Aku melirik ke arah luar jendela menunggu kapan tepatnya hujan akan berhenti. Sembari menyeruput secangkir cokelat panas yang baru aku seduh, entah kenapa rasanya hari ini aku merasa sangat sentimentil. Hujan dan perasaan sensitif adalah duet maut yang sulit untuk dihindari. "Kin, kerjaan sudah beres? Kamu kenapa lihat jendela mulu? Ada kunti? Poci?" Suara familiar itu membuat aku yang awalnya sedang larut dalam pikiranku menjadi sadar kembali. Pak Arvian selalu saja merusak suasana. "Kunti sama Poci kan teman Bapak. Saya mau say hi sama mereka." Balasku menimpali ucapan Pak Arvian. Sebenarnya aku sudah berusaha memanggil Pak Arvian dengan kata "Mas", hanya saja aku geli sendiri, jadi aku memutuskan untuk terus memanggil Pak Arvian dengan sebutan Pak. Pak Arvian juga pada akhirnya suda
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


