Chapter 9. (Bukan) Cinta Segitiga

1518 Words
"Dira!" Mika berseru senang saat melihat Dira yang baru saja tiba di rumah Bunda seolah-olah wanita itu telah terpisahkan dengan Dira selama bepuluh tahun, padahal baru berpisah tempat tinggal beberapa hari. Setelah Mika menikah dengan Mahen, otomatis ia tinggal di rumah Mahen. Sedangkan Dira masih tinggal di rumah orang tuanya. Sebenarnya Dira tidak tega untuk meninggalkan Mika di rumah Mahen karena ia tahu seberapa menyebalkan sepupunya itu. Berhubung Bunda dan Uti sangat baik dan menerima Mika dengan tangan terbuka lebar, jadi ia terpaksa meninggalkan Mika di rumah Mahen. Terkadang Dira masih berharap bahwa yang menimpa Mika itu hanyalah mimpi, pernikahan paksa itu tidak pernah terjadi. Ia dan Mika bisa langsung pulang ke kota setelah pernikahan Meli selesai. Tapi, semua hanyalah angan Dira semata karena pernikahan antara Mahen dan Mika memang benar-benar terjadi. Sampai saat ini pun Dira masih merasa bersalah, terlebih melihat raut wajah bang Adam yang menjadi wali nikah Mika. Pria yang sudah seperti kakak kandung Dira itu, benar-benar terlihat marah dan kecewa. Bahkan bang Adam tidak sekalipun melihatnya, hanya membuang muka ketika bertatapan dengannya. Jika bang Adam saja bersikap demikian, bagaimana dengan papi Mika? Dira berharap semua akan baik-baik saja. Dan ia akan bersikap seolah memang baik-baik saja, sama halnya seperti Mika. Dira melihat penampilan Mika yang terlihat lusuh namun masih terlihat cantik. Mika memakai kaos dan celana pendek buluk yang entah milik siapa, rambut dicepol asal dan tanpa make up sama sekali. Entah hujan badai atau musim kemarau, Mika tetaplah Mika. Si anak konglomerat yang cantiknya bak boneka barbie, meskipun penampilannya sebelas dua belas dengan asisten rumah tangga. Untung saja Dira mengatakannya dalam hati. Jika tidak, pasti Mika over percaya diri ketika ia memujinya dan langsung mengatakan kalau kecantikannya itu sudah ada ketika ia masih dalam bentuk kecebong. Melihat Mika dengan peluh membanjiri tubuhnya dan sebuah kain pel di tangannya, membuat Dira meringis juga kasihan. Apa jadinya jika kakak juga papi Mika melihatnya? Namun anehnya, Mika justru tersenyum ceria menyambut kedatangannya. Tak terlihat wajah mengeluh sama sekali, Mika memang benar-benar se ajaib itu. "Dira ...." Karena terlalu cerianya Mika berlari kecil menghampiri Dira yang masih berdiri di depan pintu. BRUKK "HUAA ... BUNDA." "Hahahaha ...." "Astagfirullah, Mika!" Mika meringis pelan seraya memegang pinggangnya yang terasa sakit dengan Dira dan Bunda yang membantu memapahnya. Terlalu bersemangat menyambut kedatangan Dira hingga membuatnya lupa bahwa lantai yang baru saja ia pel itu masih basah, terlebih lagi ia mengepel dengan asal. Kalau begini sih namanya senjata makan tuan! Dan yang membuat kesal, bukannya langsung membantu Dira justru menertawakan dirinya hingga puas. "Puas lo ketawain gue?" "Puas dong gue. Kapan lagi bisa liat lo sial berkali-kali." Mika mencebikkan bibir, "Lo emang temen sialan!" Mika mengalihkan tatapannya saat melihat Dira yang terdiam, biasanya temannya satu itu pasti akan menimpali ucapannya dengan kalimat yang lebih menyebalkan. Sepertinya Dira memiliki masalah, hingga berkali-kali menghela nafas kasar. "Tadi, Nesya nelpon gue--" "Gue tau, pasti kakak ipar gue itu nyesel kagak ikut kita liburan," potong Mika dengan terkekeh pelan. "Papi lo nanyain kapan balik," ujar Dira pelan. Mika langsung terdiam kaku, lalu tak lama kemudian ia terkekeh diiringi dengan isakan tertahan. Dira langsung memeluk Mika dengan air mata yang mengalir di pipinya. Melihat Mika dengan tingkah konyol dan kadang menyebalkan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Dira. Namun, melihat Mika menangis dengan penuh kesedihan bahkan bisa dihitung pakai jari. "Ra, gue meski bilang apa ke papi? Gue nggak mau bikin Papi sedih dan kecewa. Bahkan sampai sekarang aja bang Adam masih diemin gue, dia kecewa banget." Dira paham sangat paham. Pernikahan yang tak terduga ini masih menjadi suatu hal yang membawa luka untuk Mika. Mika sangat menyayangi papinya begitupun sebaliknya. Dan hal yang paling Papi Mika inginkan adalah menjadi wali di pernikahan putrinya. Bahkan saat sakitnya pun, Papi Mika pasti selalu berbicara bahwa ia tidak akan meninggal karena sakit sebelum menikahkan putri bungsunya. Papi hanya ingin mengantarkan putrinya pada pria yang pantas dan mampu menjaganya saat papi pergi nantinya. "Gue yakin, papi pasti juga akan ikut seneng saat tau lo udah nikah. Karena kebahagiaan lo adalah hal yang paling papi utamakan," ucap Dira seraya menghapus air mata yang mengalir di pipi Mika. Mika menatap Dira dengan tatapan yang tak terbaca, "Apa pernikahan ini bisa menjadi kebahagiaan gue?" ucapnya dengan nanar. "Pasti." Dira mengangguk mantap. Sekalipun Dira hanya orang asing di pernikahan Mahen dan Mika, ia yang akan menjamin kebahagiaan Mika. Dira tidak akan membiarkan Mahen menyakiti sahabatnya, sekalipun pria itu sepupunya. Jika Mahen tak bisa membahagiakan Mika dalam pernikahan ini, maka Dira yang akan membuat Mika meninggalkan pernikahan paksa ini. Itu janji Dira. *** "Kok baru kasih tau gue penjual bakso langganan lo?" protes Mika. Dira berdecak, "Gue lupa. Udah deh, mending abisin tuh bakso lo yang mangkok ke tiga!" Mika nyengir dan kembali memakan bakso dengan lahap. "Teh Mika hebat yah. Bisa makan banyak, tapi badannya tetep bagus," ucap Uti yang sedari tadi hanya terdiam menatap Mika yang makan bakso dengan lahap. Bahkan sangat rakus menurut Dira. "Asal kamu tau. Kalau Teteh kamu itu makannya kayak orang kuli bangunan, atau orang yang nggak dikasih makan tiga hari," ejek Dira. "Terserah anda saudara Andira! Orang cantik memang banyak yang iri." "Huekk." "Dira jorok!" Uti tertawa melihat Dira yang pura-pura ingin muntah dan Mika yang langsung menghentikan makannya seraya berteriak kesal dan berusaha mencubit Dira yang duduk dihadapannya. Dira benar-benar membuat Mika tidak berselera makan lagi. Persahabatan kedua tetehnya itu begitu unik, sering terlihat tidak akur tapi saling menyayangi bahkan terlihat seperti adik kakak. "Itu kayak si Mahen! Tapi kok sama cewek, mana bawa anak lagi. Persis keluarga bahagia." "Uhuk ... uhuk ...." Mika langsung tersedak kuah bakso super pedas hingga hidungnya memerah dan tenggorokannya sakit. Dira memang benar-benar sialan! Asal ceplos tidak melihat situasi dan kondisi. Jika sudah seperti ini Mika yang repot, sungguh meredakan sakit akibat tersedak apalagi tersedak makanan yang pedas itu sangat menyakitkan. Seolah api neraka pindah ke tenggorokannya. "Ada yang patah. Tapi bukan ranting," sindir Dira pada Mika yang nampak acuh. "Diem lo!" "Kayaknya Uti kenal deh." Mika dan Dira secara serempak menatap Uti dengan raut wajah penasaran. "Itu yang perempuan namanya Teh Ayu, kalau anak kecil itu putrinya. Seinget Uti, nama anaknya itu Yaya." Mika dan Dira secara serempak memutar bola mata. Mereka tidak meminta Uti untuk memperkenalkan dua orang itu. Toh, tidak perduli siapa pun namanya mereka tidak ingin tahu. Yang Dira dan Mika ingin tahu adalah hubungan dua orang itu dengan Mahen. Karena jika dilihat, wajah Mahen lebih manusiawi bersama kedua orang itu. Yah, pria itu terlihat beberapa kali tersenyum dan tertawa. Hal yang sangat jarang terjadi. Jika kalian tahu seberapa menyebalkan dan angkuhnya laki-laki itu. Tak bisa Mika pungkiri, wajah Mahen memang tampak mempesona dengan garis wajah tersenyum. Yeah, walaupun tetap saja terlihat menyebalkan di mata Mika. "Mika, saingan lo janda," bisik Dira dengan tawa tertahan terlebih saat melihat wajah Mika yang berubah keruh. Mika itu terbiasa dikejar-kejar pria. Bahkan di warung bakso yang hanya dinaungi terpal pun, pesona Mikaela Ratu Anjani tidak dapat ditolak. Terbukti dari beberapa pria atau remaja laki-laki yang kedapatan mencuri-curi pandang ke arah Mika. Kecuali, Mahen yang sayangnya adalah suami Mika. Betapa mirisnya nasib Mika. Dari puluhan laki-laki, mengapa ia harus terjebak pernikahan dengan pria yang terlihat tidak tertarik sedikit pun padanya. "Diem lo! Mau gue siram pake kuah bakso?" bisik Mika dengan kesal dan melotot galak. "Galak bener, Bu Kades." Mika dan Dira saling berpandangan saat melihat ke arah Mahen dan kedua orang itu--ehh? Tidak! Sekarang sudah menjadi tiga orang, ditambah seorang pria yang terlihat memangku anaknya si Ayu itu. Apakah ini yang di sebut cinta segitiga? Atau bisa disebut cinta segiempat jika ditambah Mika sebagai istri Mahen. Atau ini kah yang disebut selingkuh di depan? Yang jelas Mika tidak ingin ambil pusing. "Itu suaminya teh Ayu, Aa Bayu sahabatnya Aa Mahen. Seinget Uti, teh Ayu itu sekretaris di kantor Kepala Desa dan Aa Bayu wakil Kades." Ternyata bukan cinta segitiga. Penonton kecewa! Padahal Mika sudah menyiapkan hatinya untuk melihat cerita cinta segitiga ini. "Pulang!" Tidak ada angin. Tidak ada hujan. Tiba-tiba Mahen menghampiri meja yang diisi Dira, Uti dan Mika. Lalu pria itu menarik paksa lengan Mika. Menyeretnya pulang dengan rahang yang mengeras. Benak Mika bertanya-tanya, salah dirinya apa?Bukankah Mika tidak mengganggu Mahen? Tidak memanggil pria itu apalagi meminta dibayarkan bakso. "Ehh? Mika lo belum bayar bakso!" Mahen langsung menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Dira. Sedangkan Mika hanya bisa menutup wajahnya, ia benar-benar malu. Definisi teman yang tidak ingin rugi inilah Dira. "Kamu belum bayar?" tanya Mahen datar. "Mana sempet. Kan lo sendiri yang tiba-tiba tarik gue," ucap Mika dengan mencebikkan bibirnya. Tanpa kata, Mahen kembali ke meja Dira dan memberikan uang seratus ribu di atas meja. Lalu kembali menyeret Mika yang benar-benar sudah pasrah. "Nah, gitu napa sih! Mau lo bawa si Mika juga gue santai," ucap Dira setelah mengambil uang itu dengan cepat. Rezeki nomplok tidak perlu ditolak. Lumayan, masih ada sisa setelah membayar tiga mangkuk bakso milik Mika. Hitung-hitung sebagai traktiran dari Mahen. Sepupunya itu sangat pelit kepadanya. Sepertinya Mika perlu berganti teman. Dira benar-benar laknat!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD