Meidinda Rajingga Pak Alan muncul di depan pintu. Aku dengan cepat menarik selimut yang kupakai menutupi kepala. Ibu tersenyum geli melihat tingkahku. “ Kenapa harus begitu? Dia sudah jadi suami kamu lho. Nggak masalah buka jilbab di depan suami, malah jadi pahala.” “ Permisi Bu, saya mau periksa luka Iga. Tadi Edwin yang menyuruh saya untuk melakukannya.” Ibu tersenyum memandang pak Alan. “Silahkan saja. Toh Iga juga sudah sah jadi istrimu. Ya sudah, ibu keluar dulu ya.” Pak Alan mengangguk dan aku semakin canggung. Dia berbalik berjalan mendekatiku. “Gimana, masih pusing? “ “Sedikit” “Coba buka selimut itu.” Aku diam saja. “Kenapa nggak mas Edwin saja sih yang periksa?” “ Kamu lupa kalau saya juga dokter?” Aku memasang wajah memelas. Dia menatapku

