Aku menatap tajam ke arah Pak Reza yang wajahnya memucat menahan sakit. Berulangkali beliau mengucapkan hal yang sama. Hingga saat ini hati ini biasa saja saat bersama mantan guru PPL ajaib ini. Otak ini tidak mau memikirkan hal yang berhubungan dengan perasaan. Hati ini ingin sembuh dari patah hati yang lalu. Bodoh memang jika menolak laki-laki se-tampan dan sebaik Pak Reza, tetapi itulah aku. Tidak ingin dipaksa atau memaksakan diri untuk membuka hati ini. "Maaf," jawabku sambil menatap ke arah beliau. Perlahan pegangan tangannya mengendur dan terlepas. Aku tahu, beliau kecewa dan menahan rasa sedih. Bagi diri ini adalah yang terbaik. Saat ini fokus untuk persiapan kenaikan kelas yang hanya tinggal beberapa bulan saja. Minggu depan sudah bulan puasa. Pasti segala aktivitas akan berkur

