Bab 7 Sesal Ramli

1049 Words
"Kok jadi gini sih konsepnya?" Ramora mengamati dekorasi pernikahannya dengan seksama. Terlalu mewah untuk ukuran sebuah pernikahan sementara. "Memangnya kamu mau konsepnya yang gimana dek?" kepo Selin sang kakak ipar. Wanita itu tengah sibuk menyuapi sang anak yang sedang duduk di dalam kereta bayi. "Gak...bukan apa apa kok kak.." sahut Ramora cepat. Ekspresi cengengesan Ramora membuat Selin curiga. "Kamu gak lagi merencanakan hal yang aneh aneh kan? awas ya, kamu tau sendiri kakakmu itu galaknya gimana." Ujar Selin mengingatkan dengan tatapan serius. "Gak ih, kakak jangan ngadi ngadi ya.." bantah Ramora salah tingkah. "Tuh kan benar, kakak jadi curiga deh sama kamu kalau gini. Mending kamu jujur aja sebelum mami sama papi kecewa," cecar Selin semakin membuat Ramora terpojok. "Gak kak, gak ada yang aneh aneh loh. Aku cuma berpikir pernikahan ini terlalu mewah, apa gak ngabisin banyak uang apa, gitu?" dalih Ramora memberikan alasan. Gadis itu begitu pandai berkelit, membuat Selin tak lagi curiga. "Gak dong, semua ini spesial untuk persiapan pernikahanmu. Secara kan kamu tuan putrinya kami semua," ucap Selin mencubit gemas pipi adik iparnya. Wanita itu begitu tulus memperlakukan Ramora seperti adik kandungnya sendiri. Laura mencebik melihat keakraban yang tersaji di hadapannya dengan tatapan tak suka. "Tidak akan terasa spesial bila kenyataannya tak seperti yang terlihat," celetuk Laura sinis. Selin segera membungkam mulut adik iparnya dengan tisu yang kebetulan dia pegang. Kedua mata Selin melotot tajam. Sedangkan Laura terbatuk batuk akibat sumpalan tisu di dalam mulutnya. "Kamu gila ya!" sentak Laura marah. Laura berusaha keras mengeluarkan tisu yang sudah larut di dalam mulutnya. "Ada apa ini?" Randy yang baru saja tiba di rumah sedikit terkejut melihat Laura yang memuntahkan sesuatu dari mulutnya ke atas lantai. "Istri kakak ini gila, bisa bisanya dia nyumpalin mulut aku pakai tisu toilet." Lapor Laura menunjuk Selin penuh emosi. Sedangkan Selin hanya menatap iparnya dengan tatapan jengah. "Masih untung aku gak pakai tisu bekas cebokin Mia," balas Selin tak kalah ketus. Wanita lembut itu kini tampak berbeda. Randy sampai terkejut melihat reaksi istrinya yang di luar dugaannya. Dia pikir Selin akan meyangkal dan memberikan pembelaan. Tapi wanita itu malah menunjukkan kemarahan yang sama kepada Laura. "Aku laporin sama mas Roky," ancam Laura kemudian berlalu pergi membawa hati yang kesal. Randy menatap istrinya intens, dengan tatapan tak terbaca. Sedangkan Ramora masih bergeming. Kalimat Laura cukup mengganggu pikirannya. "Sudah, gak usah di pikirin. Kamu tau sendiri kan, Laura orangnya kalau ngomong suka asal. Udah sana, siap siap dulu di kamar. Tadi pagi mama manggil mbok jamu langganan mama buat lulurin kamu," Ramora hanya mengangguk pelan. Entahlah, perkataan kakak iparnya mampu mengusik rasa penasarannya. Setelah tak lagi melihat sang adik di ujung tangga paling atas lantai dua, Randy berjalan menghampiri istrinya yang masih setia menatap ke arah kamar Ramora. "Gak pengen cerita nih?" Selin menoleh sembari menyunggingkan senyum tipis. "Laper kan? makan dulu yuk, kebetulan aku juga belum makan siang." Alih alih menjawab pertanyaan suaminya, Selin lebih memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Randy menghela nafas panjang, dia tau istrinya pasti sedang menyimpan rahasia darinya. Tak biasanya wanita baik itu bersikap tegas seperti hari ini. Laura bukan hanya sekali dua kali mengusik ketenangan istrinya. Tapi Selin selalu dapat menghindari pertengkaran yang tak perlu. Namun melihat sikap diam Selin, Randy pun memilih untuk bungkam. Akan dia tanyakan kembali nanti saat suasana hati istrinya sudah membaik. Di tempat berbeda, Virgo tak ingin ketinggalan dalam menyiapkan semua persiapan pernikahannya. Semuanya harus sempurna dan sesuai dengan selera Ramora. "Kamu yakin semua ini akan berhasil? maksud om, kamu tau sendiri Ramora tak mengetahui niatmu yang sesungguhnya. Anak itu berpikir pernikahan ini hanyalah formalitas semata agar tak lagi di rong rong soal perjodohan, dan kebebasannya tak lagi terkekang." Virgo bergeming, perkataan sang paman ada benarnya. Tapi begitu sulit untuk menaklukkan hati Ramora dengan cara yang biasa. Virgo harus bermain licik agar bisa mempersunting gadis keras kepala itu. "Aku harap setelah pernikahan kami berjalan, sikap Ramora bisa melunak. Hati manusia siapa yang tau om, aku harap Ramora bisa mencintaiku kelak seperti aku mencintainya beberapa tahun ini." Ucapan penuh harapan tersebut membuat hati Robert tersentuh. "Baiklah, om harap semua harapanmu bisa terwujud. Jangan lupa, om juga akan menikah bulan depan. Semoga saat itu statusmu masih seorang suami, bukan duda yang menyedihkan. Mau di taruh di mana mukaku ini bila sampai di dampingi keponakan dengan status duda." Celoteh Robert bercanda, kemudian terpingkal. Virgo memberikan hadiah berupa tinjuan di lengan sang paman. Tak seberapa kuat hanya saja tetap terasa sakit apalagi di lakukan dengan penuh niat. "Niat amat, aiishhh..." Robert meringis sambil mengusap lengannya. Sedangkan Virgo larut dalam pikiran akan nasib pernikahan kelak. Dia tau berharap Ramora jatuh cinta padanya pasti tak akan semudah membuat keajaiban. Tapi apa salahnya bila dia berusaha untuk bisa meraih hati gadis itu melalui jalur cepat seperti rencananya. ********************* "Pulang Ramli, kamu bisa bikin aku terkena masalah tau gak!" desis Suzan menahan emosi. Ramli terus mengusiknya beberapa hari ini. Dan kini pemuda itu memaksa untuk berbicara dengan Suzan di kamar kost nya. "Bentar aja San, aku janji gak bakal macam macam." Ramli terlihat putus asa. Laki laki itu sudah berada di depan kamar kost nya sejak satu jam lebih. "Aku gak mau ngomong sama kamu Ramli, ngerti gak sih bahasa Indonesia." Kesal Suzan mulai jengkel. "Baiklah aku akan pergi, tapi tolong dengerin aku baik baik. San, aku nyesel udah bikin kamu kecewa dan sakit hati. Kejadian kemarin aku akui itu perbuatan yang salah dan tercela. Tapi aku punya alasan kenapa aku melakukannya, aku gak berharap kamu bisa mengerti. Tapi tolong kasih aku kesempatan untuk kembali sama kamu. Aku janji akan berubah, please San." Permohonan Ramli nyaris membuat pertahanan Suzan runtuh. Tapi masih terekam jelas di ingatannya kejadian beberapa waktu lalu, dan bagaimana marahnya Ramora padanya karena memilih pria yang salah. "Aku udah gak tertarik lagi sama kamu, Ram. Mending kamu pacarin aja tuh perempuan perempuan yang bisa memenuhi ekspektasi kamu. Aku gak bisa seperti yang mereka lakukan sama kamu, aku hanya gadis desa. Kita gak sepadan Ram, pulanglah. Aku sudah maafin kamu kalau itu yang bikin kamu masih merasa bersalah sama aku." Suzan kembali ke atas kasur busa tipisnya dengan tubuh lesu. Perasaan terhadap Ramli masih tersisa walau tak sebesar pertama kali berjumpa. Tapi sekarang rasa itu perlahan terkikis oleh kenyataan yang dia lihat waktu itu. Sedangkan Ramli berjalan lesu menuju mobilnya. Penyesalan di hatinya kian terasa menyesakan. To be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD