5 - Unexpected Honeymoon

1193 Words
Erangan Lea semakin jelas. “Mhh.” Dia menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya. Merasa ada sesuatu yang menggerogoti seluruh tubuhnya. Hawa nafsu. Napas Lea terengah-engah. Klik! Suara pintu terkunci. Andrew menggedor-gedor pintu kamar itu. “Ma! Ma!” Kunci yang seharusnya menggantung di pintu itu sudah lenyap. Mamanya Andrew sengaja mengunci pintu. Menjalankan rencana yang sudah dibuat dengan mamanya Lea. Leoni, mamanya Lea, datang mendekat. “Gimana, Mbak? Udah terkunci?” “Udah, Mbak. Hihi. Yuk kita tinggal mereka berdua semalaman,” ucap mamanya Andrew cekikikan. “Ahh,” lirih Lea meraskan panas dalam tubuhnya itu. Andrew yang mendengar desahan Lea semakin terpancing. Suara Lea memancing adik kecilnya di dalam celana itu. Semakin mengembang dan menegak. Celana itu semakin terasa sesak. Serbuk yang dibawa oleh Lies sudah bereaksi hebat pada Lea dan Andrew. Lea semakin tidak tertahankan. Obat itu sudah merasuki seluruh tubuh Lea. Dia menarik bajunya keluar. Sekarang, dia hanya memakai pakaian dalamnya. Lea mulai panik. Beberapa desahan halus keluar dari bibirnya. Andrew mencoba menahan gairahnya itu. Tangannya yang diletakkan di daun pintu kamar itu mengepal. Meski begitu, Andrew tetap mendengar desahan Lea. Saat Andrew membalikkan badannya melihat Lea, jantungnya berdetak lebih cepat. Darahnya mengalir deras. Kulit putih Lea sangat menggoda Andrew yang sedang menahan tubuhnya agar tidak menimpa Lea. Namun, Lea yang sedang mencoba melucuti pakaiannya sendiri itu membuat pikiran Andrew semakin menjadi. Apalagi dengan suasana dingin dan remang ini. Sangat sempurna. “Seksi,” batin Andrew yang kepalanya sudah berkunang-kunang itu. Tak perlu memakan waktu lama, Andrew langsung mendorong Lea ke ranjang. Hormon lelaki sudah memenuhi isi otak Andrew. Dia tidak memedulikan apapun kecuali melahap tubuh Lea. Bibir Andrew sudah mendarat di gunung kembar milik Lea. Dia terus memberikan sengatan pada Lea. Badan Lea meliuk-liuk menikmati gumpalan kenikmatan yang diberikan Andrew. Mata Lea kadang terpejam kadang terbuka. Sayup-sayup. “Uhh.” Suara manja Lea memberikan sinyal pada Andrew bahwa dia meminta lebih. Sesekali Andrew melihat ekspresi seksi Lea saat ia melahap isi dalam bra itu. Tangan Lea pun mulai mengelus dan mengarahkan kepala Andrew. Setelah puas membuat Lea mengerang nakal, Andrew beralih ke daerah bawah. Wajah Andrew saat ini sudah berada di tengah pangkal paha seksi milik Lea. Wangi khas yang ditimbulkan dibalik kain segitiga itu membuat Andrew semakin penasaran dan ingin segera membukanya. Jarinya mulai meraba dan memberikan pijatan lembut di daerah sensitif milik Lea itu. Lea menggeliat hebat saat Andrew menyentuh bagian itu. Tidak hanya sampai disitu, Andrew melepas pelan celana yang dipakai Lea. Dia membuka paha Lea lebar agar dapat memainkan bibirnya di lubang empuk itu. Lea semakin mengerang menikmati gerakan bibir Andrew. Andrew tidak sabar ingin memuaskan barang sensitifnya juga. Dia menerobos liang basah milik Lea sekarang. Andrew menyerang Lea berkali-kali hingga mereka hampir mencapai puncaknya. Segeralah Andrew mempercepat ritmenya. Lea merasakan sesuatu di dalam otaknya. Rasanya ada yang memberinya kode bila sesuatu akan keluar di bawah sana. “Ah!” teriak Lea. Matanya membelalak, masih memeluk tubuh Andrew yang berotot itu. Andrew juga sudah mengeluarkan seluruh cairan itu di dalam tubuh Lea. Mereka berdua mencapai puncak secara bersamaan. Lea dan Andrew langsung terdiam dan berbaring di ranjang. Napas mereka tersengal. Keduanya merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa hebat. Bahkan, membuat mereka terlelap dalam satu ranjang untuk semalaman. Hari berikutnya .... Sinar mentari pagi sudah menembus kaca jendela yang tertutup rapat oleh tirai berwarna krem. Masih terpejam, Lea tersenyum puas dan senang. Perlahan dia membuka kelopak matanya yang terasa lengket itu. Dia berniat menyapa seseorang yang kakinya sedang memilin kaki Lea dibawah selimut. Lea membuka mata. Dia berpikir sejenak melihat wajah seseorang di depannya. Berkali-kali matanya berkedip. Penglihatannya semakin jelas. Disaat yang bersamaan, Andrew juga membuka kelopak matanya lebar. “AAA!!!” Keduanya teriak histeris dengan badan telanjang yang tertutupi oleh selimut. Mulut mereka menganga lebar. Badan mereka kaku. “Kamu!” “Kamu!” Mereka berdua saling menunjuk satu sama lain. Rasa kesal dan jijik dirasakan mereka berdua. “Kok kamu?!” geram Lea kasar. Saking terkejutnya, badan Lea semakin mundur dan .... Bruk! Lea terjatuh dari kasur dan selimutnya ikut tertarik. “Aww!” Sedangkan Andrew juga kaget karena badannya sekarang tidak ada yang menutupi. Andrew menutupi adik kecilnya itu dengan kedua tangan. “Hei kamu!” teriak Andrew. Drrt ...drrt .... Sepersekian detik kemudian, ponsel Lea bergetar. Lea merangkak ke arah rak meja dibawah flat screen TV di seberang kasur. Dia masih berada di dalam selimut seperti kepompong. Tangan Lea meraba-raba rak tersebut mencari ponselnya. Matanya masih sedikit terpejam agar dia tidak melihat Andrew yang tanpa busana itu. “Aih! Ndi sih hapeku?” gerutunya mencari ponsel. “Halo. Gimana, Rin?” sahut Lea menempelkan ponsel di telinganya. “Mbak, ini ada yang pesan pouch yang motif polkadot merah. Dia pesan 10 biji tapi di toko tinggal 6. Gimana? Cancel aja atau gimana?” “Kayaknya dirumah masih ada tuh. Nanti kalau aku udah dirumah tak carikan ya.” “Ya, Mbak. Nanti kabari lagi. Makasih yaa,” ucap Rini. “Sip. Makasih udah jadi admin di hari libur juga. Haha.” Tut. Lea meletakkan kembali ponselnya diatas rak itu. “Eh,” ucap Andrew memanggil Lea, “itu hapemu?” “Iya lah. Kalau bukan hapeku ngapain aku angkat. Si bodoh,” jawab Lea tanpa melihat Andrew. “Apa katamu?! Eh ... kalau itu hapemu lalu tadi malam itu hape siapa?!” kata Andrew heran. “Ya gak tau lah. Hape yang mana, sih?” Andrew tidak menghiraukan ucapan Lea. Dia beranjak dari tempat tidur. Bola matanya berkeliaran mencari ponsel yang kemungkinan jatuh di lantai. “Ini,” ucapnya sambil menunjukkan ponsel itu pada Lea. Tangan yang satu masih menutupi senjata lelakinya itu. Lea melirik ke arah Andrew. Cemas bila dia harus melihat barang terlarang milik Andrew itu. “Bukan ponselku lah. Jelas,” protes Lea. “MAMAAA!” teriak Andrew kesal. Dia menyadari bahwa ini semua ulah mamanya. “Lea! Ini semua ide mamaku. Itulah kenapa tadi malam mamaku mengancing kita berdua disini. Aku tidak mau mamaku bahagia karena rencananya yang bisa dibilang ... berhasil. Jadi, aku minta bila ada yang menyinggung soal kejadian semalam, bilang saja tidak ada apa-apa diantara kita.” Lea membalas, “cih! Emangnya aku mau ngakuin udah berduaan sama kamu? Males banget! Lagian aku juga gak inget apa-apa.” Andrew menghela napas, “Whatever! Yang penting kamu ingat utangmu ke aku.” Andrew tersenyum pahit. “U-utang apaan?” jawab Lea terbata-bata. Dia mengedip-ngedipkan matanya. Andrew mencari-cari pakaiannya. “Bemper mobil lah enak aja. Inget ya! Gak ada yang boleh tau kejadian semalam.” Andrew sekarang sudah memegang pakaiannya dengan salah satu tangan. Lea berlari ke kamar mandi. Masih terbalut dengan selimut. Dia juga membawa semua pakaiannya yang tersebar di lantai parquet ini. “Dasar wanita gila. Ke kamar mandi pakai selimut!” teriak Andrew dengan Lea yang sudah menutup pintu kamar mandi. Dia berdecak. Lea masih mendengar ucapan Andrew dari dalam kamar mandi. “Hati-hati kalau ngomong ya!” Dia bersembunyi dari Andrew. Tidak ingin menatap laki-laki yang dia pikir sok tampan itu. Lea duduk diatas toilet dengan selimut putih tebal. Dia bergidik geli. “Hiii! Aku bercinta sama cowok kayak dia! Menyebalkan.” Mengapa Lea terlihat begitu tenang, ya? Meski sebal juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD