Uang bukan segalanya, meskipun segalanya butuh uang. Tapi uang tidak bisa menjadi jaminan akan sebuah kebahagiaan yang nyata, bisa jadi itu hanya kebahagiaan yang semu. Selain itu, uang tidak lebih besar harganya dibandingkan sebuah gengsi. Gengsi untuk jajan di pinggir jalan, makan di warteg yang tidak menguras kantong tapi membuat perut kenyang atau ngopi-ngopi sambil ngemil kunci di warkop. Semua hal yang terkesan murah, menjadi hal yang mahal hanya karena sebuah gengsi.
Akan tetapi, uang bisa membedakan mana teman yang baik dan teman yang datang disaat butuhnya saja, butuh duit misalnya. Atau membedakan cinta karena apa adanya dan cinta karena ada apanya, yang mendekat saat hidupnya tidak ingin melarat dan pergi setelah penghasilan meningkat. Mikaela Ratu Anjani, sudah sangat khatam pada orang-orang yang mendekat lalu pergi setelah keinginannya terpenuhi. Ada yang numpang hidup enak, numpang eksis, menaikkan pamor atau sejenisnya yang membuat ia muak juga lelah.
Sebagai seorang anak konglomerat yang kerjaannya rebahan pun ia akan tetap sejahtera aman sentosa. Bukannya sombong, tapi memang kenyataannya kekayaan Papi Mika tidak akan ada habisnya hingga tujuh turunan sampai tanjakan. Hanya saja, hidup Mika kadang selalu dibuat repot dengan orang-orang yang memanfaatkan dirinya. Dan itu terjadi dari ia orok sampai dengan saat ini.
Seperti saat ini, Mika yang berpenampilan serba hitam dengan topi dan kacamata tengah menatap pria di depannya dengan bosan juga geram. Hell! Ia harus bersusah payah datang ke butiknya dengan menyamar dan berpenampilan aneh agar tidak diburu wartawan. Akan tetapi, dengan seenaknya pria di depannya itu datang ke butiknya bersama dengan para wartawan hingga terasa sesak dan panas. Bukankah seperti sedang antrian sembako? Akan tetapi mereka bukan berdesakan menunggu sembako, namun menunggu berita.
"Ratu, apapun kejadian yang pernah terjadi antara kita itu aku sudah ikhlas. Aku datang ke sini ingin kembali bersama kamu, karena aku masih sangat mencintaimu."
Mika memutar bola mata malas, apa yang sedang diperankan pria di di depannya ini. Apakah mungkin seorang Ratu dan rakyat jelata? Sepertinya benar. Ia Ratunya dan pria di depannya ini rakyat jelata tidak tahu diri.
"Heh! Laki-laki gila! Ikhlas pala lo! Lo yang salah, lo yang selingkuh tapi lo yang ikhlas. Nggak ada otak lo!" bentak Andira dengan tangan yang siap melayangkan tinjunya pada pria di depan Mika.
"Tenang, Ra ...," lirih Mika mengusap pelan tangan Andira yang sudah emosi.
Terdengar bisik-bisik wartawan saat pria di depannya menatap Mika dengan berkaca-kaca. Sudah tidak diragukan lagi kemampuannya sebagai aktor alias jago akting. Jadi satu-satunya cara untuk menghadapi pria di depannya ini, Mika harus mengikuti permainan yang pria itu buat. Akting? Siapa takut! Mika juga pandai berakting. Bodoh jika laki-laki itu hendak menjatuhkan dirinya, harusnya sebelum menjatuhkan lawan cari tahu dulu kelemahannya.
"Hiks ... hiks ..." Semua tercengang saat melihat Mika menangis, hingga membuat Andira bertambah emosi.
"Lo liat kan?! Gara-gara lo sahabat gue nangis, bahkan selama hidup gue dia bukan orang yang gampang nangis buat hal sepele."
"Hiks ... hiks ... Kamu kenapa sih Fer? Kenapa selingkuh sama wanita lain? Kurangnya aku apa? Aku udah kasih kamu uang buat lunasin hutang kamu, bahkan sampe Papi marah karena aku pake uangnya tanpa izin."
Pria di depan Mika langsung gelagapan dengan wajah gugup saat melihat Mika mengeluarkan kuitansi pembayaran hutang dan foto-foto dengan selingkuhannya. Sontak saja hal itu membuat para awak media menatap Mika kasihan dan menatap pria itu dengan cemoohan.
"Rasain! Ratu kadal, mau lo kadalin. Mana bisa!" batin Mika.
Setelah ini, sepertinya Mika harus mengucapkan bela sungkawa atau berduka cita atas meninggalnya karir pria itu. Benar-benar kasihan! Begitulah jika menjadi publik figure yang terkenal karena sensasi bukan prestasi.
"Haha ... haha, serius lo? Kayaknya lebih seru kalau liat livenya langsung," ujar Nesya dengan terbahak-bahak mendengar kejadian yang tengah ramai diperbincangkan dalam berbagai acara di tv.
"Seru pala lo! Si Mika kagak ngomong dulu ke gue kalau mau akting. Padahal gue udah mau hajar tuh hidungnya si Solehun."
Mika terkekeh lalu merangkul bahu Andira, "Gue tau, lo pasti khawatir kan sama gue? Unchh, Dira emang so sweet."
Andira langsung menjitak pelan jidat Mika, "Makan tuh so sweet!"
"Uhh ... sayang."
"Jijik! Sana lo jauh-jauh dari gue!"
Nesya semakin terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata melihat Mika dan Andira yang bertengkar bagai kucing dan tikus. Andira yang cuek namun sangat melindungi ia dan Mika dan Mika yang hobi sekali menggoda Andira, hingga membuat wanita itu kesal.
"Ehh iyah, Ra. Gue dapet undangan dari sodara lo yang di kampung, si Meli itu loh," ujar Nesya seraya menunjukkan tiga buah undangan berwarna peach-maroon.
"Hah, ini seriusan si Meli yang dulu masih bocah itu? Bukannya dia baru lulus SMA? Kok lo kagak kasih tau gue, Ra?" tanya Mika bertubi-tubi seraya mengamati undangan atas nama dirinya.
"Gue aja baru tahu. Lo kan tahu gue akhir-akhir ini sibuk, jadi kagak sempet balik."
"Ohh itu yang kemarin nyokap lo nyuruh balik nelponin lu tiap jam, yang lu kira nyokap lo mau jodohin anak perawannya, kan? Kayaknya itu nyokap lo mau kasih tau tentang si Meli."
"Hahaha." Nesya dan Mika langsung terbahak saat melihat wajah Dira yang memerah karena malu.
"Jangan ketawa kalian berdua! Gue tabok nih!" seru Andira dengan kesal.
"Wkwkwk."
Andira mendengus kesal, "Mana gue tau kalau nyokap gue mau ngomongin kawinan si Meli. Lagian nyokap gue kasih wejangan buat yang mau kawin, gue kan langsung takut."
"Emang sih kata nikah itu horor banget buat gadis perawan macem kita, Ra," tukas Mika.
"Makanya kalian cepet nyusul, gue aja udah ada buntutnya satu."
Mika dan Andira langsung memutar bola mata malas saat mendengar penuturan Nesya. Meskipun usianya yang jauh lebih muda dari keduanya, justru Nesya memiliki pemikiran yang jauh lebih dewasa. Mungkin saja karena Nesya sudah berumah tangga sehingga perkataannya itu sudah seperti emak-emak yang menceramahi anak perawannya agar segera menikah. Dan hal itu membuat Mika juga Dira jengah.
"Ehh iyah, kayaknya gue nggak ikut kondangan deh. Gue nitip kadonya aja yah? Mika?"
Mika memberengut menatap Nesya, selalu begitu. Kakak iparnya selalu absen jika liburan bersama Mika dan Andira, kalau pun ikut pasti bersama sang suami dan anak. Mika sih tidak keberatan jika Zio ikut, tapi beda lagi jika abangnya yang ikut. Pasalnya, abangnya itu selalu ingin mendominasi Nesya seorang diri. Jadilah jika berlibur dengan mereka pasti ujung-ujungnya Mika dan Dira menjadi baby sister.
"Laki lo emang possesifnya kebangetan!"
"Abang lo tuh!"
Nesya menatap Mika dan Andira dengan memelas, ia yang notabenenya sudah menjadi seorang istri dan ibu tidak bisa sebebas dulu. Meskipun ia juga ingin liburan ke kampung halaman Andira yang kekayaan alamnya masih asli.
"Lo tau sendiri kan Abang lo gimana, jadi gue absen dulu yah? Pokoknya kalian berdua aja yang kondangan, itung-itung liburan di kampung halaman Dira, terutama buat Mika."
“Dihh, kenapa jadi gue?”
“Lo kan baru aja putus. Jadi, daripada patah hati dan ngurung diri di kamar lebih baik ikut liburan.”
Mika langsung mendelik, “Enak aja patah hati! Jangan ngadi-ngadi lo.”
“Udah deh, Ka. Nggak usah malu buat jujur sama gue, apalagi gue ini kakak ipar lo,” ucap Nesya seraya merangkul Mika.
“k*****t! Nggak usah bawa-bawa status kakak ipar, telinga gue panas dengernya.”
“Belum juga gue bacain Yaasin.”
“Dikira gue setan!” dengus Mika.
“Daripada lo marah-marah ntar cepet keriput, mending liburan. Bosen juga kan liat muka si Solehun wara-wiri di tipi.”
"Hmm oke, tapi lo bantu packing sama izin ke Papi yah?"
"Hahah ... Bapak lo lebih possesif."
Nesya mengangguk pasrah. Jika abang Mika possesif kebangetan, maka Papi adalah rajanya possesif terutama pada anak perempuannya. Akan sangat sulit jika membujuk Papi untuk mengizinkan putrinya bepergian, tapi jangan ragukan kemampuan Nesya dalam membujuk raya, Nesya itu jagonya.
"Jangan panggil gue Nesya kalau nggak bisa rayu Papi," ujar Nesya sombong.
Mika mencebikkan bibirnya, "Paling lo rayu Abang dulu," cibir Mika.
"Hehe ..."
***
“Papi, orang cantik datang,” teriak Mika yang langsung masuk ke dalam rumah megah orang tuanya diiringi Nesya dan Dira di belakangnya.
Nesya dan Dira hanya bisa menggelengkan kepala juga menahan malu melihat kelakuan sahabat mereka yang justru urat malunya sudah putus. Sedari mereka datang, sudah berjejer rapi puluhan maid dan bodyguard yang menyambut mereka. Hal ini membuat Dira maupun Nesya selalu sungkan jika masuk ke dalam rumah mewah atau bisa dibilang mansion keluarga Mika yang lebih banyak pegawai dibandingkan penghuni rumah. Jika berada di rumah Mika, mereka seperti merasa berada di sebuah istana dan menjadi seorang puteri dalam dongeng.
Herannya, meskipun dilayani bak puteri kerajaan Mika justru tidak betah berlama-lama di dalam rumah dan lebih memilih untuk tinggal di apartemen. Nesya dan Dira jelas tahu penyebabnya. Mansion mewah itu selalu sepi penghuni rumah selain maid atau bodyguard, selain karena dua bersaudara dan abangnya sudah menikah, Papi Mika juga sering pergi ke luar kota atau luar negeri karena urusan kantor. Dan alasan utamanya, karena Mika selalu teringat Maminya jika berada di rumah dan itu membuatnya sedih juga kesepian.
“Papi ...,” rajuk Mika seraya mengalungkan lengannya di sekitar bahu Papinya yang tengah duduk di kursi kerjanya dan berkutat dengan berkas-berkas.
“Loh, tumben Queen kesayangan papi ini pulang ke rumah. Ada apa ini?”
“Ihh, Papi! Harusnya seneng anaknya pulang, bukannya ditanya.”
Lelaki paruh baya yang masih terlihat tampan dengan tubuh yang masih bugar itu lantas terkekeh dan meletakkan berkas-berkas di tangannya ke atas meja. Lantas menatap putri kesayangannya itu dengan lekat dan memberikan satu kecupan di keningnya.
“Kesayangan Papi kan pulangnya itu pasti karena ada maunya.”
Mika menunjukkan cengirannya saat mendengar perkataan Papinya yang tepat sasaran. Meskipun jarang pulang ke rumah hingga sang Papi menjulukinya mbak Toyib, Mika tetap menghubungi papinya itu via telepon atau video call sekadar menanyakan kabar atau melepas rindu di antara kesibukannya. Dibandingkan dengan kakaknya justru Mika lebih dekat dengan Papinya karena bagi Mika papi itu lebih dari sekadar ayah yang merangkap sebagai ibu, akan tetapi juga sudah seperti teman dan sahabatnya serta cinta pertamanya.
“Bener banget, Pi. Harusnya Papi kutuk anak tak ada akhlak macem Mika biar jadi kodok,” sahut Nesya yang langsung mencium tangan mertuanya diikuti Dira.
Mika mendelik, “Sembarangan lo! Enak aja dikutuk jadi kodok. Bisa-bisa ketenaran gue saingi pangeran kodok,” ucap Mika dengan menjitak kepala Nesya yang balik menjitak Mika.
Dira menatap keduanya dengan bosan, “Papi harus banyak sabar, punya anak sama mantu kelakuannya kayak bocah.”
Lelaki paruh baya itu hanya terkekeh mendengar penuturan Dira. Meskipun hanya memiliki satu orang anak perempuan akan tetapi papi Mika merasa memiliki tiga orang anak perempuan ditambah Nesya—menantunya dan juga Dira. Kedua orang itu sudah papi Mika anggap seperti puteri kandungnya sendiri.
“Pi, kok papi mau sih punya mantu kayak Nesya? Ngeselin banget orangnya.”
Kali ini Nesya yang mendelik ke arah Mika, “Papi, harusnya jadi papi Nesya aja. Soalnya Papi nggak cocok jadi papinya Mika yang nyebelin.”
“Loh? Kalian nggak tau?”Mika dan Nesya serempak menatap lelaki paruh baya di hadapan mereka dengan kernyitan.
“Tau apa, Pi?” keduanya pun kompak bersuara.
“Kalian nggak tau? Kalau Papi itu papinya Dira,” ucap Papi Mika dengan wajah jahil.
“IHH, PAPI NGGAK LUCU,” teriak keduanya dengan kesal.
“Berisik kalian berdua!” seru Dira kesal.
Lelaki paruh baya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Nesya dan Mika yang kekanakan serta Dira yang cuek bebek. Meskipun memiliki kepribadian yang berbeda, namun anehnya ketiga orang itu justru menjalin persahabatan dari dulu sampai saat ini. Sangat awet walupun sering dibumbui dengan keributan-keributan kecil.
“Lo aja yang ngomong.”
“Kok gue?”
“Katanya lo yang mau minta izin?”
“Tapi kan kalian yang pergi.”
“Udah lo aja!”
“Lo udah janji!”
Papi Mika mengernyit dan menatap ketiga puterinya itu dengan bingung. Pasalnya baik Mika, Nesya, atau Dira saling berbisik dan dorong-mendorong.
“Kalian kenapa?”
“Nesya mau ngomong, Pi,” ucap Mika dan Dira serempak.
Sial!
Nesya langsung mengumpat dalam hati saat Mika dan Dira dengan kompak menjadikan dirinya umpan. Padahal yang akan pergi hanyalah mereka berdua, akan tetapi mengapa ia yang harus menghadapi Papi. Ini semua karena suaminya yang sangat posessif yang membuatnya selalu menjadi bulan-bulanan kedua sahabatnya. Sepertinya Nesya perlu membuat perhitungan pada suaminya, kalau perlu tidak ia beri jatah selama satu minggu.
“Eh a-anu, Pi.” Mika dan Dira melotot ke arah Nesya yang sudah berkeringat dingin hingga suaranya menjadi tergagap.
Papi Mika mengernyit, “Anu suami kamu kenapa?”
“Hah?”
Mika dan Dira menahan tawa melihat wajah cengo Nesya dan wajah papinya yang kelewat santai. Herannya yang sudah menikah itu Nesya, namun mengapa wanita itu justru terlihat lebih polos dibandingkan Dira dan Mika yang otaknya sudah tercemar serbuk jasjus.
“Ppfttt ... hahaha.” Menyemburlah tawa Mika dan Dira yang sedari tadi tidak kuat mereka tahan.
“Papi, Nesya serius! Mau minta izin buat Mika sama Dira kondangan.”
Ketiga wanita itu langsung cengo saat melihat sang Papi yang mengeluarkan tiga kartu debit unlimited dan memberikan masing-masing satu kartu pada mereka. Lantas hal ini membuat ketiganya menghela nafas kasar. Papi Mika itu memang sangat baik juga royal, ia tak akan segan mengeluarkan pundi-pundi hartanya bahakan saat anak-anaknya sudah memiliki penghasilan sendiri. Papi selalu beralasan jika selama ini bekerja dan menghasilkan pundi-pundi rupiah itu untuk memanjakan anak-anaknya, jadi Papi tidak suka jika anak-anaknya menolak jerih payahnya. Benar-benar papi idaman, jika kalian tidak mengetahui bagaimana dibalik sifat royal dan baik hati sang Papi.
“Loh, katanya mau kondangan? Papi kasih kartu buat kalian belanja.”
Mika menepuk jidatnya, “Haduh, Papi. Kalau buat belanja, duit Mika masih ada. Lagian duit jajan yang Papi kasih masih banyak.”
“Terus apa?”
“Papi, Mika izin kondangan ke kampung halaman Dira sekalian liburan—“
“Nggak!”
Bahkan sebelum Mika menyelesaikan perkataannya, sang Papi sudah memotongnya dan menolak dengan tegas. Tidak hanya itu, papi Mika juga sudah menampilkan wajah galak dan menatap putrinya dengan tajam.
“Tap—“
“Papi bilang tidak, berarti itu tidak!” ucap Papi Mika sebelum beranjak dari kursi dan melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya beserta dengan ketiga wanita yang sudah mendesah frustasi.
“Papi ...”
Begitulah, dibalik sifatnya yang hangat dan juga royal, Papi Mika sangat posessif dan apapun yang keluar dari mulutnya itu sudah seperti perintah yang mutlak harus merekat turuti, juga jangan lupakan jika Papi sudah berkata A maka sulit untuk membuatnya berkata B.
Entah, bagaimana cara untuk meminta izin pada Papi. Yang jelas semua sudah menjadi PR seorang Nesya. Poor Nesya!