Rohit Khana berdiri mematung di depan jendela kaca besar. Di luar sana, kota Mumbai bergeliat seperti biasa. Tapi di dalam dirinya - sesuatu telah hilang untuk selamanya. Sunil Mehra. Nama itu kini hanya tinggal kenangan lama dan luka yang pedih. Berita kematiannya baru saja dikonfirmasi lewat panggilan langsung dari Komisioner Polisi. Tubuh Sunil ditemukan di pinggir jalan Goa. Lehernya patah. Tidak ada saksi. Di duga sebagai korban pembunuhan sadis. Rohit termenung dan tak mampu lagi berbicara. Tapi matanya memerah. Genggaman tangannya mengepal--menahan emosi yang tertahan. Ia berjalan ke meja kerjanya, membuka sebuah laci, dan mengeluarkan sebuah bingkai foto lama–dirinya dan Sunil, sepuluh tahun lalu, tertawa bersama di tengah kampanye politik pertama mereka. "Sialan... Sunil... K

