Pertama Kali

1077 Words
Keesokan harinya. Rayna sudah siap berangkat ke kantor di hari perdananya. Ia menunggu Sofi di pertigaan rumahnya sudah hampir 10 menit. Tapi sang sahabat tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Berkali-kali Rayna menghubunginya menggunakan ponsel. Tapi tetap tak ada jawaban. Waktu menunjukkan pukul 6.30 pagi. Rayna harus berangkat meski tanpa Sofi. Ia sudah menunggu Sofi selama 10 menit lebih. Jika dirinya masih menunggu Sofi, dia akan terlambat datang di kantor. Reno bisa marah padanya karena terlambat di hari perdana bekerja. Tanpa menghiraukan apapun lagi, akhirnya Rayna berangkat ke kantornya naik angkot yang biasa lewat di dekat pertigaan tempatnya menunggu Sofi. Hanya membutuhkan waktu 15 menit untuknya sampai di kantor perusahaan ternama Reygold Corp. Rayna merapikan pakaiannya, ia melihat rambut dan make up nya menggunakan layar ponselnya. Sudah rapi, batinnya. Gadis periang itu menghela nafas panjang, menyiapkan mental dan semangatnya bekerja di hari pertama. Dia harus bekerja dengan baik, tidak boleh ada kesalahan. Sejenak Rayna berdoa, memohon supaya diberi kelancaran dalam bekerja. ..... Hal pertama yang harus dicari Rayna adalah ruang kerja Reno. Ya, dia harus bertanya pada resepsionis yang nampak mempersiapkan komputernya di meja panjang, tepat berhadapan dengan pintu masuk. “Selamat pagi, Mbak,” ucap Rayna ramah. Sebagai pegawai baru, Rayna harus terlihat sopan dan ramah agar mendapat respect dari rekan kerjanya. “Pagi juga, Mbak. Oh, ini Mbak Rayna, ya?” tanya resepsionis yang berparas manis itu. “Ah, iya, Mbak. Saya Rayna. Maaf kalau saya mengganggu mbak. Ruang kerja Pak Reno di mana ya, Mbak?” Resepsionis yang baru mengenal Rayna itu membulatkan kedua bola matanya. Ia hendak menjawab pertanyaan Rayna. Akan tetapi, seseorang melarangnya. “Mm... Itu...” “Ikut aku saja. Kau pasti tahu di mana ruang kerja Pak Reno.” Deg! Rayna pun ikut membulatkan sepasang matanya. Itu suara Reno, batin Rayna. Sontak, dia membalikkan badan dan kaget melihat Reno yang sudah berdiri di depannya. “Wah, sebagai pegawai baru, kau rajin sekali jam segini sudah datang,” kata Reno, melihat arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Rayna merasa tidak perlu menjawab. “Ayo.” Sebagai bawahan, Rayna pun menuruti perintah Reno yang mengatakan bahwa ia hanya perlu mengikutinya untuk bisa menemukan ruang kerja milik wakil presdir perusahaan. Lorong lantai satu nampak sepi sekali pagi itu. Para petinggi perusahaan banyak yang belum datang, hanya para pegawai yang sedang menyiapkan segala sesuatu untuk pekerjaan mereka di hari itu. Suasana hening. Reno dan Rayna enggan membuka pembicaraan. Lagipula, saat ini di tempat itu, Rayna adalah bawahan Reno. Secara otomatis, Rayna harus menghormati Reno dan tidak boleh salah bicara. “Oh iya. Terimakasih untuk yang semalam,” kata Reno singkat sambil menyunggingkan senyum kecil tanpa diperlihatkan pada Rayna. Pandangan matanya tetap ke depan. Rayna mengernyitkan keningnya sedikit. Semalam? pikirnya. “Oh yang itu. Tidak masalah, Pak. Anggap saja itu hiburan dari sekretaris Pak Reno.” Reno tertawa mendengar Rayna memanggilnya dengan nama Pak Reno. “Ngomong-ngomong, sebagai seorang petinggi perusahaan, Anda rajin sekali, Pak. Ini bahkan masih jam 7. Biasanya petinggi perusahaan itu datangnya agak siang.” Entah keberanian dari mana, Rayna mengeluarkan kata-kata itu pada Reno. “Jika aku berada di rumah dalam waktu lama, aku bisa mati di sana. Aku berangkat awal karena di rumah tidak ada yang bisa ku ajak bicara atau bercanda. Jika aku di kantor sejak pagi sekali, aku bisa bicara dengan banyak orang.” Reno menjawab santai, tanpa ada marah sedikit pun. Satu hal yang bisa ditangkap dari kata-kata Reno yaitu dia merasa kesepian. Dengan kehidupan mewah, apapun bisa dia beli, tapi dia sama sekali tidak bisa membeli kebahagiaan. Rayna merasa iba pada Reno. Ia menatap punggung Reno dari belakang sambil berpikir bahwa mungkin saja Reno melampiaskan kekesalan, kesepian dan segala yang ia rasakan pada pekerjaannya di kantor. Lima menit kemudian, keduanya sampai di depan sebuah ruangan. Sebuah meja berukuran agak besar, dilengkapi telepon, bunga imitasi dalam vas, sebuah komputer, dan beberapa buku yang tertumpuk rapi menghias sisi kanan pintu masuk ruangan itu. “Ini meja kerjamu dan itu ruanganku.” Rayna melihat sebuah pintu berwarna coklat tak jauh dari meja kerjanya. “Tunggu di sini. Mira akan datang untuk membimbingmu di hari pertama. Aku masuk ke sana dulu.” Reno menunjuk ke arah ruangannya. “Baiklah. Terimakasih, Pak.” ..... Sepuluh menit Rayna menunggu seseorang bernama Mira yang akan membimbingnya di hari pertama bekerja sebagai sekretaris. Sosok wanita bernama Mira itu memiliki paras yang manis dan tinggi badannya mungkin sekitar 160 sentimeter. Mira tampak ramah, dari kejauhan ketika melihat Rayna yang berdiri di dekat mejanya saja sudah memamerkan senyumnya. Rayna pun membalas senyum wanita manis itu. “Mbak Rayna, ya?” tanya Mira dengan nada ramah. “Iya, Mbak. Salam kenal.” Rayna menjabat tangan Mira. Mira pun menyambutnya dengan senang. “Saya Mira. Pak Reno meminta saya untuk mengenalkan tugas-tugas mbak dan menjelaskan beberapa tempat penting di kantor ini.” .... Dua jam kemudian. Mira merasa bahwa Ryna mendapat penjelasan yang cukup banyak hari itu. Ia yakin bahwa Rayna pasti dapat bekerja dengan baik karena dia memiliki pengalaman di bidang yang sama dan profesi yang sama. “Apakah ada yang ingin dijelaskan lagi, Mbak?” “Mbak, memangnya di kantor ini dibolehkan berpakaian seksi?” tanya Rayna polos setelah ia melihat seorang wanita berpakaian ketat dan bahkan belahan buah dadanya nampak jelas dari kejauhan. Mira tertawa lirih yang sukses membuat Rayna semakin bingung. “Mbak, orang yang seperti itu tidak usah ditiru. Berpakaian senyaman Mbak Rayna saja.” Seakan Mira tahu bahwa yang dimaksud Rayna adalah wanita yang baru saja melewati mereka. “Biasanya karyawan yang berpakaian seperti itu adalah simpanan petinggi perusahaan. Mereka sengaja berpakaian seksi untuk menarik mata buaya para petinggi. Bahkan dulu ada yang kepergok sedang bercumbu, mm...adegan syur.” Mira menjelaskan dengan suara lirih sekali, nyaris berbisik supaya tidak terdengar oleh siapapun. Rayna menutup mulutnya, refleks ketika dia heran dengan penjelasan Mira bahwa di kantor itu ada yang kepergok sedang bercumbu. “Saran saya, mbak Rayna jangan berpakaian seperti itu. Hanya untuk melindungi diri mbak. Karena jika ada yang melirik mbak, bahkan naksir mbak maka mbak harus menuruti nafsu bejat mereka.” Rayna lebih terkejut mendengarnya. “Mbak, apakah Pak Reno juga seperti itu?” tanya Rayna penasaran. Mira menggeleng. “Terkecuali Pak Reno, Mbak. Dia bahkan tidak bisa minun alkohol. Orang-orang di sini mengatakan bahwa Pak Reno memiliki iman yang bagus, ia bisa menahan godaan apapun.” Rayna merasa lega. Setidaknya, atasannya tidak seperti itu. Rayna sedikit membayangkan seorang karyawati yang bercumbu dengan petinggi perusahaan. Tiba-tiba ia merasa merinding. ..... Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD