Meidinda Rajingga Matahari sedang ada di puncak. Aku, Shinta dan Rosa menunaikan sholat berjamaah dengan Pak Alan yang menjadi imam kami. Entahlah, sholat berjamaah kali ini aku merasa sholat berjamaah dengan ayah sebagi imam. Perasaanku menjadi tenang dan damai. Karena lelah, pikiranku masih belum melamun. Bayangan ayah masih memenuhi kepalaku. Aku masih menunduk berdoa. Ketika pak Alan berbalik ke belakang, menyalami kami bertiga, tapi yang aku lihat hanya telapak tangannya yang ada di depan mata. Aku menyambut uluran tangannya dan mencium punggung tangannya. Kedua temanku terkikik geli melihat tingkahku. Setelahnya aku baru sadar, kalau yang menjadi imam tadi bukan ayah atau mas Edwin, melainkan pak Alan. Dia pun tampak terperanjat tidak menyangka akan diperlakukan seperti itu,

