Gedung Sunrise menjulang dingin di tengah kawasan bisnis yang mulai sepi. Lampu-lampu kantor di lantai atas sudah banyak padam, menyisakan satu lantai yang justru terang—terlalu terang untuk sebuah gedung yang seharusnya telah tidur. Di ruang rapat berlapis kaca gelap itu, Andy Wong duduk santai di ujung meja panjang. Jasnya dilepas, kemeja putihnya rapi, wajah oriental rupawannya tetap tenang—senyum manis selalu menghias bibirnya walaupun dengan cara yang berbahaya. Di kanan kirinya berdiri dua orang kepercayaannya. Salah satunya Joni, dengan sorot mata kosong. Yang lain Lobo, diam seperti bayangan maut. Tiba-tiba, pintu terbuka perlahan. Komisaris Dito masuk lebih dulu, diikuti Inspektur Ferry. Berpakaian rapi, tanpa seragam dinas, berpenampilan seperti bagian dari sindikat, namun ker

