Halusinasi

1551 Words
Alan Wibisana    Hari ini tubuhku lelah sekali. Mobil sengaja aku tinggalkan di rumah sakit. Mengajar di kampus hingga dzuhur lalu setelah itu kembali ke rumah sakit. Mengecek pekerjaan di laboratorium lalu dapat panggilan darurat untuk membantu IGD karena ada kasus kecelakaan beruntun di jalan tol. Pasien banyak yang luka parah karena melibatkan dua bis pariwisata. Sepanjang jalan aku habiskan untuk tidur di mobil yang dikemudikan pak Pardi. “ Den Alan, sudah sampai Den.” Suara beratnya menyentak kesadaranku. Setelah menghirup nafas dalam beberapa kali. Aku membuka pintu sampingku dan keluar. Langit sudah bertabur bintang. Kulirik arloji di tangan. Jam sepuluh malam. Pantas saja tulang belakangku mau rontok rasanya. Ibuku yang sudah memakai pakaian tidurnya yang dibalut kimono sutra, berdiri di depan pintu. Kuhampiri wanita tua itu dan kucium punggung tangannya sambil mengucapkan salam. Dia tersenyum membalas salamku. Kukecup kedua pipinya seperti biasa. Ini adalah protokol yang kujalani sejak kecil jika pulang sekolah dulu. Saat beranjak remaja aku sempat malu jika terlihat tetangga atau teman-temanku. Tapi Mbak Arini memberiku penjelasan logis yang membuatku dapat membuang perasaan itu. Terlebih ketika berada di luar negeri dan jauh dari keluarga, rutinitas seperti itu membuatku kangen. Memori sederhana itu sangat berharga seperti intan. “ Kok sampai malam begini sih?” “Tadi ada kecelakaan beruntun di jalan tol. Kami semua sibuk.” “Ooh...kamu sudah makan?” “Belum sempat.” “Tadi Mamah buat kepiting kari kesukaanmu. Tunggu sebentar ya, Mamah hangatkan dulu.” “ Oke deh. Aku mandi dulu ya Mah. Lengket sekali badan.” “Ya udah sana.”   Ketika kembali ke ruang tengah. Ibuku sudah duduk menunggu. “ Kok masaknya kepiting sih Mah. Kolesterol Mamamh nanti tinggi lagi lho. Mamah kan sensitif sama makanan-makanan tertentu. “             “ Eh ini anak ya. Ini tuh untuk kamu Nang. Mamah mah nggak makan. Cuma nyicipin doang, sedikit.” Aku melirik sebal ke arah ibuku yang sedang mengambilkan nasi ke dalam piring. “ Sama aja dong.” “ Ya nggak sama lah. Nyicipin itu cuma sedikit aja. Buat ngerain pas apa nggak, garam gula dan gurihnya. Cuma sesendok doang kok. Dagingnya sama sekali nggak dimakan. Semua buat kamu.” Aku tak berniat mendebatnya lagi. “ Pasti kamu capek banget ya Lan?” Aku mengangguk. “ Apa tadi banyak yang luka parah?” Aku mengangguk lagi. Kutelan sisa makanan di mulut sebelum menjawabnya. “ Ya banyak yang luka parah karena dua bis pariwisata, tiga mobil city car satu truk tronton dan empat van keluarga. Beberapa yang sampai rumah sakit dalam keadaan meninggal.”             “Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun” Dia memperhatikanku makan dengan wajah ceria walau waktu sudah selarut ini. Aku menduga ada yang membuatnya gembira seharian ini. “Kalau capek banget besuk nggak usah ngajar lah. Istirahat dulu saja.” “ Kalau itu yang Alan nggak bisa lakukan Mah. Ngajar kalau ditunda itu nanti efeknya panjang. Perilaku dosen yang sering bolos bisa ditiru mahasiswa nanti. Bahaya dong.” “ Trus gimana dong? Mau Mamah pijetin Lan?” “Nggak usah deh. Mamah juga capek aktivitas seharian kan? Sabtu besuk panggil Ali saja deh buat pijet Alan ya, Mah. “ “Iya nanti Mamah sampaikan ke pak Pardi bawa anaknya sabtu siang besuk sepulang sekolah suruh ke sini setelah pulang sekolah.” Ali adalah anak tunggal pak Pardi dari istri keduanya. Istri pertamanya sudah meninggal dan mereka tidak dikaruniai anak. Ali memiliki bakat fisioterapi. Usianya belum tujuh belas tahun tapi sudah mahir memijit. Tekanan pada titik-titik syaraf pada tubuh itu menurut penilaianku sudah tepat.  Aku harus merayu temanku yang menekuni akupunktur dan herbal untuk mau menerima Ali sebagai murid kursusnya. Aku yang membiayai pendidikannya di sekolah maupun di tempat kursusnya. Selain sopan dan punya akhlak yang baik, anak itu cukup cerdas dan dengan mudah menyerap cepat materi pelajaran yang diberikan padanya. Aku cukup senang menerima laporan dari temanku yang sering mengabarkan kemajuan yang dicapai Ali. Mamahku sudah berani menyatakan akan memberikan bantuan jika dia memang berminat masuk ke fakultas kedokteran nantinya. “ Lan...” “ Hem...” “ Mamah mau ngomong  lho.” Aku baru saja menuntaskan makan malamku. Mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya hingga separuh. “ Bukannya dari tadi juga Mamah udah ngomong ya?” Aku terkekeh pelan sambil meletakkan gelasku kembali ke atas meja. Ibuku mencebik mendengar tanggapanku. “Mau ngomong apa Mamahku sayang?” Kuberikan senyum terbaikku untuknya. Semakin tua, terkadang ibuku sering bertingkah seperti anak kecil yang sering ngambek jika kurang mendapat perhatian. Ibuku tersenyum. “ Tadi siang kan Mamah belanja di daerah alun-alun, trus nggak sengaja ketemu seseorang di sana. “ “Seseorang? Siapa?” “ Nah itu dia. Mamah nggak tahu siapa namanya, Lan.” Aku mengerutkan kening. “ Lalu apa istimewanya dia sampai Mamah mau ceritakan ke Alan?” Ibuku tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia. Menduga sebentar lagi aku akan mendapat berita baik. Senyum ibu menular padaku. “ Mamah tadi  ketemu gadis berkerudung. Dia ayu dan manis sekali. “Ibuku masih tersenyum tapi alarm di otakku sudah menyerukan tanda bahaya. Biasanya kalau ibuku sudah menyebut kata gadis dengan banyak senyum dan binar bahagia di matanya itu adalah pertanda dia akan menjodohkanku dengan gadis tersebut. Kemudian merancang pertemuan kami. Blind date. Senyumku mulai surut. Sudah bosan rasanya dijodohkan dengan si “ini” dan si “itu”. Rasanya pasaranku sebagai jejaka kok buruk sekali ya kalua begini. Perasaan aku masih belum tua sekali dan masih sanggup mencari jodoh sendiri. Usia tiga puluh satu untuk seorang pria belum dikategorikan tua, benar kan? Aku beranjak dari tempat duduk dan beralih ke sofa di depan layar LCD yang besar. Kuraih remote di atas meja dan memencet tombol on.  “ Eh gimana sih, orang tua lagi cerita kok ditinggal pergi begitu saja?” “ Maaf Mah. Alan pengen selonjoran di sofa. Pegel nih kaki minta diluruskan.” “ Yah tapi nggak gitu juga kali Lan.” Ibuku mulai mendengus kesal. Aku menarik Tangannya untuk duduk di sampingku.             “Trus kelanjutan ceritanya bagaimana?” Nada suaraku yang dibuat seceria mungkin itu untuk membuat kesal di hatinya menghilang. Ibuku masih menatapku lurus. Mungkin ia masih menilai perilakuku. Sadar kalau diperhatikan, aku pura-pura serius mengikuti acara talk show di televisi.             “ Kok diam sih Mah? Katanya tadi mau cerita. Apa kelanjutannya?” Mamahku menghela nafas berat namun masih enggan untuk melanjutkan ceritanya. “ Tadi kan Mamah belanja di sekitar alun-alun dan bertemu seorang gadis cantik berkerudung. Begitu kan? Trus...” Aku mulai memancingnya untuk berbicara kembali. “Mama rasanya jatuh hati deh sama dia.” Ibuku tersipu. “ HAH?” Aku membelalakkan mata dan menutup mulut.             “Jatuh hati? Masak jatuh cinta sama perempuan Ma? Itu kan namanya jeruk makan jeruk.” Ibu memukul bahuku dengan keras dan membuatku mengaduh. Dia mendengus kesal             “Kamu pikir Mamahmu ini apa? Mamah ini masih wanita normal ya. Kalau jatuh cinta ya sama lelaki, apalagi kalau orangnya ganteng ya.” Matanya masih mendelik menatapku. Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku. “ Kayak aku ya Mah gantengnya?” Alis mata aku naik turunkan untuk menggodanya. “ Ya kayak almarhum Papamu lah. Kalau Papamu nggak ganteng, mana bisa kamu jadi ganteng juga. Seluruh wajahmu itu adalah warisan dari almarhum Papa.” Aku tersenyum geli. Kuraih tubuh ibuku dari samping untuk masuk dalam dekapanku beberapa saat lalu kucium pipinya yang mulai kendor.             “ Bukan itu maksud Mama, Lan. Meskipun Papamu sudah meninggal tapi cinta dan sayang Mamah sama almarhum Papamu tidak pernah hilang. Maksud Mamah tadi itu, simpati dan tertarik dengan gadis itu. Nggak tahu kenapa kok tiba-tiba membayangkan kalau dia jadi menantu mama. Bersanding denganmu. Sepertinya kalian serasi.” Aku berdehem keras. Memandangi ibuku untuk beberapa saat.             “ Mama kenal siapa gadis itu?” Ibuku menggelengkan kepala.             “ Terus bagaimana caranya menjodohkan kami?” Dia menyeringai kecil tanda bersalah.             “ Nah itu sih salahnya Mamah. Lupa tanya namanya. Sebenarnya sudah tanya sih, tapi dia nggak jawab.” Aku mengerutkan kening. “ Kata Mamah tadi, dia adalah gadis yang sopan. Mengapa ditanya namanya tidak dijawab dengan baik?” Kali ini ibuku yang berdehem.             “ Kejadian sebenarnya tadi siang itu, dia sedang bercanda dengan temannya hingga akhirnya dia menabrak Mamah secara tidak sengaja. Dia sudah meminta maaf berulang kali dan membantu Mamah untuk membereskan kantong belanjaan yang terserak. Kemudian dia menawarkan diri membantu Mamah untuk menebus kesalahannya.” “Ya udah Mamah suruh aja milihin dua stel kain kebaya dan kain jaritnya trus tanya nomor sepatunya. Sewaktu memilih kain, kami sempat berbincang sebentar. Mama juga sempat belikan sepatu dengan ukuran dia lho.” ucap ibuku bangga dan mengeluarkan hasil belanjaannya siang tadi. Aku mengerutkan kening, tangan kananku memegang dagu. “Tapi ya itu tadi saat dia sudah pergi menjauh, mamah baru ingat kalau lupa menanyakan namanya. Mama sempat teriak menanyakan namanya, namun sepertinya dia tidak mendengar.” “Trus barang-barang ini untuk siapa?” “Ya buat calon istrimu nanti lah. Memangnya buat siapa lagi?” Aku bengong menatapnya. Dia tersenyum geli melihat tampangku. “ Buat apa sih Ma? Belum tentu nanti calon istriku punya ukuran sepatu yang sama dengan dia, Ma.” “ Eh, percaya deh sama Mamah ya, nanti siapapun gadis yang akan jadi calon istri kamu, pasti dia benar-benar pas pakai sepatu yang Mamah belikan ini.” Alan menaikkan sebelah alis, melempar tatapan ragu mendengar penjelasan mamanya. “ Mama aneh ah...” “ Kamu tuh Lan,  kok nggak percaya sih? Coba aja kita lihat nanti!”     *********        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD