Saat itu, malam semakin kelam. Di block tahanan pelabuhan, tepat pukul 02.12 dini hari. Skenario pelarian maut di mulai. Tiffany berdiri dengan nafas tertahan. Tangan menggenggam sisi ranjang besi, dan tubuhnya mulai gemetar. Ia menghitung detik dengan sangat presisi. Jaka dari sel sebelah sudah bersiap, posisi tangannya menggenggam logam pipih yang tersembunyi dari alas sendalnya. Tiffany berteriak keras seperti panik. "Tolong!!..Tolong!! Dia... tolong Jaka...! Jaka tiba-tiba kejang! dia mati bunuh diri! Ada darah!" Suara sepatu bot berdentum-dentum di lorong. Dua penjaga tergesa gesa menghampiri. Salah satu penjaga memukul sel dengan tongkat. "Mundur! mundur ke belakang!" bentak si penjaga kepada Tiffany. Tiffany menangis, air mata palsu menetes di pipi, gemetar, suara patah-patah--

