Erwin pulang dengan bahu yang merunduk. Seperti sebuah verbalisasi daripada apa yang tengah dirinya rasakan secara sadar. Baru sekarang ini dia merasa bahwa berat yang di pikul makin menjadi. Tanggung jawab dan harapan keluarga yang dibebankan padanya benar-benar tidak membuat dirinya tak bisa bergerak bebas barang sejenak. Untuk sekarang Erwin sudah sangat lelah dan stress, terlebih kritik tajam padanya semakin menukik akhir-akhir ini soal kinerjanya yang dinilai merosot tajam. Terlebih sang kakek pun sekarang ikut mengawasi dirinya. Memberikan tekanan lebih pada performanya. Apa yang sebetulnya salah? Apa yang terjadi selagi dia lepas barang sejenak dari hal-hal yang melelahkan? Erwin merasa sudah cukup memberikan kontribusi terhadap perusahaan. Bahkan segalanya. Tapi sang kakek justru m

