12. Potong Gaji

1411 Words
Bersiap untuk puasa 1 bulan kali ini. Audy melangkahkan kakinya dengan gontai tak bertenaga masuk dalam kamar kost. Kunci berkali kali jatuh ke lantai karena Audy seperti orang tak bertenaga sama sekali. Sampai ibu kost datang dan membantu Audy membukakan pintu kost. " terima kasih Bu." ucap Audy lemah " kamu kenapa Audy, wajahmu pucat sekali. Kamu sakit." Ibu kost sok perhatian, Audy jadi bingung pasalnya ibu kost satu ini galaknya setengah mati tiba tiba baik hati padanya. Oh ya Audy lupa mungkin karena besok waktunya ia bayar kost mungkin jadi ibu kost baik hati sekarang. Ingat bayar kost Audy jadi semakin lemas saja, bayar kost kan pakai uang sedangkan gajinya sudah di potong segitu banyaknya oleh Juna. Belum lagi ia memikirkan baru saja kakaknya menelpon obat ibunya sudah habis, itu berarti ibunya waktunya untuk kontrol ke dokter. Ingin menangis sambil berteriak Audy saat ini. Tubuhnya di banting di atas kasur kost, ponsel sudah di mode silent. Untuk mengamankan sedikit otaknya ia mandi kemudian tidur. Dilain tempat Hendrik baru saja menerima telpon dari seseorang, kemudian Bagas masuk ke ruangannya. " tuan... Anda di suruh pulang cepat oleh nyonya Shopia ada hal yang ingin di bicarakan. Dari tadi nyonya sudah menelepon Anda berkali kali tap--." " ya, pulanglah dulu." potong Hendrik sebelum Bagas terlalu banyak bicara Bagas pun pulang di susul Hendrik yang baru saja memberi pesan pada seseorang. Sampai di rumah Hendrik langsung di sambut oleh putra tercintanya. Kini Hendrik duduk di depan Shopia sambil memangku Reino di pahanya. " Hen, Ana sudah cerita sama mamah. Kenapa kamu tidak cerita." tanya Shopia langsung Hendrik tau siapa yang di ceritakan Ana pada Mamahnya. " mamah tenang saja, Hen sedang berusaha untuk dia kembali." Jawab Hendrik santai jarinya ikut memainkan mainan Reino tanpa melihat mamahnya. " terus..." " ya masih usaha mah." " hasilnya." " masih usaha kok tanya hasil sih mah." Hendrik memasang wajah mengeluh " ayah usaha apa ?" tanya Reino yang ikut menimpali pertanyaan neneknya yang sepertinya sedang serius dengan ayahmu. " ayahmu sedang usaha mendapatkan Bundamu sayang." jawab Shopia kemudian meninggalkan kedua anak dan cucunya itu. " Laino gak mau kalau ayah bawa bunda yang waktu itu, olangnya galak baik di depan ayah saja. Laino gak suka." Reino seperti tidak terima jika Alya yang akan jadi bundanya kelak. Shopia yang berjalan mendengar ucapan cucunya langsung berhenti dan membalikan tubuhnya. " Siapa Sayang bunda yang kamu maksud." Shopia bertanya penuh penasaran. Berarti selama ini tanpa sepengetahuannya, Hendrik sudah berhubungan dengan wanita lain. " Tante... Al--" Hendrik segera membungkam mulut anaknya agar tidak menyebut nama Alya depan mamahnya. " Bukan siapa siapa mah, hanya saja waktu itu Hen ketemu teman lama Hen saat jalan jalan sama Reino." elak Hendrik, kalau saja sampai mamahnya tau dia masih berhubungan dengan Alya habislah sudah di makan Shopia hidup hidup. " cepat dapat hasil atau mamah yang akan turun tangan sendiri." " kalau mamah mau ikut usaha, Hen jamin akan cepat ada hasil." pinta Hendrik penuh harap shopia mau membantu. " kamu seorang laki laki kan Hen, ini ulah kamu jadi kamu sendirilah yang harus mengembalikan seperti semula." Shopia pun menghilang di balik dinding rumah. " pokoknya Laino gak mau bunda tante Alya. titik." Reino merajuk berlari menaiki tangga. Hardin dan Elsa yang baru saja datang pun ikut memberi semangat pada Hendrik untuk mendapatkan kembali Bundanya Reino. ======= " Audy, di suruh ke ruangan pak Juna sekarang." ucap Maya sekertaris Juna " ya mbak." Audy menutup bukunya dan mengikuti Maya dari belakang. Malas juga bertemu Juna saat ini, bilangnya teman tapi Setega itu memotong gajinya sampai 80%. Teman macam apa itu. " permisi pak, Mbak Maya bil--" " duduk." pinta Juna memotong ucapan Audy Audy pun duduk depan Juna yang terhalang meja, Juna menyerahkan selembar kertas pada Audy. " Bacalah, jika bersedia tanda tangani." Audy pun membaca setiap kata dalam lembar itu dengan teliti, sampai kedua alisnya menyatu, keningnya berkerut dan matanya merah sampai di akhir isi lembaran itu. " maksudnya apa ini Jun." " masih belum jelas." Juna dengan santai melonggarkan dasinya. " astaga Juna, jadi ini maksud kamu mengajak aku berteman. kamu ganteng berwibawa mempunyai jabatan dan kekayaan yang bisa menjanjikan kebahagiaan semua wanita yang kamu mau akan lutut padamu kecuali aku." Audy menarik nafasnya " dan yang belum pernah kamu tau, aku ini janda Juna. Aku sudah pernah punya anak. Jadi pikirkanlah dulu isi perjanjian ini." sambungnya. " saya permisi pak, maaf jika saya kurang sopan." Audy beranjak ingin keluar tapi kesigapan Juna menahan tangan Audy. " oh ya sayangnya aku sudah tau Audy dan aku pun tau siapa mantan suami kamu. Apa kamu tidak malu dengan menyebut dia mantan suamimu sedangkan kamu di perlakukan tidak selayaknya istri dan di buang seperti sampah waktu itu." cela Juna Audy melepas tangannya dari genggaman Juna dengan kasar. " itu pribadiku jadi jangan mengurusinya. Dan terima kasih karena aku tidak menyangka bahwa kamu dengan suka relanya mencari sisi Priadiku secara diam diam di tengah kesibukan pekerjaanmu." Audy kembali ingin keluar tapi lagi lagi tubuhnya di tahan Juna. Juna menarik Audy dengan kasar, memojokkannya di sudut dinding ruangan. Bergerak pun Audy tidak bisa, kedua tangan Juna sudah mengungukung tubuhnya ke dinding. Wajah mereka hanya terkikis 5 centi saja, tapi Audy membuang mukanya agar tidak bertatapan dengan Juna. Deru nafas Juna menyapu rambut Audy, deru nafas yang sedang di bakar hawa nafsu. Tangan Audy gemetar sudah jantungnya sudah berdetak ketakutan. Seperti akan tau kejadian apa selanjutnya. Wajah Juna semakin mendekat, Audy masih memalingkan mukanya. Nafas Juna terasa panas di telinga Audy, bulu romanya merinding seketika. " aku masih bisa mengontrol nafsu ku sayang, tapi kamu harus ingat pria dingin seperti ku akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita pujaannya." suara Juna penuh gairah di telinga Audy. Cup Juna mencium pipi Audy kemudian melepaskan kungkungannya. Tubuhnya menjauh. " kembalilah bekerja, aku akan memberimu waktu sampai besok." usir Juna Audy keluar dengan setengah mati menahan tubuhnya yang gemetar agar orang lain tidak curiga padanya. Sepanjang hari Audy tidak bisa konsentrasi pada pekerjaannya, kata kata Juna masih terngiang-ngiang di telinganya. Akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan wanita pujaannya, apa maksud dari kata kata itu. Audy mulai mencerna, apakah bosnya itu menyukainya, mencintainya, menginginkannya, dan mendambanya dan lain sebagainya lah. " Dasar gak waras." bentak Audy bersamaan dengan gebrakan meja tanpa sadar. Ayu dan Widya yang mendengar pun langsung kaget. Widya memutar kursi ke tempat Audy, lain halnya Ayu yang cuek padahal penasaran ada apa dan kenapa rivalnya seperti itu. Pulang jam kantor Audy yang berniat menunggu angkutan umum di halte depan kantor tiba tiba ada mobil mewah yang tidak ia kenal berhenti di depannya tepat. Sekitar 10 menit mobil itu masih di depan Audy, karena kaca mobilnya yang berwarna hitam membuat Audy tidak tau siapa orang di balik mobil itu. " tidak akan ada bus lewat, aku antar pulang saja " Hendrik menurunkan kaca mobilnya Audy memutar bola matanya dengan malas. Sepertinya ucap Hendrik itu benar bus sudah lewat jamnya karena tadi ia masih ada kerjaan jadi ia pulang belakangan. Tidak mengiyakan tidak juga menolak, Audy memilih diam dan berjalan. Semua masalah ini berawal dari Hendrik dengan tidak tau malunya ia masih muncul di depannya. Ada taksi yang berkali-kali menawarkan Audy tapi ia menolak. Mau bayar pakai apa coba uang sudah tidak punya hanya sisa selembar pecahan lima puluh ribu, mau naik taksi besok makan apa coba sekarang saja ia sudah lapar. Ia masih terus berjalan di sepanjang trotoar sambil menunggu ada angkutan umum lainnya yang lewat. Hendrik masih senantiasa mengikuti Audy yang berjalan. Kini ia mensejajarkan mobilnya dengan langkah Audy. " sudahlah ayo, kakimu akan lepas jika berjalan sampai kostmu." ucapnya Audy masih diam tapi kini ia berfikir benar juga yang di kata mantan suami laknatnya itu. toh lebih dari 500 meter tidak ada angkutan umum yang lewat bahkan ojek biasanya juga tidak yang berkeliaran. Ia memegangi perutnya yang terasa lapar karena tadi siang ia tidak makan hanya sarapan pagi dengan mie instan. Audy berhenti berjalan, menoleh pada Hendrik dalam mobil. Hendrik pun tersenyum berharap Audy mau menerima tumpangannya. Tapi ternyata salah Audy malah menendang mobilnya hingga berbunyi keras, masih belum puas juga Audy malah mematahkan sebelah kiri spion mobil Hendrik. Hendrik spontan kaget dengan tingkah mantan istrinya itu. Ia turun dari mobil malah Audy jongkok dan menangis dengan kencang di pinggir jalan. " Hai kamu kenapa Audy." tanya Hendrik yang ikut berjongkok, Audy malah menyembunyikan wajahnya di balik tangan. " kamu kenapa ?." Hendrik mengulangi pertanyaannya " ini semua gara gara kamu kak,." teriak Audy lalu kembali menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD