Dua jam kemudian.
9 orang peserta wawancara masing-masing tengah berdoa untuk keberuntungannya dalam tes itu, tak terkecuali Rayna. Jabatan yang dilamar Rayna bukan jabatan sepele. Pasalnya, syarat menjadi sekretaris di perusahaan Reygold harus benar-benar mampu menangani semua masalah atasan yang keteteran. Pekerjaan harus rapi, cepat, bekerja dengan sopan, selalu ramah pada siapapun termasuk klien dan orang-orang yang berasal dari luar perusahaan. Selain itu, yang termasuk poin penting lainnya adalah berpenampilan menarik. Tidak harus cantik tapi mampu berpenampilan menarik dan sopan.
Pak Anang bersiap mengumumkan hasil tes wawancara 9 orang yang berlangsung selama dua jam lebih.
“Saya akan mengumumkan hasil tes wawancara tadi. Ada tiga nama yang lolos dan resmi direkrut sebagai pegawai perusahaan kami. Baiklah, karena waktu begitu penting bagi pimpinan kami maka langsung saya sebutkan nama-nama peserta yang lolos.” Pak Anang membuka lembar kertas kedua. Dia membaca nama itu dalam hati, satu per satu secara teliti agar tidak terjadi kesalahan saat memberikan pengumuman.
“Peserta yang resmi direkrut sebagai kepala staf umum adalah saudari Sofi. Yang kedua, peserta yang lolos sebagai asisten manajer adalah saudari Frita. Ketiga, peserta yang lolos sebagai sekretaris adalah saudari Rayna.”
Ketiga orang yang namanya baru saja disebutkan sebagai peserta yang resmi direkrut oleh perusahaan Reygold itu tak percaya. Mereka saling pandang. Benarkah hasil pengumuman itu?
Rayna menatap Sofi yang tersenyum senang karena dirinya juga diterima di perusahaan itu. Ia terharu karena mereka berdua berhasil melewati jalan berduri untuk mencapai sukses.
“Harap didengarkan dulu.” Pak Anang menguasai ruangan agar tidak terjadi kegaduhan. “Mulai besok, tiga orang yang telah disebutkan namanya tadi sudah harus bekerja sesuai dengan jabatannya masing-masing. Besok akan ada satu orang untuk satu pegawai baru yang akan mengenalkan pekerjaan kalian dan melatih selama dua minggu. Jadi, besok pagi saya harap saudari sekalian tidak terlambat datang di kantor. Atas perhatiannya, saya ucapkan terimakasih dan selamat bergabung di perusahaan kami. Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh...”
Pak Anang menyilahkan pimpinan perusahaan untuk meninggalkan ruangan saat itu juga. Reno dan dua orang yang mendampinginya dalam acara tes wawancara itu pun beranjak dari tempat duduk mereka dan meninggalkan ruangan secepatnya.
.....
Rayna dan Sofi berjalan menyusuri koridor lantai satu untuk mengambil jalan keluar.
“Na, aku pulang duluan, ya. Aku ada janji saja Prima. Dia ada di restoran Jepang, di sebelah itu.” Sofi bersemangat sekali bertemu dengan sang kekasih yang sudah menunggunya. Melihat Rayna yang tidak merespon, Sofi langsung menyenggol siku Rayna. “Malah melamun...”
“Ada apa, Sof?” tanya Rayna.
“Na, aku ada janji sama Prima. Kamu pulang sendiri, ya?” Sofi mengulangi perkataannya tadi.
Rayna mengangguk. “Oke. Aku bisa pulang sendiri. Sana, Prima sudah lumutan nunggu kamu.”
Sofi berjalan cepat, kegirangan karena akhirnya dia diterima bekerja di perusahaan ternama di Indonesia.
Rayna berjalan sendirian di koridor sepi lantai satu, yang langsung terhubung dengan lobi depan.
“Rayna!”
Rayna terlonjak kaget.
Seseorang memanggil namanya dan menarik lengannya, membuat dirinya masuk ke sebuah ruangan yang tak berpenghuni. Rayna menoleh ke arah kiri. Dia nampak terkejut melihat orang yang menariknya ke ruangan itu.
Reno tersenyum puas. Ia berhasil membuat Rayna mengikuti keinginannya.
“P, Pak Reno?”
Reno tertawa geli. “Pak? Kamu memanggilku Pak Reno?”
“I, iya,” jawab Rayna sambil mengangguk.
“Dengar, Rayna. Aku hanya ingin menjelaskan tentang sesuatu supaya kamu tidak salah paham.”
Rayna menatap Reno dengan kening berkerut. “Tentang apa?”
“Aku masih ingat dengan sangat jelas bahwa pada hari itu, aku bilang suatu hari nanti akan membalas kebaikanmu. Dan... Dalam tes wawancara tadi, aku benar-benar menilai usahamu tanpa ada unsur balas budi. Serius. Jadi, tolong jangan berpikir bahwa aku membuatmu lolos karena balas budi. No! Penilaian kami obyektif dan jujur. Jadi, kamu memang pantas bekerja di sini."
Rayna tersenyum. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Kalau aku diterima berarti aku memang layak untuk diterima. Tetapi jika aku tidak diterima berarti memang tidak layak. Aku percaya pada kemampuanku sendiri. Jadi, Pak Reno tidak perlu menjelaskan seperti itu. Aku ucapkan terimakasih karena telah menerimaku bekerja di sini, Pak.”
Reno menghela nafas panjang. Dia merasa agak aneh ketika Rayna memanggilnya dengan panggilan ‘pak’. “Oke, mari bekerja sama dengan baik. Mulai besok kamu adalah sekretarisku.” Reno mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Rayna.
Dua detik...
Tiga detik...
Rayna hanya menatap tangan Reno dengan penuh pertanyaan di kepalanya. Kenapa seorang wakil presdir mau bersalaman dengan sekretaris? Kenapa sikap Reno berbeda dari yang ia tunjukkan pada pegawai lain? Kenapa Reno terlihat sangat senang ketika Rayna ada di sana?
“Kenapa hanya dilihat?” tanya Reno, membuyarkan lamunan Rayna yang sedang mengumpulkan banyak pertanyaan di otaknya.
Rayna menyambut tangan Reno dan tersenyum tipis padanya. “Terimakasih, Pak Reno. Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya pamit.”
“Baiklah, silahkan.” Reno menyilahkan Rayna pergi dari ruangan itu. Tatapannya tak lepas dari punggung Rayna yang kemudian hilang di balik pintu.
“Entah apa yang harus ku jelaskan padamu, Rayna. Setelah aku mengetahui sebuah rahasia besar yang disampaikan kakekku, aku begitu senang melihatmu lagi. Ternyata... Kau datang ke perusahaan ini di saat aku diam-diam mencarimu.” Reno bicara lirih, tak ada yang mendengarnya, tak ada siapapun di ruangan itu selain dirinya sendiri.
.....
Malam hari.
Sebuah ruangan dengan penataan yang apik, penerangan redup, dan perabotan minimalis yang membuat mata nyaman memandangnya, merupakan milik seorang pemuda tampan yang sering menghabiskan waktunya dengan membaca berkas-berkas proyek, investasi, dan lain-lain. Ya, sudah bertahun-tahun Reno melakukan pekerjaan seperti orang-orang tua di perusahaannya. Padahal pemuda itu masih berusia 24 tahun.
Reno menatap kosong pada jendela kamarnya yang hanya dihiasi sebuah tirai berwarna putih. Perabot, cat tembok, semua yang ada di dalam kamarnya berwarna putih. Seakan tengah menanti seseorang yang akan muncul di jendela, pemuda itu tak henti-hentinya menatap benda mati yang bahkan tak bisa bergerak.
Melamun. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh Reno saat ini.
Reno POV
Rumahku mewah, apapun bisa aku beli dengan mudah. Kalaupun aku mau, gadis mana saja pasti bisa ku dapatkan. Tetapi... Ketika aku kesepian, semua yang ku miliki seakan tak berguna. Apapun yang ku lakukan tetap saja kesepian. Apa mungkin ini karena aku anak tunggal?
Saat tengah gundah gulana seperti ini, tina-tiba ponselku berdering. Astaga!
Ku lihat nama yang tertera di layar ponsel ku. Clara.
Kenapa harus gadis itu yang datang ketika aku kesepian? Kenapa harus dia yang meneleponku? Ingin ku lempar ponselku pada lantai supaya aku tak perlu lagi melihat nama Clara.
Klik!
“Reno... Sini... “ Suara Clara terdengar manja di ujung telepon.
Benar-benar malas. Aku tarik selimut untuk menutupi tubuhku. Aku ingin tidur saja daripada bicara dengan Clara. Siapa Clara? Dia calon tunanganku. Gadis yang harus menjadi pasanganku.
“Kamu saja yang datang ke sini,” balasku ketus.
“Reno, aku tunggu di bar biasanya, ya. Buruan datang. Di sini juga ada beberapa anak konglomerat rekan bisnismu. Haruskah aku mengatakan pada mereka sesuatu yang buruk tentangmu?”
Ancaman lagi. Senjata Clara adalah ancaman yang bisa menjadi kenyataan.
“Baiklah. Sejam lagi aku sampai di sana. Sebelum aku sampai, jangan telepon aku lagi.”
Klik!
Ku matikan telepon dari Clara. Muak dengan sikapnya yang manja dan sering kasar terhadap orang lain. Sebenarnya aku malas sekali memenuhi keinginan Clara untuk datang ke bar langganannya.
Baiklah, aku akan ke sana dengan cara lain daripada yang kemarin-kemarin.
10 menit adalah waktu yang cukup untukku berganti pakaian. Celana jeans warna hitam, kaos oblong warna abu muda, jumper warna abu tua , dan sneaker warna hitam. Sengaja ku padu padankan agar terlihat tidak glamor dan sesuai dengan mood-ku. Ku ambil dompet dan ku keluarkan semua kartu kredit yang ada di dalamnya. Uang yang ku bawa pun hanya satu juta. Aku sengaja melakukan ini karena aku tidak mau lagi diperas oleh cewek ganjen bernama Clara itu.
.....