FLASHBACK
Hari ini ramalan cuaca yang diberitakan melalui televisi meleset jauh. Ramalan menyatakan kalau hari ini cuaca akan sedikit mendung tapi tidak sampai menurunkan hujan. Tetapi ternyata ramalan itu meleset. Hari ini hujan turun deras. Bahkan sejak jam 9 pagi. Banyak orang berlarian dengan tangan menutup kepala dan mencari tempat teduh. Tidak termasuk Rayna. Gadis cantik dan seksi itu selalu sedia payung sebelum hujan.
Ya, bagaimana tidak? Rayna termasuk pengguna angkutan umum setiap hari. Jadi, hujan atau tidak, dia akan tetap membawa payung untuk berjaga-jaga.
Setelah turun dari busway yang berhenti di haltenya, Rayna bergegas membuka payung dan berjalan santai menyeberang jalan dengan hati-hati. Ia melihat sebuah mobil mewah berwarna putih sedang berhenti di tengah jalan. Mungkin mobil itu mengalami sesuatu yang buruk, pikirnya.
Berhasil menyeberang dengan selamat, Rayna berjalan pelan melewati mobil mewah yang tengah berhenti itu.
“Tunggu!”
Seketika Rayna menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah mobil mahal yang berada di belakangnya. Seseorang melambaikan tangannya, pertanda ia memanggil Rayna untuk mendekat. Rayna bingung. Tentu saja ia takut tiba-tiba ada orang asing di dalam mobil memanggilnya. Bagaimana jika orang itu menculiknya? Ah tidak mungkin, tidak ada yang ingin menculik gadis miskin seperti dirinya.
Pintu mobil terbuka sedikit, jendelanya pun terbuka separo. Tampak seorang pemuda tampan dengan setelan jas warna hitam di dalam mobil itu. Rayna menunduk lalu bertanya.
“Anda memanggil saya?”
“Iya, saya yang memanggil Anda tadi. Bisakah saya minta tolong?” tanya laki-laki itu.
Rayna bingung. Apa yang harus ia lakukan untuk menolong orang kaya itu.
“Anda minta tolong kepada saya?” tanya Rayna meyakinkan dirinya bahwa laki-laki tampan itu benar-benar meminta pertolongannya.
“Saya minta tolong, numpang payungnya. Mobil aki mobil saya bermasalah. Saya sudah memanggil bengkel untuk mengatasinya. Tapi saya perlu segera pergi dari sini. Ada rapat direksi perusahaan yang harus saya hadiri.” Reno, nama laki-laki tampan yang berusaha menjelaskan keadaan dan masalahnya pada Rayna saat itu. “Oh ya, perkenalkan. Namaku Reno.”
Rayna lega. Akhirnya ketakutannya hilang setelah mendengar penjelasan dari Reno. “Saya Rayna. Anda bisa kok ikut dengan saya pakai payung ini. Saya akan berjalan sampai depan pertokoan itu. Setelahnya, Anda bisa memakai payung saya.”
Akhirnya Reno dan Rayna berada di bawah payung yang sama, di bawah guyuran hujan. Mereka harus berjalan berdua dengan tubuh berdekatan supaya tidak terkena air hujan. Sesampainya di depan deretan toko, mereka berhenti.
“Mm... Saya berhenti di sini saja. Rumah saya tidak jauh dari sini, kok. Anda bisa menggunakan payung saya sampai di tempat tujuan, kalau Anda berkenan.” Rayna memberikan payungnya pada Reno.
“Terimakasih, Nona Rayna. Jika bisa bertemu lagi, saya kan mengembalikan payung ini dan membalas kebaikan nona.”
“Ah, itu...tidak perlu. Hanya tumpangan sebuah payung. Tidak perlu dipikirkan. Pakai saja. Hati-hati di jalan. Saya pamit.”
Reno tersenyum lega melihat seorang gadis cantik dan baik hati. Ia masih memandang Rayna yang berjalan menyusuri pertokoan dan akhirnya masuk ke pertigaan diantara deretan pertokoan itu. Bisa dibilang tubuh Rayna itu seksi, montok, wajahnya juga cantik. Pakaian yang dikenakannya pun menutup aurat. Bukan pakaian seksi seperti yang dipakai umunya wanita.
FLASHBACK END
.....
“Wah, jadi benar kalau dia pimpinan perusahaan? Ternyata perusahaan sebesar ini yang dia pimpin,” gumam Rayna kagum.
“Ah, sudahlah. Ayo pulang. Kau tidak sadar, hah? Pakaian kita seperti seragam.” Sofi menarik lengan Rayna dan mengajaknya segera pulang.
Tiga hari kemudian.
Kriiiiing!
Ponsel jadul milik Rayna berbunyi nyaring hingga membuat si empunya tersentak kaget. “Ish! Dasar jadul! Keras sekali suaranya.” Rayna segera menjawab telepon dari nomor asing.
Klik!
“Selamat siang, Nona Rayna Husna Darmawan?”
“I, iya. Saya Rayna Husna Darmawan. Ini dari mana, ya?”
“Selamat Nona Rayna. Berkas lamaran yang Anda ajukan tiga hari yang lalu telah diseleksi dan diterima oleh pimipinan perusahaan kami. Jadi, tahap selanjutnya adalah wawancara yang akan dilaksanakan besok jam 9 pagi. Kami harap Anda datang tepat waktu.”
Bagai angin surga tengah menerpa dirinya, Rayna tak percaya mendapat panggilan untuk wawancara di perusahaan terkenal itu.
“Baik, saya akan datang tepat waktu. Saya ucapkan terimakasih banyak.”
“Baik, selamat siang.”
“Selamat siang.”
Klik!
Sambungan telepon terputus. Rayna benar-benar tidak percaya bisa lolos sampai tahap wawancar.
“Ya Allah, inikah jawaban dari doa-doaku dan doa ibuku? Alhamdulillah... Terimakasih, ya Allah.” Rayna sujud syukur, merasa sangat bahagia. “Besok aku tidak boleh telat. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa diterima bekerja di sana.”
Rayna yang tengah bahagia karena bisa lolos hingga tahap wawancara segera mencari ibunya. Dia harus meminta doa dari ibunya supaya besok bisa lolos tes wawancara.
“Ibu... Bu... Ibu...” Suara anak tunggal itu mengisi seluruh sudut rumah sederhana yang ditata dengan sangat apik dan rapi.
Ibu dan anak perempuan bernama Rayna itu tinggal di sebuah rumah desain lawas yang terlihat sangat rapi, bersih, dan indah. Meskipun keluarga mereka tergolong tidak mampu, Rayna dan ibunya tidak akan membiarkan debu sedikit pun menempel pada perabot rumah mereka yang bisa dihitung dengan jari. Sederhana bukan berarti harus kotor. Banyak anggapan di luar sana tentang kehidupan orang tidak mampu. Katakan saja orang yang hidupnya sederhana. Belum tentu mereka yang hidup sederhana akan memiliki tempat tinggal yang kumuh. Anggapan seperti itu harus dibuang jauh-jauh. Sederhana juga harus bersih.
Rayna mencari ibunya di setiap ruangan. Dengan rambut diikat seperti ekor kuda, Rayna pergi begitu saja keluar rumah. Mungkin ibunya sedang membersihkan halaman.
“Ibu di mana, ya? Kok sepi juga di sini,” gumam Rayna lirih setelah memeriksa halaman rumah yang dipenuhi oleh bermacam-macam jenis bunga.
“Hai, Rayna!” Tino menepuk bahu Rayna yang sukses membuat gadis seksi itu terlonjak kaget.
“Tino! Apa-apaan kamu, hah? Kaget, ih!” ketus Rayna kesal.
Tino menyodorkan seikat bunga mawar yang baru saja ia petik di taman rumahnya. “Ini bunga untuk Rayna-ku sayang.”
“Apaan sayang-sayang. Ih!” Rayna menolak bunga pemberian Tino.
Sebenarnya sudah lama Tino naksir Rayna. Terhitung sejak enam tahun yang lalu. Tetapi gadis pujaannya tak pernah menanggapi kata-kata dan perlakuan istimewa Tino padanya.
“Tino, please... Jangan begini, ah! Kamu lihat ibu, gak?”
“Kan ibu kamu lagi pergi ke warung. Mungkin sebentar lagi pulang. Tadi waktu jalan ke sini, aku lihat beliau sedang beli sesuatu di warung.”
Rayna menyipitkan mata. “Yang bener?”
“Ya ampun, Rayna. Kapan sih aku bohong? Aku tadi benar-benar melihat ibu kamu di sana. Ih, gak percaya amat! Aku sudah mengatakan yang sejujurnya, Rayna sayangku.”
“Ih jijik, tau!” Rayna beranjak pergi dari halaman. Ia bergegas masuk ke dalam rumah.
.....
Bersambung