ini, gadis itu benar-benar tidak ingin mencari masalah. Di dalam ruang UKS, Kevin membersihkan hidung dan bibir Cahaya. Dia mencoba membangunkan Aca dari pingsannya. Tidak lama dari itu, Cahaya pun terbangun. “Aw... sakit sekali...” dia meringis. “Gak pa-pa Cahaya, ada aku di sini.” Kevin memeluk Cahaya. “Apa kalian bisa keluar?” Tanya Kevin pada kedua penjaga UKS yang sebenarnya kakak kelas Kevin dan Cahaya. Kedua siswi itu mengangguk da keluar dari ruangan. Monre yang berjaga di pintu terkejut saat kedua wanita itu keluar. “Apa Cahaya sudah sadar?” Tanya Monre pelan karena tidak ingin mengganggu Cahaya. Kedua siswi itu mengangguk dan jujur saja itu membuat Monre sangat senang. Monre masih berjaga di depan pintu karena dia tidak ingin ada yang masuk. Sedangkan di dalam Cahaya yang masih dalam pelukan Kevin menarik napasnya dalam. “Sial sekali sekolah pertamaku, Kevin.” “Tidak apa-apa, aku janji ini tidak akan terulang lagi...” Ucap Kevin lembut. “Apa itu??” Tanya Cahaya saat melihat sebuah gigi taring yang tergeletak di tisu. “I...tu...” “Itu apa??” Tanya Cahaya yang kini sudah tidak sabar. Monre yang mendengar Cahaya berteriak langsung masuk ke dalam ruang UKS. ‘Bugh’ sebuah bantal tepat mengenai wajah Monre. “Ini semua gara-gara kamu. Gigi taring simbol kecantikanku...” Teriak Cahaya histeris. Ya, Cahaya terpapar film Vampir yang bergenre romantis. Sehingga dia merasa gigi taringnya adalah simbol kecantikan. Tapi karena Monre kini kecantikan Cahaya telah sirna. Monre masih berdiri menatap Cahaya dengan wajah bingung. “Maafkan aku...” ucap Monre tiba-tiba. “Aku tidak akan memaafkan kamu...” teriak Cahaya. “ Kevin, gigi taringku....” Cahaya menangis tersedu dalam pelukan Kevin. Kevin memeluk Cahaya, rasanya dia ingin tertawa tapi dia tidak ingin mendengar tangisan Cahaya lebih dari ini. Sedari dulu Kevin sangat ingin mencabut gigi taring Cahaya, entah kenapa gadisnya ini selalu tertawa dengan menunjukan gigi taringnya saat berfoto. Itu benar-benar membuat Cahaya tampak! aneh. "Gigi taringku, aku ingin gigi taringku. Huhu..." Cahaya menangis tersedu karena apa yang dia banggakan telah sirna. - Keesokan harinya, bisa-bisanya Cahaya ingin ijin tak masuk sekolah karena kehilangan taring kesayangannya kemarin. Kevin seperti biasa datang ke rumahnya dan langsung masuk ke kamar, ternyata apa yang dia lihat membuatnya bingung dan menarik nafas lelah. Pasalnya, Cahaya masih bergelung dengan selimutnya dan enggan masuk sekolah karena masih meratapi gigi taring yang telah lenyap akibat pukulan yang dilayangkan Monre tanpa sengaja. “Sayangnya Kevin yang paling aduhai, ayo bangun!” ucap Kevin yang berdiri di samping ranjang. Tak ada jawaban hanya geliatan Cahaya dibalik selimut yang menggulung. Merasa diabaikan, Kevin naik ke atas ranjang dengan mengulum senyum jahil berniat membuat ulah pagi-pagi pada Cahaya. “Mau bangun atau mau aku cium nih?” ucap Kevin berbisik membuat telinga Cahaya merinding. Merasa ada yang tidak beres, Cahaya terbelalak ketika mendapati Kevin masuk ke dalam selimut tebalnya dari arah belakang yang sontak membuatnya kaget dan bangun. “Apa yang kamu lakukan, Kevin?” omel Cahaya dengan wajah kesal menatap Kevin. Dimarahi oleh Cahaya, justru Kevin malah asyik berbaring dan menarik selimut menggantikan posisi Cahaya yang tidur tadi. Geram dengan Kevin yang tak menjawabnya, Cahaya mengambil guling dan memukul tepat ke wajah tampan Kevin. ‘Bug bug’ Cahaya melayangkan bantal beberapa kali yang membuat Kevin tertawa geli. “Pergi dari sini!” kata Cahaya sambil terus memukulnya dengan bantal. “Tak mau!” jawab Kevin menyebalkan dengan mata terpejam. Bukannya bangkit dari posisinya, Kevin malah sengaja mengarahkan tangan kanannya menarik pinggang kecil Cahaya dan sontak membuatnya terbelalak. “Lepasin, Kevin! Jangan nakal!” teriak Cahaya semakin kesal karena Kevin menarik pinggangnya erat dan sambil terkekeh. Melihat Cahaya yang terus meronta sambil menjambak, akhirnya Kevin melepas pelukannya karena tak sanggup lagi bertahan dari jambakan Cahaya yang merusak tatanan rambut klimisnya. “Sayangnya Kevin, mainnya kasar ih!” rajuk Kevin bertingkah seperti kesakitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD