Ruang dekan fakultas selalu membuatku gelisah. Langit-langitnya yang tinggi dengan ukiran kaligrafi ayat Al-Quran tentang pencarian ilmu, lemari-lemari kayu jati berisi tumpukan buku dan jurnal penelitian, serta aroma kopi robusta yang menguar dari cangkir porselen di atas meja—semua terasa mengintimidasi. Seakan-akan ruangan ini dirancang untuk membuat mahasiswa merasa kecil dan tidak berdaya.
"Zahra Hasanah."
Suara Prof. Haidar memecah keheningan. Beliau melepas kacamata bacanya, meletakkannya di atas map merah yang kukenali sebagai berkas beasiswaku.
"Kau tahu kenapa kau dipanggil ke sini?"
Kugigit bibir bagian dalam, jari-jariku menelusuri tepi jilbab secara tidak sadar. "Karena demonstrasi kemarin, Pak."
Prof. Haidar mengangguk perlahan. Usianya mungkin sudah hampir enam puluh, dengan janggut putih yang dipangkas rapi dan mata yang selalu tampak letih oleh beban pengetahuan. Beliau adalah salah satu dekan yang paling disegani di kampus—cerdas, tegas, dan dikenal memiliki prinsip yang kuat.
"Demonstrasi yang hampir berakhir kacau," koreksinya. "Apa kau sadar bahwa tindakanmu itu berisiko mencoreng nama baik kampus?"
Kedua tanganku saling meremas di bawah meja. Ada pembelaan yang ingin kuutarakan, tapi lidahku kelu. Ya Allah, kuatkan aku.
"Dengan segala hormat, Prof. Haidar, demonstrasi kami legal dan sudah mengantongi izin dari keamanan kampus. Yang tidak kami perkirakan adalah hadirnya provokator dari luar."
"Yang membuat keadaan jadi tidak terkendali," sambungnya. "Andai saja Rafli Arkananta tidak berada di sana, entah apa yang akan terjadi."
Nama itu lagi. Sudah dua hari berlalu sejak insiden itu, tapi nama Rafli Arkananta terus muncul dalam percakapan orang-orang. Kudengar ia bahkan mendapat ucapan terima kasih langsung dari Rektor.
"Tapi madrasah Al-Hidayah tetap akan digusur, bukan?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan dari Rafli. "Padahal sudah jelas bahwa pembangunan gedung baru fakultas kedokteran bisa dialihkan ke lahan kosong di sebelah timur kampus."
Prof. Haidar menghela napas panjang. "Zahra, ada banyak hal yang tidak sesederhana kelihatannya. Kau mahasiswi Hubungan Internasional yang cerdas. Kau pasti paham bahwa setiap kebijakan memiliki pertimbangan kompleks di baliknya."
"Termasuk pertimbangan keluarga Gita yang menyumbang miliaran rupiah untuk pembangunan itu?" tanyaku, sedikit lebih berani.
Mata Prof. Haidar menyipit. "Hati-hati dengan tuduhanmu, Zahra. Kau bicara tanpa bukti."
Tangan kananku meraih tasbih kecil di saku rok—kebiasaan yang kulakukan saat gugup. Kuputar satu butir. Dua butir. Tiga butir.
"Maaf, Pak. Saya hanya mengutarakan apa yang banyak dibicarakan mahasiswa."
"Dan itulah masalahnya. Gosip bisa sangat berbahaya." Ia membuka map merah di hadapannya. "Aku melihat prestasimu sangat baik. IPK 3.87, aktif di organisasi, dan beasiswa tahfidzmu masih berlaku hingga lulus nanti. Sangat disayangkan jika semua ini terancam karena... aktivisme yang tidak pada tempatnya."
Jantungku seperti berhenti berdetak. Kalimat itu adalah ancaman halus. Dan aku tahu betul apa artinya. Beasiswa adalah satu-satunya cara bagiku untuk tetap kuliah di sini. Ayah yang menghidupi pesantren dengan ratusan santri di Madura tidak mungkin mampu membiayai pendidikanku di universitas elite ini.
"Saya mengerti, Pak," jawabku lirih.
"Bagus. Aku senang kau masih bisa dinasihati." Prof. Haidar menutup map merah itu. "Sebagai mahasiswi tahfidz, kau seharusnya fokus pada studimu dan hafalanmu. Biarkan masalah pembangunan kampus menjadi urusan pihak berwenang."
Air mata menggenang di pelupuk mataku, tapi kutahan sekuat tenaga. Ingat pesan Ayah: menangislah hanya pada Allah, bukan pada manusia.
"Ada satu hal lagi," tambah Prof. Haidar, nadanya berubah. "Kompetisi Arsitektur Islam Masa Depan akan diadakan bulan depan. UII belum pernah menang sejak lima tahun terakhir. Tahun ini, kami ingin mengubahnya."
Keningku berkerut. "Maaf, tapi apa hubungannya dengan saya, Pak? Saya bukan mahasiswi arsitektur."
Prof. Haidar tersenyum tipis. "Tema tahun ini adalah 'Memadukan Diplomasi dan Arsitektur Islam untuk Perdamaian Global'. Kami membutuhkan kolaborasi antara mahasiswa Arsitektur dan Hubungan Internasional."
Alarm di kepalaku berbunyi nyaring. "Dan... siapa mahasiswa Arsitektur yang akan menjadi partner saya?"
"Rafli Arkananta."
Dunia seperti berhenti berputar. Dari semua mahasiswa arsitektur, kenapa harus dia? Orang yang metodologinya bertentangan dengan prinsipku?
"Tapi, Pak—"
"Ini bukan permintaan, Zahra. Ini penugasan." Prof. Haidar bangkit dari kursinya. "Kalian berdua adalah mahasiswa terbaik di jurusan masing-masing. Dan kau berhutang budi padanya setelah kejadian kemarin."
Kugigit lidahku hingga nyaris berdarah. Tidak ada gunanya membantah sekarang.
"Baik, Pak. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Bagus. Kalian akan mulai bekerja sama minggu depan. Rafli sudah diberitahu."
***
"Dia menjadikanmu tim dengan Rafli?" Farah nyaris tersedak es teh manisnya. Kami duduk berdua di Kafe Sahara, tempat nongkrong favorit mahasiswa di belakang kampus. "Ya Allah, itu seperti menyatukan air dan minyak!"
Kuaduk es campur di hadapanku tanpa selera. "Aku tidak punya pilihan, Farah. Beasiswaku dipertaruhkan."
"Tapi Rafli itu..." Farah mendekat, berbisik meski tidak ada yang menguping. "Dia anti agama, Zahra. Kau lihat sendiri bagaimana dia berbohong dengan mudahnya kemarin. Dan kabarnya dia punya tato!"
"Itu hanya rumor," bantahku, meski sebenarnya aku sendiri tidak yakin.
"Dan dia tidak pernah terlihat di masjid kampus. Pernah kepergok makan saat Ramadhan. Belum lagi caranya yang kasar saat berdebat dengan dosen-dosen. Semua orang tahu dia jenius, tapi kelakuannya..."
Kupejamkan mata sejenak. Kepala terasa berdenyut. Besok pagi aku harus menyetor hafalan surat Al-Kahfi pada Ustadzah Naila via panggilan video, tapi pikiranku sama sekali tidak bisa fokus.
"Mungkin Allah punya rencana lain," gumamku, lebih pada diri sendiri. "Mungkin ini ujian kesabaranku."
Farah menggenggam tanganku. "Setidaknya kau tidak harus berduaan dengannya, kan? Maksudku, kalian bisa bertemu di perpustakaan atau kafe seperti ini."
"Entahlah." Kulirik jam dinding. Pukul lima sore. "Aku harus kembali ke kos. Masih banyak bacaan untuk kelas Diplomasi Islam besok."
"Aku antar," Farah menawarkan diri.
Kami berjalan kaki menyusuri trotoar sempit di belakang kampus. Sore itu, langit Yogyakarta berwarna jingga keemasan, menyinari kubah-kubah masjid kampus yang menjulang. Dari kejauhan, terdengar adzan Maghrib berkumandang. Hatiku sedikit lebih tenang mendengarnya.
"Zahra!" Sebuah suara memanggilku.
Dari arah berlawanan, Gita berjalan anggun dengan tas bermerek dan sepatu mahal. Kakak tingkat yang terkenal sebagai putri pengusaha properti terkaya di Yogyakarta. Dan juga salah satu penyokong dana utama pembangunan gedung baru fakultas kedokteran.
"Assalamu'alaikum," sapanya saat mendekat. Senyumnya manis, tapi tidak mencapai matanya.
"Wa'alaikumsalam," jawabku dan Farah bersamaan.
"Kudengar kau ditunjuk untuk kompetisi arsitektur dengan Rafli," ujarnya tanpa basa-basi. "Selamat, ya. Itu kesempatan besar."
"Terima kasih," jawabku pendek.
"Tapi..." Gita mendekat, aroma parfum mahalnya menusuk hidung. "Jangan coba-coba mengungkit-ungkit soal madrasah itu lagi. Kau sudah diberi kesempatan kedua. Jangan sia-siakan."
Darahku berdesir. Ini bukan sekadar peringatan biasa.
"Maaf, tapi aku tidak mengerti maksudmu," balasku dengan suara yang kuusahakan tetap tenang.
Gita tersenyum tipis. "Kau gadis cerdas, Zahra. Tentu kau mengerti. Semoga sukses dengan proyekmu."
Ia berlalu, meninggalkan kami berdua yang terpaku. Farah meremas jemariku.
"Zahra, ini tidak baik. Keluarga Gita punya pengaruh besar di kampus. Dan sekarang kau dipasangkan dengan Rafli yang juga punya masalah dengan mereka."
Kutarik napas dalam. Langit senja yang tadinya indah kini terasa mengancam.
"Ada yang lebih besar dari sekedar kompetisi arsitektur," bisikku. "Dan aku akan mencari tahu apa itu."