Happy reading!
***
Lampu kamar belum menyala.
Andrew berjalan mendekati tempat tidurnya. Dia menarik ulur napasnya. Mencoba menenangkan diri.
Dia menjatuhkan badannya ke atas tempat tidur. Tangannya memegang pelipisnya yang terasa hampir copot itu. “Hff.” Andrew menghela napas.
Drrt ... drrt ....
Ponsel Andrew menggetarkan sakunya. Ia mengambil ponsel itu. Ada tulisan ‘Richard’ di layar ponsel iPhone-nya. Kemudian, dia mengusap ke kanan layar itu untuk menerima telepon.
Andrew: What’s up?
Richard: Bemper mobilmu rompal bro. Tadi gue udah teriak-teriak pas lu pulang.
Andrew: Iya udah tau. Gila emang nih orang nabrak bemper gue. Gak ngerti apa ya harganya selangit. Awas aja nih kalau ketemu!
Richard: Lha bukannya kemarin lu habis pasang kamera ya di spion lu?!
Andrew: Eh iya. Gue cek dulu deh. Thanks, Chad.
Tut.
Andrew pernah tinggal selama setengah tahun di Jakarta. Disanalah dia bertemu dengan Richard.
“Hah!” Andrew mengangkat kasar dirinya dari tempat tidur itu. Hendak berlari menuju mobilnya lagi.
Langkah demi langkah, kaki Andrew menapak di anak tangga.
“Andrew! Tomorrow we’re going to Bali ok?! I just remind you,” teriak William yang duduk di depan TV saat Andrew menuruni tangga. William hanya mengingatkan Andrew untuk tak lupa besok harus ke Bali.
Benar. Tadi Andrew hanya beralasan saja bahwa dia akan ke Bali malam ini. Dia sudah terlalu risih dengan Vera.
“Iya Pa!” pekik Andrew menjawab papanya itu.
Andrew membuka pintu depan. Dijumpainya mobil hitam miliknya yang terparkir tepat di depan teras. Berhimpitan dengan halaman depan yang penuh dengan rumput jepang dan tanaman-tanaman. Ada tanaman kamboja, pohon cemara pendek, dan ada kolam ikan dengan air mancur yang mengalir di dinding. Halaman itu dihiasi dengan sorot lampu kuning hangat. Rumah ini sangat cantik dengan lampu-lampu itu.
Andrew memasuki mobilnya dari sisi kanan. Kemudian, dia mengulurkan tangan ke arah layar LED yang baru di instalnya kemarin.
Klik.
Andrew memencet tombol kamera di layar yang terkoneksi dengan kaca spion. Dia mencoba mengecek dari kamera spion sebelah kiri. Namun dia tidak mendapati apapun.
Dipindahkannya pengaturan itu ke kaca spion kanan. Andrew memencet tombol ‘pause’ yang ada di layar LED saat dia melihat ada wajah wanita muncul di layar itu.
“Fu*k!”
Andrew menyalakan kamera di ponselnya. Berniat untuk mengambil foto wajah gadis itu. “She should pay for this!” kecam Andrew dalam hati. Wanita itu tetap harus menukar kerugiannya.
BUK!
Pintu mobil tertutup. Dia masih menggenggam ponselnya di tangan kanan. Emosi Andrew masih terukir di wajah tampannya itu.
Saat memasuki rumah lagi, Lies mengatakan, “Andrew ... kan mama sudah bilang tidak usah beli mobil harganya milyaran. Kalau rusak mahal kan.”
“Tauk ah, Ma,” balas Andrew kesal.
“Andrew!” bentak William. Dibalik kacamata yang dipakai papanya Andrew, terlukis kekesalan karena Andrew sudah membentak mamanya sendiri.
“Maaf, Pa.”
Andrew berhenti di pertengahan tangga.
“Say sorry to your mom! Not me!”
“Maaf, Ma.”
Setelah meminta maaf dengan dinginnya, Andrew kembali lagi ke dalam kamar.
“Anak itu benar-benar,” ucap William.
“Sudahlah, Pa. Papa dulu waktu ketemu mama juga masih tidak terkontrol emosinya.”
William sedikit terkekeh. “Masa, Ma?”
“Andrew itu hanya butuh pendamping, Pa. Kayaknya,” ujar Mama Lies.
“Sepertinya. Tahun ini dia sudah hampir 32 tahun. Carikan orang Jawa kayak Mama aja? Biar Andrew tahu perbedaan budaya. Biar lebih sopan, Ma. Gimana?”
“Biar Andrew memilih sendiri aja wanitanya, Pa.”
Andrew. Andrew sudah berbaring diatas kasur dengan lampu tidur yang menyala. Dia sudah berganti pakaian tidur. Dilihatnya layar ponsel dengan nyala terang menyebar di wajah blasterannya itu.
Dia memerhatikan wajah Lea yang ada di ponselnya. Berkali-kali dia memperbesar tampilan gambar itu. Dengan geram tentunya. Beragam umpatan tersulut di hatinya.
“Dasar wanita jalanggg! Beraninya menabrak mobilku seperti itu! Lihat saja! Aku akan menemukanmu!”
*Di malam setelah pertemuan dua keluarga*
Lea sudah berbaring diatas tempat tidur mengenakan piyamanya. Dia menatap atap kamarnya yang terpantul lampu tidur berbentuk bintang-bintang yang berputar lambat.
Lea berbicara pada dirinya sendiri di dalam kamar. Dia menyalakan musik dari ponselnya.
Lagu Via Vallen berjudul Sayang terputar di ponsel Lea.
“M-maksudnya? Andrew yang punya mobil yang aku tabrak di mall itu? Kok isoh, sih!?” gerutunya dalam hati. Bisa-bisanya pemilik mobil itu adalah Andrew.
Malam sabtunya diakhiri dengan kejombloan yang membuat Lea merasa konyol.
“Njirr! Kok yo de’e ilho!” rengeknya masih tak percaya.
Lea terdiam. Mencoba tidak memikirkan kejadian malam yang terkutuk ini baginya. Dia memejamkan mata.
“Sayang, opo koe krungu jerite atiku mengharap engkau kembali ....”
Lea bersenandung dan dalam diam dia meresapi lirik lagu tersebut dengan membayangkan wajah Rey. Dia teringat bagaimana Rey membohonginya. Lea sudah merasa memberikan seluruh hati dan jiwanya pada Rey. Namun, Rey tetap memilih kembali pada mantan kekasihnya, Sara.
Sara kembali mengusik Rey disaat yang tepat. Disaat hubungan Rey dan Lea semakin renggang. Seakan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Parahnya lagi, setelah Rey dan Lea putus. Rey masih jalan bergantian dengan Sara dan Lea. Lea tidak tahu akan hal itu. Sementara, Sara sudah mengetahuinya. Hal ini yang membuat rongga di dalam d**a Lea seakan tidak menghilang walaupun sekarang Rey dan Sara sudah menikah.
Lea terlalu mencintai Rey.
Seketika saat dia melirik akun Instagramnya, dia melihat kalau Rey sempat membalas Instastory-nya dengan emoticon senyum. Namun, Lea berusaha untuk tidak menggubris lelaki yang sudah beristri itu.
Keesokan paginya ...
“Bangunnn! Bangunnn!” teriak Lexy yang mendobrak kamar pintu adiknya itu.
“Mbak! Ah nganyelke tenan, kok!” teriak Lea sebal dengan kakak perempuannya ini.
Lea menarik bantal di bawah kepalanya itu. Menutupi seluruh wajahnya saat Lexy membuka tirai jendela.
Sinar matahari menyusup ke dalam kamar Lea.
“Ayo, to! Jare meh nikah, kok tangi jam songo! Pantes jomblo, Sis,” tutur Lexy, berdiri di samping Lea. Mengejek Lea yang katanya ingin menikah tapi malah suka bangun siang.
“Mbuh, Mbak, mbuh.”
Leoni masuk juga ke dalam kamar Lea. Duduk di tepi kasur Lea sambil menepuk-nepuk kakinya.
“Besok Minggu kan .... Jadi kamu tidak kerja kan. Ayo siapin baju-bajumu.”
“Ha? Mau kemana eh, Ma?”
Lea membuka bantalnya. Dia terkejut saat mamanya menyuruh menyiapkan baju.
“Itu ... Tante Lies mengajak kita liburan ke Parangtritis. Menginap di Queen of The South Beach Resort. Heleh angele le ngomong,” balas Leoni dengan lidah yang terpeleset.
Mata sayup Lea sudah terbuka lebar. “LIBURAN BARENG MAAA?!? YAWLA MAAA”
Lexy hanya tertawa melihat kelakuan adiknya itu. Dia menggelengkan kepala.
“Andrew juga ada?” tanya Lea was-was.
“Yo mesti to! Wong tujuane wae nyedakne kalian kok,” sahut Lexy. Menjelaskan bahwa tujuannya ini memang untuk mendekatkan Andrew dan Lea. Jadi, sudah pasti Andrew datang.
“Yaawla mbaaak,” rengek Lea lebay.
Wajah Lea memelas. Hawa yang dirasakan Lea panas dingin. Dia tidak ingin berhadapan dengan Andrew karena dia sudah menabrak mobil hitam SUV itu.