Jakarta, 15 Juli 2017
Reuni Akbar SMU Laksmana Internasional Tahun ke-34
Kalimat itu yang pertama kali Bara lihat ketika sampai di depan lobi Jack's Club. Pupil matanya menangkap sekeliling area kelab, ada banyak papan bunga bertuliskan 'selamat sukses'. Mungkin hanya dirinya yang tidak menyumbang salah satu dari papan bunga itu, lagi pula juga tidak memiliki uang untuk mengambur-hambur sesuatu yang tidak penting.
Langkah pertama memijak lantai kelab disambut oleh dentuman musik nan menghantam gendang telinga. Bosan sekali, hidup seperti mati, ramai merasa sepi. Kehidupan yang jauh dari kepribadian Bara. Secercah rasa penyesalan menyergap dirinya, lebih baik beristirahat di kamar kos daripada harus menjadi bagian dari kondisi sosial yang memuakkan ini.
Bara mengabaikan kumpulan teman angkatannya yang sedang duduk di salah satu sofa panjang. Dia terus berjalan melewati mereka, berharap tidak ada satu pun yang menyadari kehadirannya di sini. Sangat tidak menarik, Bara membenci mereka, manusia bertampang menawan tetapi berhati kejam. Ia memilih duduk di kursi single yang berada di daerah meja bar.
"s**u panas, satu," ujar Bara kepada si barista cantik.
"Maaf, kami tidak menyediakan s**u panas. Adanya miras, Mas," balas wanita itu.
"Oh, ya." Kemudian barista cantik itu pergi meninggalkan Bara dan melayani tamu yang lain.
Rasa penyesalan semakin besar, Bara tidak tahu harus melakukan apa di sini, bahkan s**u panas saja tidak tersedia. Apalagi yang harus ia minum? Miras? Bara tidak pernah minum sesuatu yang diharamkan itu. Memikirkannya saja sudah membuatnya mabuk.
Hasil dari duduk diamnya berbuah penglihatan, tepat di ujung kegelapan, Bara melihat Ragil sedang b******u rayu dengan dua orang wanita sekaligus. Buru-buru Bara mengalihkan pandangannya agar tidak terlihat oleh Ragil. Dia sangat mengingat perbuatan manusia hina itu, kejam sekali, memberantas kaum lemah.
Bara kembali memanggil barista cantik, "tangga itu menuju ke mana?"
"Rooftop, Mas."
"Oh, oke." Bara melesat pergi dari area bar.
Sesampainya di atas rooftop, Bara menghela napas. Udara sejuk memenuhi paru-paru, segar sekali. Di dalam sana seakan-akan udara diisap habis oleh kerumunan orang. Neraka duniawi.
"Nyesel banget gua datang," gumam Bara cukup keras. "Tau gitu, mending gua ngasoy di kamar."
"t***l!" celetuk seorang wanita yang tidak terlihat keberadaannya.
Seketika bibir Bara terkunci rapat, antara diselimuti rasa malu sekaligus penasaran.
"Masih ada aja gitu, laki tapi ngomel-ngomel."
Akhirnya Bara dapat melihat seseorang yang baru saja merendahkan harga dirinya. Dia seorang wanita tengah duduk di ujung pinggiran tembok sebagai pembatas rooftop.
"Siapa lu? Anak Laksmana juga?"
Hening. Wanita itu tidak mengucapkan satu huruf pun dan dapat dipastikan dia hanya menatap kosong ke arah galaksi malam.
Bara segera menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya, wanita tersebut tidak menoleh sama sekali, bahkan bertingkah seperti tidak ada peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Demi memastikan kalau wanita ini adalah manusia, Bara mencolek lengannya harap cemas. Merasakan kepadatan kulit lengannya bak manusia. Bara bernapas lega. "Oh, manusia ternyata. Perkenalkan, gua Bara." Sudut bibir Bara tertarik ke atas, menampilkan lengkungan senyum semringah yang diikuti uluran tangan.
"Nana." Wanita itu menoleh, raut wajahnya datar tanpa ekspresi. "Gak perlu salaman, gua benci orang asing."
"Oh, oke." Bara memperhatikan pupil mata Nana, wanita itu terus menoleh ke atas, melihat bintang tentunya. "Pernah tau tentang tiga bintang sejajar, nggak?"
"Boleh gua nanya?"
"Ya? Kenapa?"
"Selain ketiak lu bau, bisa pergi dari sini nggak? Tinggalkan gua sendirian."
Bara mencium s**********n ketiaknya, jujur dia mengakui kebenaran atas ucapan Nana. Bagaimana tidak, seharian penuh bekerja dan tidak sempat pulang ke kos apalagi sekadar mandi. Bahkan Bara pikir datang ke acara reuni ini bisa menghilangkan kepenatan.
Bara tertawa kecil sembari menggaruk punggung kepalanya yang tidak gatal. "Bau banget, ya?"
Nana mendesis, "makin keliatan tololnya."
"Wah, wah, berani lu ngatain gua?"
"t***l, pergi gak lu? Pergi!"
"Males, biar lu makin sensi."
Nana mengeluarkan sesuatu dari dalam tas, yang tidak lain adalah pisau kecil yang biasa digunakan untuk mengupas buah. "Gua lagi gak mood, jangan sampe gua bacok lu." Wanita itu mengacungkan pisau di hadapan wajahnya.
KLENTANG!
Suara berisik itu memberi reaksi terkejut pada Nana, hingga anggota tubuhnya refleks bergerak dan nyaris membuatnya terjatuh dari ketinggian, untung saja Bara menarik lengannya dua puluh detik lebih cepat.
Nana membenarkan posisi duduknya, salah tingkah—terlihat dengan jelas kulit wajahnya memerah seketika. "Makasih," ucap Nana pelan.
"Apa?"
"Ma-makasih."
KLENTANG!
Otomatis keduanya menoleh ke arah sumber suara. Ternyata itu adalah sekumpulan besi yang terjatuh akibat pasangan yang sedang b******u penuh hasrat di area belakang kelab. Tunggu ..., ini bukan pasangan biasa, sebab mereka adalah pasangan sesama jenis.
Sesama jenis? Otak Bara berkerja sempurna hingga menghasilkan pikiran bahwasanya hal itu bisa menjadi topik perdebatan yang kontroversi.
Bara menepuk pundak wanita itu hingga ia menoleh ke arahnya. Kemudian Bara menunjuk ke arah pasangan sesama jenis yang semakin b******u dengan liar.
"Menurut lu homo atau LGBT kek mereka itu normal apa nggak?"
Wanita itu menatap pupil mata Bara lekat-lekat sembari menggelengkan kepalanya secara perlahan. "Bukan urusan gua." Nana hendak turun dari pembatas tembok, dan berjalan meninggalkan Bara.
"Kalau di Indonesia tujuh puluh persen penduduknya apatis kayak lu, dalam waktu singkat negara kita bisa diambil alih oleh negara lain, dijajah, kemudian dihapus dari peta."
Langkah kaki Nana terhenti, sejurus kemudian ia kembali naik ke atas tembok pembatas dan duduk di samping Bara. Kali ini tatapannya bak menampilkan ilustrasi api yang membara.
"Di dunia ini ada yang perlu lu tau dan ada yang gak perlu lu tau," ucapnya ketus, kemudian mengalihkan pandangan ke atas langit.
"Kalo pendapat gua, LGBT itu normal."
"Berarti lu sama nggak normalnya kek mereka."
Bara mengerutkan dahi, ia berakting dengan raut wajah kontra atas pernyataan tersebut agar Nana sadar kalau saat ini Bara kembali mengacungkan bendera perang. "Kenapa lu bisa bilang begitu? Alasan lu apa?"
"t***l banget, perlu gua jelasin?"
"Setiap perkataan itu harus bisa dipertanggungjawabkan, jangan jadi pecundang."
Nana menggeram, jari-jarinya bergerak seakan ingin mencabik-cabik kulit wajah Bara. "Udah jelas mereka adalah bentuk kesalahan. Bahkan perbuatan mereka lebih hina dari binatang." Nana menatap Bara sengit, tampaknya level kebencian semakin memuncak. "Dan mungkin ... babi aja masih tau harus n***e sama siapa."
"Yakin?!" Nana mengangguk pasti. Kemudian Bara mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu memutar video dari aplikasi YouTube. Bara menyodorkan ponselnya tepat di hadapan wajah Nana. "Tuh, babi main sama sejenis, dan aku rasa, mereka yang dikatakan 'menyimpang' itu salah, karena pada nyatanya menurut penelitian orientasi itu terbagi menjadi tiga, bukan sekadar hetero."
"Wah! Sebuah asumsi yang sangat luar biasa!" Kulit wajahnya berubah semringah dan detik kemudian berubah menjadi sangar. "Jadi lu mau disamain dengan BABI?"
"Lho, ini kan konteksnya perkara orientasi."
"TERSERAH LU!" pekik Nana dengan penegasan di setiap huruf, kemudian dia turun dari tembok dan pergi meninggalkan Bara tanpa menoleh.
Tidak berapa lama kepergian Nana, Bara pun menyusul, berniat hendak pulang ke kos, istirahat dari kepenatan malam ini.
Di dalam kelab, Bara bertemu dengan Robby, sahabat karibnya Ragil.
"Hai Bar, lama gak ketemu, makin cakep aja lu," sapanya diakhiri tertawa geli.
~oOo~
"Ayah, Ibu ... tolong, tolong!"
Teriakan anak kecil yang berada di dalam mimpi berhasil membangunkan Bara dari tidur yang panjang. Peluh keringat membasahi wajah dan badan, itu adalah mimpi buruk, mimpi yang dibenci oleh Bara dan rasanya ingin dia hapus secara permanen dari dalam memori.
Akibat terbangun secara tiba-tiba, aliran darah tidak bekerja stabil, hal itu membuat kepala Bara terasa pusing. Ada denyutan yang mempengaruhi otak hingga berputar-putar bak menaiki wahana bianglala, tidak berapa lama kemudian putaran itu berjalan menyusuri rongga tenggorokan dan berhenti di perut, tidak dapat ditahan lagi, Bara memuntahkan isi perutnya.
"Ah, sial!" Bara turun dari kasur, lalu dia mendapati tubuhnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutupi kulitnya.
Telanjang? Sedetik kemudian dia menyadari kalau ini bukanlah kamarnya, melainkan sebuah kamar bordil. Pikirannya semakin tidak karuan kala melihat pakaiannya berserak di atas lantai serta beberapa titik otot tubuhnya yang keram, terutama bagian s**********n.
Rasa mual semakin melanda, mengocok usus hingga naik ke lambung. Bara bergegas lari ke kamar mandi yang terletak di sudut ruangan, namun langkah kakinya terhenti. Anusnya terasa perih seperti ditusuk ribuan jarum, dan kala ia menunduk ke bawah, cairan darah mengalir dari s**********n paha.
Bara menyentuh a**s, dan benar saja, terdapat luka sobek di sana. Mengejutkannya lagi, sepanjang perut hingga ke d**a terdapat cairan putih kental yang sudah mengering.
Merasa malu pada diri sendiri, dia bergegas mengutip pakaian di atas lantai lalu memakainya secepat kilat, setidaknya Bara harus pergi dari tempat terkutuk ini sebelum orang lain melihat keadaannya. Seluruh pakaian sudah terpakai, namun dia sibuk mencari keberadaan ponselnya.
Bara menyingkap selimut, berharap ada ponselnya di dalam sana, namun faktanya yang Bara lihat adalah rembesan darah.
"Jadi, ini? Astaga—"
TING! Suara notifikasi membuat Bara tersadar dari pikiran negatif. Ponselnya ada di atas nakas, saat tangan ingin meraihnya, mata Bara terkunci pada secarik kertas yang tergeletak di samping gelas. Rasa penasaran menjalar cepat seperti kuman, dia langsung meraih kertas itu kemudian membacanya.
'Anusmu sempit sekali, aku menyukainya'
Bara terdiam.