Bab 2

809 Words
Aku kumpulkan tabunganku sedikit demi sedikit. Dari hasil bantu-bantu jualan, dari bikin jasa angkut barang ke pasar, dari bersih-bersih kandang ayam tetangga. Dalam satu tahun, aku berhasil mengumpulkan uang enam ratus ribu rupiah. Bukan jumlah yang besar bagi kebanyakan orang, tapi bagiku ini adalah awal dari segalanya. Aku memilih berangkat di bulan Juni. Tanggal 15, tepat hari ini. Pagi itu, matahari belum sepenuhnya terbit ketika aku menyelesaikan mengepak barang-barangku. Hanya satu tas ransel tua warna biru yang dulu diberikan paman Togar padaku. Isinya tiga potong baju, dua celana panjang, satu jaket tipis, dan sebuah amplop berisi uang enam ratus ribu rupiah yang aku lipat rapi dan kusimpan di saku paling dalam. Aku melangkah keluar kamar. Ibu Riana sudah berdiri di dapur. Sepertinya dia tidak tidur semalaman. Matanya sembab, merah di sudut-sudutnya. Ketika melihatku datang dengan tas di punggung, dia hanya diam. Tidak menangis. Tidak berkata apa-apa. Dia hanya memandangiku dengan tatapan yang berat tatapan seorang ibu yang tahu anaknya harus pergi, tapi hatinya tidak rela. “Kau sudah sarapan, Nak?” tanyanya pelan. “Belum, Bu.” “Duduklah. Ibu masak nasi goreng kesukaanmu.” Aku duduk di meja kayu yang sudah usang. Suara wajan berdecak, bawang dan kecap bercampur, menciptakan aroma yang tiba-tiba terasa sangat mengharukan. Ibu Riana menyajikan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya, persis seperti yang biasa aku makan sejak kecil. “Makanlah banyak-banyak,” katanya sambil duduk di depanku. “Perjalanan jauh nanti. Kalau lapar di jalan, nggak enak.” Aku makan dengan perlahan. Setiap suap terasa berat, seperti mengunyah kenangan. Rani, Rosa, dan Salsa keluar dari kamar mereka satu per satu. Mereka sudah berpakaian rapi, meskipun ini masih pagi buta. Rani membawa botol air minum yang sudah diisi penuh. Rosa membawa kantong plastik berisi pisang goreng buatan tadi malam, Dan Salsa.Salsa membawa sebuah buku tulis baru, masih terbungkus plastik. “Buat Kak Zu,” kata Salsa sambil menyodorkan buku itu. “Buat catatan di kota nanti. Biar nggak lupa apa yang Kak Zu alami.” Aku menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Aku tidak tahu mengapa, tapi pemberian itu terasa sangat berarti. Lebih dari sekadar buku. Aku menatap mereka semua. Empat perempuan yang telah menjadi keluarganya. Tidak ada yang menangis, tapi matanya semuanya basah. Senyuman mereka aku melihatnya jelas, satu per satu begitu manis, begitu tulus, hingga dadaku sesak. Dan di situlah aku takut. Bukan takut pada kota yang belum aku kenal. Bukan takut gagal atau kehabisan uang. Tapi takut terpesona. Takut jika aku terus melihat senyuman mereka, aku tidak akan memiliki cukup keberanian untuk pergi. Aku menunduk. Menghabiskan nasi gorengku hingga habis. Lalu berdiri. “Aku pamit, Bu,” kataku dengan suara yang aku usahakan sekuat mungkin. “Doakan aku.” Ibu Riana mengangguk. Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat. Lalu dia menyelipkan sesuatu ke telapak tanganku. Uang. Beberapa lembar lima puluh ribuan yang dilipat rapi. “Ini untuk bekal di jalan,” katanya. Aku menggeleng. Perlahan, tapi tegas. “Tidak, Bu. Aku sudah punya. Aku ingin mencari sendiri. Biar aku belajar.” Ibu Riana terdiam. Aku tahu dia ingin memaksa, tapi dia mengerti. Dia selalu mengerti. Dia hanya tersenyum pahit, lalu menepuk pundakku. “Hati-hati, Zu. Kalau susah di sana, pulang. Rumah ini tetap rumahmu.” Aku mengangguk, tidak mampu berkata-kata. Lalu aku berpamitan satu per satu. Rani memelukku sebentar, peluk yang hangat seperti kakak sungguhan. Rosa menepuk punggungku keras-keras sambil berkata, “Jangan cengeng, Zu. Buktikan kau bisa.” Dan Salsa.dia hanya berdiri di depan pintu, tersenyum dengan mata berkaca-kaca, melambaikan tangan kecilnya. Aku berjalan ke halte di ujung jalan desa. Di sana, bus mini antarkota biasanya lewat sekitar pukul 07.00 pagi. Aku berdiri di pinggir jalan, sesekali menoleh ke belakang. Rumah ibu Riana sudah mulai mengecil di kejauhan. Sosok mereka di depan pintu rumah mulai kabur, seperti coretan yang terhapus perlahan oleh jarak. Tapi aku masih melihat tangan mereka terangkat. Melambai. Aku mengangkat tanganku juga, meskipun aku tahu mereka mungkin tidak lagi melihatnya. Klakson bus mini memecah lamunanku. Sebuah kendaraan tua berwarna biru dengan kaca agak buram berhenti di depanku. Kondektur setengah baya melongok ke luar. “Ke kota, dik?” “Iya, Bang.” “Naik. Cepat, nanti ketinggalan.” Aku naik, duduk di bangku dekat jendela. Uang ongkos yang aku bayarkan delapan puluh ribu rupiah. Sisa tabunganku sekarang lima ratus dua puluh ribu rupiah. Lumayan. Aku harus mengelolanya sebaik mungkin. Bus mulai bergerak. Aku menatap ke luar jendela. Rumah-rumah di desa mulai bergerak lambat, lalu cepat, lalu menjadi titik-titik kecil. Jalanan mulai berganti dari tanah berbatu menjadi aspal. Pepohonan sawit dan padi membentang luas di sisi kiri kanan. Semakin jauh bus berjalan, semakin kecil pula rumah ibu Riana. Dan semakin sunyi pula jalan ini, bergantian dengan bunyi klakson mobil lain, suara motor yang menyalip, debu-debu yang bertebangan dari sela-sela ban. Keramaian yang dulu biasa aku dengar di desa kini berganti dengan gemuruh kota yang masih jauh di depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD