Cewek Jutek yang Ngangenin

1971 Words
"Si anak mama mau nunggu jemputan lagi yaa?," ejek Farun yang keluar dari gerbang sekolah dengan sepeda motor Kawasaki Ninjanya. Ia menghampiriku yang duduk sendiri di depan sekolah. "s****n lu," Sudah hampir sepekan aku tidak dibolehkan bawa motor ke sekolah karena masih musim penghujan. Mamaku pun tiap hari harus antar jemput aku ke sekolah. Ini sungguh menyebalkan. Tapi mau bagaimana lagi. Aku pun tidak ingin terjebak hujan s****n lagi seperti kemarin. "Jangan pulang dulu dong. Temani gue dulu," aku meminta Farun menemaniku. "Lah si penjahat kelamin itu mana?," yang dimaksud Farun adalah Upik, teman sekelasku yang dikenal Playboy kelas kakap di sekolah kami. "Sudah pulang duluan. Katanya buru-buru, harus nemanin ibunya ke pasar," "Hahaha.. Bisa-bisanya lu percaya. Mana ada si Upik gitu. Pasti dia mau nyari mangsa lagi tuh," ucap Farun memancingku untuk ghibahin si Upik lagi. Farun memarkir motornya. Ia turun dan duduk menemaniku. "Ngomong-ngomong sampai kapan motor lu disita?," tanya Farun. "Tanya sama BMKG sono," ujarku sebal. "BMKG? Motor lu disita BMKG?," "Kan selama musim hujan gue gak diperbolehin pake motor, gara-gara penyakit gue ini," "Trus hubungannya sama BMKG apaan?," "Lah lu tanya ke mereka kapan musim penghujan s****n ini berakhir," "Hahahahahahaha... Bisa aja lu Bambang," Mobil Alphard putih berhenti tepat di depan aku dan Farun. Kaca jendela depan sebelah kirinya perlahan turun hingga kelihatan wajah mamaku duduk di bangku pengemudi. "Ayo nak," panggil mamaku "Aku duluan ya Run," "Oke bro," "Kita duluan ya Farun," seru mamaku dari dalam mobil. "Iya tante," jawab Farun. Aku masuk mobil, duduk di bangku depan samping mamaku yang sedang menyetir. Di perjalanan kembali aku teringat Shela, cewek jutek yang sudah menolongku waktu itu. Walaupun dia terpaksa sih, tapi setidaknya dia sudah menjaga barang-barang aku dengan baik. Sudah hari ke lima aku akan melihat wajahnya lagi dari dalam mobil. Mobil Alphard mama sudah mendekati sebuah halte. Mataku mulai mencari-cari keberadaan Shela. Dari kejauhan nampak Shela sedang berdiri menunduk sibuk dengan Gadget nya. Aku menyesal kenapa sampai lupa meminta nomor Handphone dia waktu itu. Mobil mama akhirnya melewati halte itu. Aku terus memandangi wajah Shela dari balik kaca jendela mobil. Ingin kuturunkan kaca jendela dan menyapanya tapi aku malu. "Ahh seandainya gue bawa motor," kesalku dalam hati. Tak sadar ku memukul-mukul pahaku. "Kamu kenapa? Setiap lewat halte itu kok tingkahmu aneh?," tanya mamaku. "Ehh, gak apa-apa ma," Mama menatapku curiga. Entah kenapa sudah seminggu ini aku terus saja memikirkan cewek itu. Sempat berniat untuk datang langsung ke rumahnya tapi takut dia tambah benci denganku. Nanti dia berpikir kalo kemarin itu aku cuma modus saja pengen dekatin dia. *** Bunyi motor Ducati Sport membising di depan rumah. Setelah sepekan tak menginjak aspal, akhirnya motorku keluar kandang juga. Sudah dua hari cuacanya cerah dan tak turun hujan lagi. Aku pun diizinkan lagi bawa motor. Dengan cepat kuikat tali sepatuku. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06.45. Lima belas menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. "Ma aku pergi yaa," "Iyaa, hati-hati naak," teriak mamaku dari dalam rumah yang juga sedang buru-buru ke kantor. Gerbang sekolah sudah mau di tutup. Para siswa berlarian masuk. Dari jauh kubunyikan klakson motor dengan panjang. "Tungguuu paak," kuteriak ke pak satpam yang sedang menarik pintu gerbang. Kupacu sepeda motorku namun tak juga keburu. Pintu gerbangnya sudah ditutup. "Wah pak buka sebentar dong," mohonku. "Kau tahu sudah jam berapa sekarang?," tanya pak Satpam dengan mata melotot. "Baru lewat semenit doang. Tolong dong pak kasih kesempatan sekali ini saja," "Ini sudah seratus kali kamu terlambat Rian. Pintu maaf ini sudah tertutup untukmu. Silahkan pulang saja. Dan besok datang lebih cepat. Oke?," pak satpam berbalik badan dan mau pergi. "Aduh, Aduuuhhh,, toloong," aku memegang perutku dengan tangan kiri. Sementara tangan kananku menahan motor yang sudah mau roboh. "Kamu kenapa?," pak satpam berbalik lagi mendekati gerbang. "Sakit sekali pak.. Aduuhhh,, tolong pak," Pak satpam itu panik. Ia langsung membuka gerbang sekolah. "Hey sini, bantuin.. Si Rian nih," satpam itu memanggil teman satpamnya yang sedang duduk di pos. "Kenapa dia?," "Cepat sini..malah nanya," Kedua satpam itu menghampiriku. Yang satu langsung memapahku. Sementara satpam satunya mendorong motorku masuk ke dalam sekolah. Begitu sudah di dalam halaman sekolah. Aku langsung melepaskan tangan pak satpam yang memapahku. "Tunggu-tunggu pak," Aku meregangkan tubuhku. Kubunyikan leherku. "Aku sudah baikan," "Beneran udah baikan," tanya pak satpam. "Iya, aku masuk kelas dulu yaa. Motorku tolong diparkir bagus yaa," aku lari menuju kelas. "Hey, hey tunggu. Kamu cuma pura-pura yaa. Dasar anak kurangajar," teriak satpam. *** Lonceng panjang berbunyi, tanda sudah waktunya pulang. "Hey mau kemana lu, buru-buru amat," tanya Upik saat melihatku sudah menyalakan motor. "Mau pulang lah," "Tumben amat. Kita nongkrong dulu lah di tempat biasa," "Gue masih ada urusan sedikit. Lu duluan aja sama si Farun, nyar gue nyusul. Oke?," "Yah, ujung-ujungnya lu gak nongol. Alasan hujan lah, inilah. Payah lo," "Pokoknya gue bakal nyusul, percaya deh. Aku duluan yah," aku pun langsung pergi meninggalkan Upik. Kupacu sepeda motorku siang itu. Tiba di sebuah halte, nampak ada beberapa orang yang sedang menunggu bis. Mataku berkeliling mencari si cewek jutek yang sudah membuat hari-hariku tak karuan. Aku benar-benar ingin bertemu dia lagi. "Kok dia gak ada ya? Apa aku yang terlalu cepat ke sini," gumamku dalam hati. Ku masih duduk di atas motorku. Berharap Shela datang. Tak jauh dari halte itu juga ada sekolah SMA. Nampak siswa-siswinya berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Sepertinya jam sekolah mereka baru saja selesai. Mungkin si cewek jutek itu sekolah di situ. Ku perhatikan terus dengan teliti setiap siswi yang keluar dari gerbang itu. Sepuluh menit menunggu, wajah Shela akhirnya kutemukan di balik kerumunan. Dia berjalan sendirian, ini kesempatan emas. Tanpa lama-lama aku nyalakan motorku. Ku jalankan motor ke arah Shela. "Apa kabar cewek jutek?," Ia kaget melihatku yang tiba-tiba sudah dihadapannya. "Kenapa lagi lu? Jangan bilang lu mau nyusahin gue lagi," wajah sinis seperti biasanya langsung menyambutku. "Gak lah," "Trus, mau lu apa? Berani macam-macam gue teriakin," "Lah kok jahat amat. Gue kesini mau balas budi," "Balas budi buat apa?," "Sebagai bentuk rasa terima kasih dan permintaan maaf gue, karena udah nyusahin lu kemarin. Gue mau anter jemput lu ke sekolah tiap hari. Jadi lu gak perlu naik bis lagi," "Gak perlu. Lagian gue lebih seneng kok naik bis," "Ayo lah, hari ini aja," "Maksa bangat sih. Gue kan udah bilang gak usah," "Gue bakal ngikutin lu terus sampai rumah," Shela terus berjalan. Aku terus mengikutinya sambil mendorong motor. "Apaan sih lo," "Ayo lah. Gue gak bakal macem-macem kok. Mau yaa. Pliissss," aku menatapnya penuh permohonan. "Lu gak malu apa diliatin orang-orang," "Gak. Makanya ayo," aku terus menatap Shela dengan senyum. "Ngeselin banget lu. Ya udah tapi janji cuma hari ini aja yaa," "Yesss," aku melakukan selebrasi bak pemain sepak bola yang berhasil mencetak goal. Aku mengeluarkan helm imut khusus cewek serta sebuah bingkisan dari dalam ranselku. "Ini helm. Dan ini kado sebagai terima kasih gue buat lu, diterima yaa," Shela menerima helm dan kado itu. Pipinya mulai memerah lagi. Dibalik sikapnya yang jutek itu sepertinya dia merasa senang. Aku merasakannya. "Ngapain lu repot-repot kayak gini sih?," tanya Shela. "Karna lu udah mau gue repotin kemarin," "Itu terpaksa," "Yah udah. Ayo dipakai helmnya," aku menyalakan motor. Dan si cewek jutek itu akhirnya mau kubonceng. "Pegangan dong," "Gak," "Motor ini cepet loh, nanti lu bisa jatoh," "Udah jalan aja. Berani ngebut gue cubit lu," tangan kanan Shela pun berpegangan dipinggangku. Tak kusangka kita bisa sedekat ini sekarang. Sudah 5 menit perjalanan kami hanya saling diam. Aku juga bingung entah mau mulai dari mana. "Kelas berapa lu Shel?," pertanyaan standar, tapi bodoh amat lah. Dari pada sepi. "Sebelas," jawab Shela singkat. "Ohw," "Aku kelas dua belas," "Gak ada yang nanya," "Tapi lu pengen tahu juga kan?," "Hiih geer," Di sebuah trotoar ku lihat ada banyak jajanan pinggir jalan. Aku langsung menghentikan motorku tepat di depan bangku trotoar, kebetulan bangkunya juga lagi kosong. "Kenapa berhenti?," tanya Shela. "Aku mau beli sesuatu, tunggu bentar yah," "Awas kalo lama-lama," "Gak kok, bentar doang," Aku bergegas pergi, Shela menunggu di bangku trotoar. Tak lama aku balik dengan dua buah es krim di tanganku "Nih minum dulu. Cuaca lagi panas," aku menyodorkan es krim satunya ke Shela. "Hmmm.. Makasih," Shela mengambilnya. Dan kami pun duduk berdua di bangku trotoar sambil menikmati es krim. "Ternyata lu bisa juga ya bawa motor gede," ujarku ke Shela. "Siapa bilang gue yang bawa," cetus Shela. "Lah trus bagaimana bisa motornya sampai ke rumah lu? Masa iya jalan sendiri," "Temanku si Rendi yang bawa motornya. Gue minta tolong ke dia," jawab Shela. "Trus kalian boncengan?," tanyaku penasaran. "Gak lah. Kan hujan. Jas hujan di bagasi lu cuma ada satu. Masa iya gue basah-basahan," "Syukurlah kalau gitu," aku menghela nafas. "Kenapa lu?," tanya Shela mengerutkan dahi. "Gue gak suka lu boncengan sama cowo lain," "Hiiih, emang lu siapa, ngatur-ngatur gue," "Calon pacar lu lah," "Ihhh.. Amit-amit dah," Shela menatapku jijik. Hanya kubalas senyum sambil menatap dua bola matanya yang indah itu. "Apa lo liat-liat," Shela menatapku dengan wajah kesal. Dan tiba-tiba dia menutup wajahnya dengan tangan kirinya. Tingkahnya makin lucu saja. "Hahaha," aku tertawa melihat si cewek jutek salting di depanku. "Udah ah, ayo antar gue pulang," "Habisin es krimnya dulu lah," Setelah makan es krim berdua, kami pun melanjutkan perjalanan. *** Sepeda motorku memasuki sebuah g**g dan berhenti di depan rumahnya Shela. Shela turun dari motor dan melepas helmnya. "Helmnya buat kamu aja," "Hah? Gak ahh.. Lagian gue kan gak punya motor. Nih," Shela menyerahkan helm. "Kan gue yang antar jemput tiap hari," "Siapa bilang? Enak aja," "Udah pokoknya lu bak.......," Tiba-tiba "Duaaaarrrrrrrrrr," Suara petir sangat kencang terasa begitu dekat. Terdengar suara hujan deras perlahan makin dekat. Terlalu asik bersama Shela membuatku tak sadar langit saat itu sudah sangat mendung, entah sejak kapan. "Aaaaa," aku kaget dan langsung turun dari motor. "Shel, boleh gue masuk ke rumah lu," aku mulai panik dan gelisah. Kakiku bergemetar hebat. "Kenapa lagi lu? Ayo masuk dulu, udah mau huj...," "Duaaaaaarrrrrr," petir kembali menyambar disertai gerimis air hujan. Aku lari terbirit-b***t menuju rumah Shela yang masih tertutup pintu depannya. Aku yang panik pun langsung mengetuk pintu rumah Shela berulang-ulang dengan cukup keras. "Tolong buka, toloong, toloooong," aku berteriak sejadi-jadinya. "Hey lu kenapa?," Shela menyusulku. Begitu pintu rumah terbuka. Aku langsung menerobos masuk dan menunduk di pojok ruang tamu. "Heeehh, Shela, dia kenapa?," ibu Shela terkejut melihat tingkahku. "Gak tahu bu. Kami baru sampai dan tiba-tiba dia sudah seperti ini," Hujan pun turun dengan sangat deras menimbulkan suara gemuruh di atap rumah Shela. "Tutup pintunyaaaa,, tolooongg ditutuuup," aku semakin ketakutan. Ku berjalan merayap dan bersembunyi di balik sebuah kursi sofa. *** "Rian, Rian, hey bangun," suara seorang gadis membangunkanku. Ku tatap wajah gadis itu, ternyata Shela. Ku lihat di sekeliling, aku tersadar ternyata aku tertidur di ruang tamu rumahnya Shela, tepat di balik sebuah kursi Sofa. Kuraba kepalaku sudah tidak memakai helm. Di kepala ku pun sudah ada bantal, badanku sudah diselimuti. "Helmnya udah gue lepas. Ibu ku tak tega liat lu tidur kayak gitu. Gue udah berusaha bangunin lu buat pindah ke kamar tapi lu malah teriak ketakutan," kata Shela. "Hujannya udah berhenti kan?," tanyaku lirih. "Udah," "Ini tehnya diminum dulu. Habis itu istirahat dulu di kamar yaa," "Ehh gak usah bu. Maaf udah ngerepotin kalian," "Gak apa-apa nak. Tehnya diminun dulu yaa," "Iya bu," Aku bangkit dan duduk di sofa. "Lu gak kenapa-kenapa kan?," tanya Shela. "Gak apa-apa. Makasih yaa Shel," aku menatapnya dengan senyuman kecil. "Cepat minum," Shela mengambilkan teh dari atas meja. "Yakin lu gak istirahat di sini dulu?," tanya Shela. "Gak Shel, gue udah baikan kok," ku seruput teh buatan ibunya Shela, perasaanku semakin tenang. Setelah menghabiskan tehnya akupun pamitan pulang. Aku benar-benar udah gak enak sama Shela dan ibunya, karena sudah sangat merepotkan mereka lagi. *** Setibanya di rumah, aku langsung tepar di tempat tidurku. Ku ambil Handphone ku, ada notifikasi SMS masuk dari nomor yang tak dikenal. Ku baca isi SMSnya. "Terima kasih kadonya yaa. Bonekanya lucu," *** ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD