5. Bertemu

644 Words
Larut malam, Dylan kembali ke Villa dan langsung memasuki kamar yang biasa dihuni istrinya, wanita itu nampak tak bersalah saat ia tertidur, tapi tak lama ia terjaga, matanya waspada dan langsung menatap Dylan dengan menyelidik. "Itu, kau" gumamnya serak "Kenapa kau disini?" tanyanya dengan tidak senang. Lebih baik baginya lelaki itu tidak pulang atau menghilang saja. Ia sudah memeriksa identitasnya pada siang hari. Kesan tentang lelaki itu tidak baik, mereka punya dendam lama secara tidak langsung bertahun-tahun lalu. "Ini kamarku" jawab Dylan dengan dingin. Beraninya wanita itu berbicara dengannya seperti itu. Wanita itu menguap dan melambaikan tangannya "Kupikir seperti di film-film, karena kau masih menjaga kekasihmu, sebaiknya tidur dikamar lain" gumamnya lalu kembali tidur dan itu belum pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Empat hari yang lalu, wanita di tempat tidur masih mencoba mencari perhatiannya, mencoba mengambil mantelnya, menyiapkan air mandi, masih sopan dan mencoba menjadi istri yang baik, meski matanya penuh keputusasaan. Tapi sekarang, ia menganggap Dylan bagai sesuatu yang tak terlihat. Mengabaikannya seakan keberadaanya tidak penting sama sekali. Kemarahan Dylan hampir mencapai tenggorokannya. Benar, sebelumnya mereka tidur dikamar yang terpisah. "Bangun!!!" teriak Dylan dengan dingin. "Kalau kau mau bercerai besok saja, sekarang aku mengantuk" Avery Mckey berteriak balik. Sungguh wanita yang berani, wanita pertama yang berani berteriak balik padanya hanya yang satu ini. "Siapa bilang aku bakal menceraikanmu, aku bakal menyiksamu sampai mati" balas Dylan dengan nada bicara yang biasa ia gunakan di ketentaraan. Kaku, tegas dan penuh otoritas. Orang biasa yang mendengarnya pasti bakal menggigil. Tapi, sepertinya tidak berpengaruh untuk seorang Avery Mckey "Ya, ya. Terserah apa katamu. Pergilah, jangan ganggu tidur orang lain" gumamnya dengan nada malas, seperti benar-benar tidak tertarik meladeni lawan bicaranya. "Jasmine Zota!!!" raung Dylan Jepsen. Tiba-tiba Avery Mckey terduduk dari tidurnya, matanya membesar karena terkejut "Siapa katamu?" tanyanya keheranan. "Berhenti berpura-pura tidak tahu namamu sendiri!!!" "Ulangi sekali lagi" pinta Avery dengan bingung. "Queen Ling, berhenti bermain denganku" Mata bulat Avery Mckey bersinar sekejap, jadi lelaki ini sudah tahu identitasnya. Tapi, ada hal lain yang lebih penting "Bukan, bukan itu, ulangi namaku sebelumnya" katanya. Meski ia telah lama berkecimpung dalam dunia bawah tanah, tapi ia tak pernah mengunakan identitas palsu. Hanya Queen Feng, wanita mungil seribu wajah, yang punya seribu identitas. "Queen Ling, jangan bilang Jasmine Zota bukan nama aslimu?" Dylan Jepsen melotot dengan kejam. Jangan bilang wanita ini membodohinya selama berbulan-bulan dengan identitas palsu. Tanpa berpikir Avery Mckey langsung menjawab "Ya" sambil melompat turun dari tempat tidur, dan mengobrak-abrik lemari-lemari yang berada didalam kamar. Tentu saja ia bukan Jasmine Zota, namanya Avery Mckey, nona keluarga terhormat Mckey. Semua yang terjadi terlalu membingungkannya, seberapa frustasi ia sebelumnya? Mengapa mengunakan identitas palsu untuk menikah? "Apa yang kau cari?" Tanya Dylan keheranan. Wanita ini terlalu aneh dan misterius. "Kartu identitasku, pasporku atau apa saja" "Kenapa?" Avery Mckey berdiri diam tidak menjawab pertanyaan lelaki itu dan memijit keningnya, lalu menatap lelaki tinggi tegap itu serius "Apakah kau menyelidiki Jasmine Zota sebelumnya? Apakah dia yatim piatu yang pergi keluar negeri dan tidak diketahui keberadaanya?" "Ya" Seperti yang diharapkan! Avery Mckey tiba-tiba tertawa "Baguslah kalau begitu, kau tak perlu menceraikan Jasmine Zota karena tak ada hubungannya denganku sama-sekali" "Queen Ling!!!" Dylan Jepsen kembali meraung dengan nada menakutkan, tapi tak sedikitpun mengintimidasi seorang Avery Mckey. Wanita yang dikenal sebagai dewi nasional, keindahan Kinka dan acuan standar kecantikan di Kinka itu sudah menemui ratusan orang-orang yang menakutkan, jadi ia sudah terbiasa dengan sosok-sosok kuat yang mengintimidasi bagi orang-orang biasa, Dylan Jepsen salah satunya. "Hahaha, selamat malam juga Letnan Dylan Jepsen" katanya dengan santai kembali ketempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Dylan Jepsen memang dahulunya berada di ketentaraan, ia pensiun tiga tahun lalu dan ditugaskan di Pemerintahan Perencanaan kota. Tapi tak banyak orang yang tahu fakta itu, karena sebelumnya ia berada di unit pasukan khusus paling rahasia. Tapi, wanita cantik yang nampak tidak bersalah itu tahu, seperti yang diharapkan dari seorang ratu kerajaan bawah tanah terkuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD