Ramora berjalan tak bersemangat menuju kelasnya, sebelum sebuah panggilan kembali membuatnya bersemangat. "Mora! astaga! aku memanggilmu sejak di parkiran tapi kamu seperti orang tuli saja." Omel Suzan kesal. Dengan ekspresi bodoh Ramora menatap sahabatnya sembari berkedip-kedip. "Jangan memperlihatkan tampang menyebalkan ini di hadapanku, Mora." Sentak Suzan semakin jengah. "Maaf," cicit Ramora pelan. Suzan menjadi merasa bersalah karenanya. "Ck! ada ap denganmu? apa masih ada hubungannya dengan wanita hamil bernama Laura itu? apa istimewanya wanita itu sampai mampu mengusik suasana hatimu." Kata Suzan jengkel. Ramora tak pernah peduli terhadap apapun apalagi sesuatu yang tak penting. Tapi kini sahabatnya itu terlihat galau hanya karena seorang wanita yang tak jelas asal usulnya. "A

