“Iya, Pak. Tapi saya siap belajar.”
“Bagus. Di sini kamu akan mulai sebagai pengangkut barang dulu. Tugasmu membantu sopir untuk bongkar muat, merapikan stok, dan kadang ikut ambil barang di pelabuhan kalau ada kiriman.”
Lazuardi mengangguk bersemangat. “Siap, Pak.”
Pak Herman menghela napas sambil tersenyum. “Kerja di sini nggak susah-susah amat. Yang penting jujur dan rajin. Nanti kalau sudah terbiasa, kamu juga bisa belajar nyetir mobil. Sopir kita kadang butuh cadangan.”
Mata Lazuardi berbinar mendengar kata belajar nyetir mobil. Sejak kecil, ia hanya bisa menonton truk-truk lewat di depan rumah ibu Riana. Sekarang, ada kesempatan untuk memegang kemudi.
“Sungguh, Pak?” tanyanya tak percaya.
“Sungguh. Tapi nanti dulu. Sekarang fokus dulu sama tugas utama.”
Lazuardi tersenyum lebar. Ia membayangkan suatu hari nanti bisa mengendarai mobil, membawa barang-barang dari pelabuhan ke gudang, dan mungkin suatu saat bisa membawa ibu Riana berkeliling jika pulang kampung.
Sementara itu, Sola berdiri di kejauhan, menyandarkan tubuh ke tiang penyangga atap. Matanya tidak lepas dari Lazuardi. Ia mengamati setiap gerak-gerik pemuda itu cara ia menyapa Pak Herman dengan hormat, cara ia mendengarkan instruksi tanpa memotong, cara matanya berbinar saat mendengar tentang peluang belajar. Ada sesuatu di wajah Lazuardi yang mengingatkan Sola pada dirinya sendiri dulu polos, penuh semangat, dan belum terkontaminasi oleh kerasnya hidup kota.
Sola tersenyum kecil. Ia mengeluarkan ponselnya kembali, mengetik pesan singkat tanpa diketahui Lazuardi.
“Dia sudah sampai. Orangnya polos, tampak jujur. Kayaknya cocok.”
Pesan itu dikirim ke satu nomor yang tersimpan dengan nama Aurelia. Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar. Balasan singkat masuk.
“Bagus.”
Sola menyimpan ponsel, menatap Lazuardi yang sedang asyik berbicara dengan Pak Herman tentang jadwal kerja. Pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik tawaran pekerjaan yang tiba-tiba ini, ada skenario yang lebih besar. Sola bukanlah sekadar karyawan bagian keuangan, dan pertemuannya dengan Lazuardi di restoran bukanlah kebetulan semata.
Aurelia pemilik perusahaan, wanita muda berusia 26 tahun yang sangat cerdas dan sukses selama ini mencari sosok karyawan dengan kriteria khusus jujur, pekerja keras, dan tidak licik. Dan karena Aurelia hampir tidak pernah muncul ke gudang, ia menitipkan misi pencarian itu kepada Sola, tangan kanannya yang paling dipercaya. Sola adalah matanya di lapangan. Dan Lazuardi, dengan segala kepolosannya, telah terpilih.
Tapi semua itu masih tersimpan rapi. Lazuardi belum tahu apa-apa.
Tengah hari menjelang. Lazuardi baru selesai diperkenalkan dengan beberapa pekerja lain ada Joko, sopir truk yang badannya kekar dan bicaranya ceplas-ceplos; ada Beni, anak muda seusianya yang sudah setahun bekerja di gudang; dan beberapa orang lain yang ramah menyapanya. Suasana terasa hangat, jauh dari kesan menakutkan yang sempat Lazuardi bayangkan.
Namun suasana itu berubah ketika ponsel Sola kembali berdering. Kali ini Sola langsung menjawab dengan cepat, nadanya serius.
“Iya, Bu… Sekarang? Baik, saya sampaikan.”
Sola mematikan ponsel dan bergegas menghampiri Pak Herman dan para sopir yang sedang berkumpul di dekat pintu gudang.
“Ada kiriman dari pelabuhan. Barangnya sudah datang lebih cepat dari jadwal. Harus segera dijemput sekarang.”
Pak Herman mengangguk. Ia langsung menunjuk Joko dan dua pekerja lain. “Joko, kamu bawa truk. Anto dan Budi ikut. Aku koordinasi di sini.”
Joko mengacungkan jempol. “Siap, Pak. Berapa palet?”
“Lima palet. Dokumen sudah ada di gudang. Bawa semuanya langsung ke sini.”
Lazuardi yang mendengar itu dari kejauhan merasa dadanya berdegup. Pelabuhan. Kiriman. Ini kesempatan untuk melihat langsung bagaimana prosesnya. Tapi ada rasa lain yang menggelitik pikirannya sedikit curiga yang muncul entah dari mana.
Barang kecantikan, pikirnya. Apa benar hanya itu? Atau ada sesuatu yang ditutup-tutupi?
Sejak kecil, Lazuardi sering mendengar cerita dari tetangga tentang kota besar: penyelundupan, barang ilegal, orang-orang yang terjebak karena ketidaktahuan. Ia tidak ingin menjadi bagian dari sesuatu yang kelam. Apalagi ini hari pertamanya. Ia harus tahu.
Dengan langkah mantap, Lazuardi menghampiri Sola yang sedang memeriksa dokumen di meja kecil dekat pintu.
“Kak Sola,” panggilnya sopan.
Sola mendongak. “Ya?”
“Saya mau ikut ke pelabuhan.”
Sola mengerjapkan mata, sedikit terkejut. “Ikut? Kamu baru sampai, belum istirahat. Besok baru mulai kerja.”
“Saya tahu, Kak. Tapi saya ingin lihat langsung. Biar besok saya sudah tahu prosesnya,” jawab Lazuardi dengan alasan yang terdengar logis.
Sola menggeleng pelan. “Nggak usah. Nanti kamu kecapekan. Lagipula ini urusan angkut barang, nggak perlu banyak orang. Kamu istirahat dulu, cari kos, besok datang dengan semangat baru.”
Lazuardi tidak bergeming. Ada keteguhan di matanya yang tidak biasa. “Kak Sola, saya nggak apa-apa. Saya sudah tidur di bus tadi. Dan saya ingin belajar dari awal. Lagipula...” Ia berhenti sejenak, mencari kata-kata. “Saya penasaran. Saya belum pernah lihat barang-barang ini. Saya cuma mau pastikan.”
Sola menatap Lazuardi lama. Ada sesuatu di balik kata pastikan itu yang ia tangkap. Pemuda ini tidak hanya penasaran karena ingin belajar. Ada kekhawatiran di sana. Kekhawatiran seorang anak kampung yang takut tertipu.