Malam turun sempurna di kota perbatasan itu. Lampu-lampu neon bar menyala terang, memantul di botol-botol kaca dan meja kayu yang lengket oleh tumpahan alkohol. Musik berdentum rendah, ritmenya berdenyut seperti jantung yang berdebar terlalu cepat. Di udara, bercampur aroma minuman keras, parfum, dan bahaya yang tak kasat mata. Di tengah bar, Santoz duduk di sofa melengkung berlapis kulit hitam. Beberapa bodyguard bertubuh besar berdiri tak jauh, mata mereka awas meski tampak santai. Santoz tertawa keras, menepuk-nepuk lututnya mengikuti irama musik. Di hadapannya, seorang penari wanita bergerak mengikuti cahaya lampu—gerakannya berani, provokatif, memancing sorak dan siulan. “Lebih dekat,” ujar Santoz dengan senyum licik, suaranya tenggelam oleh musik. Penari itu mendekat, berputar per

