Samudra membentang kelabu saat fajar menyingsing. Ombak besar bergulung pelan, memantulkan cahaya pucat matahari pagi. Di tengah lautan luas itu, sebuah perahu kayu tua berderit diterpa gelombang. Di atasnya berdiri seorang pelaut tua berkulit legam, rambutnya memutih oleh garam laut dan usia. Namanya Marx—nelayan tua asal Queensland, yang seumur hidupnya dihabiskan melawan ombak dan badai. Marx menghentikan mesinnya mendadak. “Apa itu…” gumamnya, menyipitkan mata. Tak jauh dari haluan, sesuatu mengapung, terombang-ambing tak berdaya. Awalnya ia mengira bangkai lumba-lumba atau kayu hanyut. Namun ketika perahunya mendekat, jantungnya berdegup lebih kencang. “Itu… manusia.” Tubuh seorang pria terapung telungkup, bajunya koyak, darah mengering bercampur air laut. Marx tanpa ragu melempa

