Zeke yang kala itu masih berusia empat tahun, tiba-tiba memasang wajah yang paling sebal. Berkali-kali bocah cilik itu mendecak kesal. Padahal ini adalah hari pertamanya sekolah TK. “Eh, Zeke? Kamu kenapa? Dari Mama jemput kamu kok cemberut mulu?” tanyaku yang sejak tadi hanya memperhatikan Zeke yang juga tidak mau bicara. Berceloteh seperti biasanya. “Zeke sebal sama teman-teman. Mereka semua pamer,” Zeke memandang kearahku. Raut mukanya masih sama. Sesebal itu. “Memangnya pamer apa sweetheart?” aku masih berada dalam kondisi menyetir. Sementara telingaku tetap terpasang rapi. Aku tidak membiarkan Zeke merasa kesepian. “Ma, aku ingin punya adik perempuan. Biar aku bisa pamer ke mereka juga,” ucapan Zeke yang tiba-tiba serta tidak relevan dengan pertanyaan yang aku ajukan sontak me
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


