Camping

1744 Words
Meidinda Rajingga   Kami segera mendirikan empat tenda tak jauh dari bibir laut di sisi barat sebuah rumah panggung pantai yang dindingnya terbuat dari kayu yang tingginya hanya sepinggang. Untuk bisa mencapai lantainya dan duduk di sana, kita harus menaiki tangga kayu terlebih dahulu yang terletak di bagian depan. Dari kejauhan rumah panggung yang cukup tinggi itu seperti menara pengawas di pantai, hanya lebih lebar. Tak jauh dari sana ada sumur kecil yang jernih. Meskipun dekat laut tapi air sungai ini tawar dan tidak berasa asin. Wiwid, aku, dan Siska adik bungsu Marco kami tinggal satu tenda. Tenda yang agak besar ditempati Ayu, Rosa, Shinta dan Memey. Sementara tenda yang lebih besar ditinggali beramai-ramai untuk Ari. Marco, Indra, Alex, Sodiq, Dewa dan Deny. Tenda satu lagi digunakan menaruh barang. Setelah selesai berberes, hari masih pagi dan kami duduk bersama membuka bekal sarapan pagi dan menyantapnya bersama. Kami bercerita akrab dan tercetus ide  untuk melakukan kegiatan penggalangan dana untuk kegiatan sosil,  yaitu memperbaiki atap ruang kelas dan pemberian buku bacaan untuk sekolah yang rusak di pelosok desa di daerah pedalaman. Sembari memperhatikan,  mendengarkan cerita mereka dan ikut tertawa, jauh di dalam hatiku aku bersyukur tak terkira karena Alloh sudah menghadirkan mereka dalam hidupku. Tak lama kemudian kami berganti pakaian dan berenang serta main air. Siska kemudian melepas ikatan tali pengikat sampan kecil milik oma dan menghampiriku. " Kak Iga, masih bisa mendayung kan? Ayo kita mancing, lumayan kan dapat ikan untuk makan siang", ajaknya. Segera aku dan Wiwid naik ke atas perahu dan kuambil batang dayung dan mulai mendayung sedikit jauh menuju ke tengah laut. Aku masih hafal daerah spot mancing yang terdekat dan mengarahkan sampan ke sana. Benar saja, tak perlu lama, joran kami disambar ikan. Senang sekali saat menariknya walaupun berat karena ikan melawan. Butuh sedikit taktik untuk mengalahkan dan mengangkatnya ke atas sampan, ini adalah salah satu pelajaran yang diajarkan kakek Philip dahulu. Ikan yang kami dapat cukup banyak dan ukurannya lumayan besar. Siska bercerita kalau lima tahun terakhir ini masyarakat desa nelayan ini sudah diedukasi melakukan konservasi terumbu karang. Beragam kegiatan telah dilakukan dengan stek karang, membuat biorock untuk memperbaiki terumbu karang yang rusak, menjaga kebersihan pantai dan laut, dan lain-lain. Siska bercerita banyak tentang perkembangan kota kecil dan pulau kami, serta kemajuan sekolah kami dahulu waktu SMA. Adik Marco itu masih kelas dua SMA dan tahun depan dia akan meninggalkan pulau untuk kuliah. Dia bercita-cita bisa melanjutkan pendidikan di pulau Jawa, karenanya banyak bertanya tentang kehidupan perkuliahan padaku dan Wiwid. Setelah dirasa hasil tangkapan kami cukup, gantian Wiwid yang memegang batang dayung dan mengarahkannya kembali ke pantai. Sahabatku yang calon dokter itu cukup cekatan juga dalam mendayung sampan. Kagum aku dibuatnya. Kami melakukan banyak kegiatan setelahnya bersama dengan ceria dan bersemangat. Ketika waktu sholat tiba kami sholat berjamaah. Di sini tidak ada mushollah apalagi masjid. Kami melakukannya berjama'ah di atas rumah panggung.  Deny, Ari, Indra dan Sodiq bergantian sebagai imam selama dua hari ini. Teman-teman kami yang non muslim tak pernah mempersalahkan. Mereka turut membantu menyiapkan tempat sholat dan air bersih untuk berwudhu. Sepanjang malam kami habiskan dengan duduk di sekitar api unggun, bercanda dan bercerita juga berdiskusi. Rasanya aku nggak akan bisa melupakan kenangan ini. Kami sadar, beberapa tahun ke depan akan sulit untuk dapat berkumpul bersama seperti malam ini. Contohnya saja  Marco dan Deny yang baru dilantik presiden sebagai perwira remaja akan menjalankan penugasan mereka namun sebelumnya mereka akan mengikuti pendidikan kembali dengan keahlian khusus setelah delapan hari ke depan. Marco bergabung dengan angkatan laut dan Deny di angkatan udara. Mereka berdua adalah orang yang paling mendesak kami untuk cepat merealisasikan bakti sosial ini. Kami senang melihat Marco dan Deny telah berhasil menuntaskan pendidikannya di akademi dengan sangat baik. Kami pun tidak lama lagi akan sibuk dengan studi di kota pendidikan masing-masing. Memasuki semester tujuh mulai memasuki persiapan penelitian dan skripsi serta tugas akhir. Walaupun demikian, kami tak mau melewatkan momen berharga ini tanpa kesan dan makna. Konsep dan rencana penggalangan dana untuk membantu pendidikan di sekolah-sekolah pedalaman pulau ini. Kami harus tuntaskan perencanaan ini dengan matang, sehingga diputuskan perlu mengajak beberapa teman lagi untuk membantu. Tatkala hari minggu pagi kami membiarkan Marco, Siska, Memey dan Alex beribadah di sebuah gereja kecil di desa nelayan ini. Kami yang menyiapkan makan pagi dan membereskan barang-barang. Menjelang siang, kami memiliki acara masing-masing. Ari dan Wiwid menaiki sampan berdua. Deny, Indra dan Dewa mencoba peruntungan memancing di atas karang yang menjorok ke pantai yang tak jauh dari tempat itu. Aku dan Ayu sibuk membantu Shinta dan Rosa memasak.  Setelah makan siang selesai, Opa menantang kami untuk menombak ikan. Kami kemudian mengadakan semacam perlombaan. Yang paling banyak mendapat ikan akan menjadi pemenangnya. Dia akan menjadi raja sehari. Apapun permintaannya akan dituruti oleh kami semua selama satu hari penuh. Tentu saja aku bersemangat. Sepertinya menyenangkan sekali mengerjai teman-teman yang lain dengan memerintah mereka sesuka hati. Kami bergerak ke timur desa. Di sana ada sebuah muara yang cukup luas dan airnya biru kehijauan, sangat jernih. Karena kami terlalu berisik, saling meledek dan bercanda. Menggoda satu sama lain, terutama ketika salah satu diantara kami hampir mendapatkan buruanya. Tentu saja membuat Opa Philip kesal. Meski sudah berkali-kali diingatkan kakek supaya tak bersuara, tapi tetap saja ada yang iseng berkomentar lucu dan ditanggapi oleh lainnya. Tak ada satu pun ikan yang bisa kami tangkap. Berakhir dengan saling menciprati air satu sama lain dengan cekikian lalu menarik juga mendorong tubuh satu sama lainnya untuk tercebur masuk ke sungai. Kami berenang dan tertawa bersama.  Meskipun kesal, opa hanya bisa tersenyum dan menghela nafas. Dia paham kalau kami sedang melepas kangen karena tiga tahun tak bertemu. Dia memutuskan segera berpindah tempat ke hulu sungai untuk menjaring dan menombak, karena di daerah hilirnya sudah ramai dikacaukan kami bertiga belas. Usia kami sudah 20-an, tapi mengapa kalau kumpul kembali, rasanya seperti bocah yang masih SD atau SMP saja saat bermain. Ya, kami berteman akrab sejak masih SD dahulu. Aku,  Ayik dan Wiwid malah sejak bayi sudah bersama.             Reuni di desa nelayan itu berlangsung tiga hari dua malam. Malam terakhir kami bahkan tak bisa tidur, kami masing-masing menceritakan apa impian dan cita-cita kami setelah selesai menuntaskan pendidikan masing-masing. Apa kegalauan dan hambatan kami mencapainya, dan yang lain mendengarkan juga menanggapi walau tidak semuanya memberi saran. Kami menceritakan pengalaman Aku menceritakan betapa sulitnya mendapat nilai cukup untuk lulus dari salah satu mata kuliah yang diajar oleh dosen muda, idealis, fresh graduate program doktoralnya di Inggris. Meskipun orangnya sangat tampan tapi sikapnya yang tidak adil dan tidak simpatik membuatku membencinya. Ari menepuk punggungku dan meledekku, " Maafkan saja Ga supaya hatimu enteng. Dari tanda-tandanya sih sepertinya dia suka ke kamu. Jangan terlalu membencinya, karena dari benci itu lama-lama bisa jadi cinta lho."Aku langsung melotot padanya. Dewa bertanya padaku dan Rosa, " Iga dan Rosa, mengapa di dalam pikiran kalian hanya riset dan kuliah saja? Kapan kalian merencanakan akan menikah?". "Aku pengen nikah muda, Dewa. Kalau ada calonnya. He...he... Si Iga aja tuh yang ngebet belajar terus kuliah terus." Rosa menjawab. “  Aku akan menikah suatu hari nanti kalau sudah selesai pendidikan profesi,” jawabku mantap. "Betul. Kalau bisa perempuan diupayakan tidak terlalu tua untuk menikah karena kalian akan melahirkan anak yang akan beresiko tinggi pada usia tertentu, jawab Sodiq si calon dokter. " Aku juga ingin menikah muda, Ros". Jawab Ayu yang melirik Dewa. "Aku juga berpikiran begitu, kalau ada yang melamar dan sesuai kriteria, pasti akan segera ku "iya" kan", jawab Memey ceria. Denny berdehem beberapa kali. "Kalau aku memang sudah kepingin menikah, karena pendidikan dokter itu lama. sekali waktunya, iya nggak, Diq? Tapi masalahnya siapa yang mau melamar, calonnya saja belum ada". Jawab wiwid tertawa sambil melirik ke arah Sodiq yng memberikan senyum manis.  Sementara di tempat lain Ari mulai cemberut. Aku terkekeh melihatnya. “Kalian apa masih sering konfirmasi kalau kondisi papua itu sudah modern dan bukan primitif  lagi?”             “ Masih Wid. Saya sampai capek mengkonfirmasi ulang. Ya sudah, suruh lihat saja video yang terbaru tentang Papua.” Ucap Memey             “Malah lebih dari itu, terkadang mereka heran tidak menyangka kita juga mampu mengikuti kuliah dengan baik.” Rosa mengeluh. “ Sama dong. Malah menganggap kita jauh lebih bodoh dari pada anak-anak Papua lain karena kita tinggal di pulau kecil terpisah dari daratan besar Papua.” Shinta menimpali. “Nggak usah ditanggapi lah. Acuhkan saja kalau begitu. Ajak mereka ke sini untuk lihat sendiri. Berdebat sama orang yang tidak mengerti sama sekali hanya buang-buang energi saja.” Saran Marco. “ Makanya aku sibuk buat ini dan itu di Bandung. Ikut penelitian ini dan itu, lalu ikut lomba, salah satunya untuk membuktikan kalau kita anak Biak yang katanya pulau kecil di Papua juga punya potensi dan kemampuan yang sama dengan anak-anak di Jawa. Ini hanya masalah kesempatan saja.” “ Iga mantap. Su punya pacar kah di Bandung?” Marco mengacungkan jempol tangannya lalu mengedipkan sebelah matanya. Aku melemparnya dengan kulit pisang tapi dia mengelak dan tertawa. Yang lain ikut menggodaku dan tertawa. Namun kemudian aku balas menggoda mereka. Akhirnya kami sibuk saling menggoda dan mengerjai satu sama lain. Tertawa bersama. Tidak ada yang sakit hati. Malam makin larut, namun suasana hangat persahabatan ini membuat kami enggan untuk memejamkan mata. Saling bercerita, curhat, menghibur dan memotivasi hingga dinni hari. Gemerlap bintang berkilauan terang di langit malam itu seolah ikut merayakan kebersamaan kami. Dua terpal yang besar dihamparkan di atas pasir. Kami tidur terlentang berjajar menatap langit. Terpal untuk anak lelaki terpisah dengan kami yang perempuan. Api unggun masih menyala menerangi sekeliling. Sementara bunyi ombak bagai simfoni yang merdu. Marco kemudian mengajak menebak gugusan bintang dan namanya lalu arah mata angin yang ditunjukkan. Hanya hal sederhana ini saja bisa membuatku bahagia. Tak ada satu pun yang terlelap. Hampir dini hari ketika Sodiq dan Ari kemudian mengajakku dan teman-teman yang muslim untuk sholat tahajud bersama. Di alam terbuka, dengan suara deburan ombak yang mengiringi, memberikan efek syahdu pada ibadah kami. Kenikmatan yang terhingga di kelilingi sahabat-sahabat yang baik, yang mau mengingatkan untuk kebaikan. Matahari masih belum tampak tapi kami sudah mulai membereskan tenda dan barang-barang. Hanya tinggal tendaku yang belum digulung. Selepas sholat subuh, kami berkumpul bersama memandang laut di kejauhan, menikmati desau angin laut dan deburan ombak yang mendayu-dayu.  Ini pagi terakhir camping bersama kami. Setelah cakrawala mulai menampakkan semburat jingga, kami tanpa dikomando langsung duduk di atas terpal berjajar menghadap laut, menantikan momen berkesan sunrise, matahari terbit. Tidak ada yang dilakukan, hanya menatap laut dan cakrawala dalam diam. Semua sibuk dengan pikiran dan dialog jiwanya masing-masing. Tampaknya pesona sunrise benar-benar telah menghipnotis.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD