Tiga hari berlalu Jingga sudah boleh pulang tapi tetap harus istirahat total di rumah. Menunggu Rey yang sedang mengurus administrasi Jingga mengemas beberapa perlengkapannya selama di rumah sakit. Sebenarnya dia cukup kesulitan karena tangan kirinya belum bisa beraktifitas maksimal tapi dia ingin segera sampai rumah. Jingga ingat tanamannya yang baru tumbuh beberapa hari dan harus dia tinggalkan tanpa dirawat. Pintu terbuka, Rey muncul sambil mengernyitkan kening. “Kok udah diberesin, kan kamu nggak boleh banyak gerak dulu, Sayang.” “Nggak pa pa, dikit ini barangnya.” Mencubit hidung istrinya gemas. “Susah banget dibilanginnya.” Dibalas kekehan Jingga. “Yuk, nggak ada yang ketinggalan 'kan?” tanyanya menelisik isi ruangan. Jingga menggeleng kemudian menyambut uluran tangan suaminya. M

