Menghancurkan Penghianat Satu Persatu

1015 Words
PoV Della Apa yang di lakukan Dani selama bekerja di kantor ini, aku harus selidiki perlahan. Skandal apa saja yang telah ia ciptakan, aku berniat kembali kedalam ruangan untuk mengambil tas dan pergi makan siang. Tapi di saat aku berjalan, di dekat sudut kantor yang sepi samar terdengar suara wanita yang sedang berbincang mesra. "Beliin aku tas itu ya Mas," rengek wanita itu manja dan mengalungkan tangannya di pundak Dani. Wanita itu kan Rosa, sekretaris di kantor ini. Dan sekarang tentu saja menjadi sekretarisku. "Kamu sabar sayang, pasti aku beliin," Dani mengecup mesra pipi wanita itu. Aku tidak menggaji mereka untuk bermesraan didalam kantor ini, menggelikan! Mungkin mereka berpacaran. "Kapan Mas, akan membelikan aku tas Lo**s Vu****n itu, aku tak sabar!" "Ya sudah malam ini kita beli, aku tidak tahan melihatmu yang tak sabar begitu," mereka kembali berpeluk mesra. "Ihh..., aku sebel kenapa sih Della bawel itu jadi Boss sekarang! Mas bilang dia akan percayain perusahaan ini pada kamu Mas!" "Aku juga tidak tahu kenapa dia masuk kantor, dia tak bilang apapun padaku! Aku juga sebal melihatnya. Aku pikir dia akan mempercayaiku setelah menolongnya kemarin!" "Mas, kamu harus membuatnya tak betah disini. Agar dia kembali kerumah dan tak bekerja," "Tenang sayang, tapi kamu jangan cemburu ya jika aku merayu nya. Hanya pura-pura kok!" sahut Dani. "Aku gak akan cemburu, asalkan kita bisa hidup mewah," mereka berdua tersenyum dengan rencana jahat. Jadi ini rencana Dani, aku tak akan membiarkan mu mendapatkan apapun! Hidupku di kelilingi manusia munafik, aku harus menyingkirkan mereka satu persatu. ???? Aku kembali kedalam ruangan, tapi tak jadi pergi makan siang, sepertinya Rosa juga sudah kembali ke tempatnya, karena aku bisa melihat dari dalam ruangan ini. "Rosaaa....!" aku berteriak memanggil wanita licik itu dengan pengeras suara. Dia yang sedang menggunakan maskara untuk bawah mata, tampak kaget dan tak sengaja maskara itu mencoret bawah matanya dan berwarna hitam. "Rossaaaa...., Cepat kemari!," aku kembali berteriak dan tak memberinya jeda untuk menghapus maskara itu. Rossa dengan tergesa masuk kedalam ruanganku. "Iya Bu, ada apa Ibu memanggil saya?" "Cepat belikan saya makanan!" perintahku. "Tapi Bu, kenapa tidak menyuruh OB saja. Itu bukan tugas saya," sahutnya dan tampak kesal padaku. "Lakukan saja apa perintah saya! Jika kamu masih mau bekerja disini. Mengerti!" "I..iya... Bu, mengerti!" angguknya. "Kamu belikan saya mie ayam saja ya, mie ayam abang-abang," pintaku. "Boss kok makan mie ayam," gumam Rossa pelan tapi masih bisa ku dengar. "Memangnya kenapa kalau saya mau mie ayam, cepat belikan di luar sana!" "Siap Bu," Rossa bergegas keluar ruanganku. Sebelum kamu ingin mengerjaiku, aku yang akan membuat kapok dan kewalahan. ????? Rossa membawa nampan yang berisi mangkok, dan menyajikannya di hadapanku. "Ini Mie ayam yang Ibu pesan," "Apa-apaan ini! Saya mau makan Mie ayan dengan mangkok yang ada gambar ayamnya. Ini kenapa mangkok polos!" "Tapi bu, sama saja tak mengurangi rasanya," tukas Rossa. "Tapi mengurangi mood saya untuk makan! Bawalah kembali saya tidak ingin makan," aku kembali menatap fokus pada laporan keuangan kantor. Sekilas ku lirik raut wajah Rossa yang amat kesal padaku. Aku kembali mengamati laporan keuangan ada yang janggal, pasti ada sesuatu yang mereka lakukan untuk menggerogoti uang perusahaan. Secepatnya aku harus memecat Dani! ????? Masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan malam ini, mataku masih fokus menatap layar laptop. "Nyonya muda," ujar lelaki di hadapanku, dia Hans ajudanku. "Kamu bisa tidak mengetuk sebelum masuk kedalam ruang kerjaku!" aku kaget karena dia tiba-tiba saja muncul. "Maaf Nyonya, tapi di depan ada orang yang ingin memaksa masuk dan ingin bertemu," jelas Hans. "Siapa dia?" "Saya juga tidak mengenalnya," "Baiklah saya akan menemuinya," siapa yang mencariku di malam selarut ini, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ternyata tamuku 2 orang wanita, satu wanita paruh baya dan 1 lagi masih terlihat muda sekitar umur 28 tahun, mungkin menurut pandanganku. Aku, mempersilakan mereka untuk duduk di sofa ruang tamu. "Kalian siapa ya datang kesini?" tanyaku. "Aduh gak usah banyak basa-basi, dimana kamar kami?" ujar wanita paruh baya itu. "Maksudnya apa ya bu?" aku bertanya keheranan. "Perkenalkan, saya Mina dan ibu saya, Panggil saja Bu Lasmi," "Jelaskan saja intinya, kalian itu siapa? Ada tujuan apa datang ke rumahku!" aku mulai jengah dengan mereka yang menatap seisi rumahku. "Gedo yo rumah Sumi!" (Besar ya Rumah Sumi) ujar wanita itu, yang berbicara pada wanita di sampingnya tanpa memperhatikan ucapanku. "Lah iyo to buk! Dee kan rabi mbi konglomerat," (Lah iya buk! Dia kan menikah dengan konglomerat) jelas anak nya itu. "Sumi ki rabi karo wong sugih, udu wong melarat. Ngawur le ngomong!" (Sumi tu menikah dengan orang kaya bukan orang melarat. Ngawur jika bicara) "Konglomerat bu, udu wong melarat!" (konglomerat bu, bukan orang melarat) jelas wanita itu pada ibunya. Aku bisa berbahasa jawa sehingga mengerti apa yang mereka bicarakan, aku ingat ibu ini saat di resepsi pernikahan itu. Dia pasti ibu Sumi. "Berhenti berdebat! Cepat bawa mereka pergi dari sini!" perintahku pada Hans dan Seno kedua ajudanku. "Kamu berani mengusir kami! Saya adukan sama Virza biar kamu yang diusir dari rumah mewah ini!" hardik Ibu itu padaku. "Sekarang panggilkan Sumi, kami ingin tinggal disini," ujar wanita bernama Mina itu. "Sumi udah jadi gembel sama Virza, kalian susul saja sana. Mereka tak ada disini karena saya sudah mengusir Virza!" "Enak saja kamu mengusir Virza, ini kan rumahnya!" Ibu itu mencela perkataanku. "Asal kalian tahu ya, Virza itu cuma lelaki kere yang sudah saya angkat derajatnya menjadi orang kaya tapi malah selingkuh sama pembantu! Kalian pikir dia kaya? Semua kekayaan ini milik saya," "Gak mungkin, kamu pasti bohong. Jelas Virza yang bilang kamu itu cuma wanita gembel yang di jadiin istri, cihhh..., gak tau diri!" Mina menghinaku. Kurang ajar Virza, dia membicarakan ku seperti itu. "Pasti kamu mengambil semua kekayaan suamimu kan!" Ibu itu terus menyudutkanku. Aku muak mendengar mereka, omong kosong! "Cepat usir mereka, saya tidak mau di ganggu siapapun!" Kedua ajudan ku dengan sigap memaksa mereka keluar dari rumahku. "Awas ya kamu wanita sombong, saya akan membuat Sumi tinggal disini dan mendapatkan hak atas kekayaan suaminya!" tukas Ibu Sumi padaku. Omong kosong apa yang dia ucapkan padaku. Hak apa yang dia bicarakan. Bualan apa saja yang di janjikan oleh lelaki br*ngs*k itu pada mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD