Elang mengernyit melihat seseorang laki-laki duduk di ruang tunggu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga sore lebih. Tak mungkin seorang pasien menunggu sampai selama itu. “Suster, yang menunggu di sana, dia tidak mau periksa kan?” tanyanya pada perawat yang kebetulan lewat. “Oh, itu suami Dokter Ayu, Dok.” Elang hanya mengangguk. Menatap sebentar kemudian berlalu kembali masuk ke ruang rapat tempat beberapa orang tenaga kesehatan puskesmas masih berkumpul setelah rangkaian akreditasi yang melelahkan. “Habis ini makan-makan kan, Dok?” tanya Zara. “Kalau bisa semua ayo aja. Tapi kalau ada satu saja yang gak bisa ya kita undur,” sahut Elang sambil melirik Ayu. “Bisa semua dong. Mau aku bookingkan tempat sekalian, Dok? Awas aja ya kalau ada yang alesan gak bisa ikut,” ucap Zara seteng

