Jalan-jalan

1145 Words
    Pagi ini, Alice terbangun karena aroma makanan yang sangat nikmat yang mampu membuat perutnya langsung berbunyi, padahal matanya saja belum melek. Alice kemudian membuka matanya dan langsung melihat jam. "Sudah jam tujuh?" gumamnya, wajar saja dia berkata seperti itu, sebab biasanya dia bangun pada pukul lima pagi. Alice pun segera pergi ke kamar mandi untuk mandi pagi. Setelah kurang lebih 20 menit, Alice akhirnya selesai mandi dan berpakaian, gadis itu pun lantas pergi ke meja makan. Tidak ada siapapun di sana, sebab Kirana sedang berada di kamarnya, dan sesaat kemudian Kirana keluar dari dalam kamarnya. Kirana melihat Alice sedang memakan pizza di meja makan. "Loh, kamu udah bangun?" tanya Kirana yang merasa bingung. "Sudah dari tadi," jawab Alice. "Masa? Tante kok gak tahu?" "Ya mana aku tahu." "By the way, ini pizzanya yang buat Tante?" tanya Alice. "Bukan, itu beli online, terus Tante panasin lagi pakai microwave," jawab Kirana. "Oooh, Tante udah makan?" "Udah, ini Tante mau berangkat kerja dulu. Kamu habisin aja pizzanya, nanti siang Tante balik lagi bawa makan siang, kamu jangan kemana-mana ya. Kalau bosan ada TV, Tante udah berlangganan Netflix, jadi kamu bisa nonton apa aja di Netflix semau kamu, atau kamu bisa juga nonton film lain, Tante punya banyak CD di laci yang ada dibawah TV." "Nonton TV seharian?" "Jadi apa lagi? Orangtua kamu ngelarang Tante untuk ngebiarin kamu keluar, jadi ya kamu harus di sini aja." "Masa aku gak boleh jalan-jalan? Rugi dong aku datang ke Indonesia tapi tidak jalan-jalan." "Bilang sendiri ke orangtua kamu, itu bukan urusan Tante." "Malas ah, bangun karena wangi pizza aja aku udah seneng banget karena akhirnya aku gak denger suara mereka, karena setiap hari tuh aku selalu bangun karena suara mereka yang berantam, dan sekarang aku harus call mereka untuk ngizinin aku keluar? No, big no, aku gak pengen denger suara mereka dulu." "Yaudah, terserah kamu." "Tante pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa telepon aja Tante," sambung Kirana. "Gak ada uang jajan buat aku? ATMku disita loh sama Daddy dan Mama, aku bener-bener gak punya duit." "Hmm, orangtua kamu cuma minta Tante untuk ngebiarin kamu tinggal di sini dan ngurus kamu sepenuhnya, mereka gak bilang kalau uang jajan kamu jadi tanggungan Tante, jadi ... gak ada uang jajan." "Ih, Tante pelit." "Tante sebenarnya mau-mau aja ngasih kamu uang, tapi buat apa juga, kamu kan di sini aja seharian, kamu gak kemana-mana, jadi buat apa ngasih kamu uang jajan?" "Buat ditabung lah." "Alah, sudahlah, jangan banyak permintaan yang aneh-aneh. Tante pergi dulu." Kirana pun kemudian pergi dari sana, sementara Alice menghabiskan semua pizzanya. Setelahnya, gadis tersebut menghampiri TV dan mengecek koleksi CD Kirana. "Seriously? Hanya menonton TV?" ujar Alice. "Huft," keluhnya, dia lantas menyalakan TV tersebut, namun 10 detik kemudian dia mematikannya. Alice sedang tidak ingin menonton TV sekarang. Alice lalu mengecek ponselnya. Nomor ponselnya telah diganti oleh Kirana atas perintah Bob dan Catherine. Nomor ponsel lamanya sendiri telah dinonaktifkan dan kartunya sudah dibuang, dan sekarang Alice memakai nomor berkode +62, berbeda dengan sebelumnya yang berkode +44. Alice sama sekali tidak mengingat nomor-nomor teman-temannya, jadi dia benar-benar sendirian sekarang. Di ponselnya hanya ada beberapa aplikasi media sosial dan beberapa game, dan Alice bukanlah tipe orang yang suka bermain game juga bermedia sosial, jadi semua ini benar-benar membosankan baginya. "Mereka benar-benar memperlakukanku dengan kejam," kata Alice. Dia lantas melihat ke arah pintu, lalu berjalan mendekatinya. Alice kemudian mencoba untuk membuka pintu tersebut, dan ternyata pintunya tidak dikunci. Hal ini pun membuat Alice tersenyum lebar. "Gak boleh keluar tapi enggak mengurungku? Yang benar saja," ucap Alice, dia lalu melihat jam. "Jam delapan, ya? Aku memiliki waktu kira-kira empat jam untuk jalan-jalan keluar." "Baiklah, mari kita lihat bagaimana Jakarta ini." Gadis itu kemudian pergi ke kamarnya, berpakaian dan berdandan yang rapi, memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam tas, dan membawa tasnya keluar bersamanya. Alice pun akhirnya keluar dari dalam Apartemen itu, dan dia tidak mengunci pintunya karena dia memang tidak memiliki kuncinya. 'Semoga aja gak akan ada orang-orang coba-coba masuk,' batinnya. 'Bye bye.' Dia akhirnya pergi dari sana dengan perasaan bahagia di tingkat 100%, hal itu bisa dilihat dengan jelas melalui wajahnya yang bersinar-sinar. *** Sekitar 45 menit setelah keluar dari gedung Apartemen yang ditinggali Kirana, Alice pergi ke sebuah mall dengan menggunakan taksi online yang dipesannya melalui ponselnya. Alice membayar ongkosnya melalui sistem pembayaran saldo di aplikasi, jadi dia tidak perlu membayar menggunakan uang tunai. Tampaknya Kirana mengisi saldo Alice di aplikasi itu hanya untuk berjaga-jaga. Alice pun kemudian masuk ke dalam mall yang sangat ramai itu dengan sangat bahagia. Dia pergi melihat-lihat buku di sebuah toko buku yang ada di dalam mall tersebut. Pandangan sepasang bola mata Alice tertuju pada sebuah buku yang berjudul "Menjadi Miliarder Hanya Dengan Modal Membeli Jam Tangan". Seketika itu, Alice langsung merasa tertarik untuk membaca isi di dalam buku tersebut, karena dia sebenarnya memiliki cukup banyak jam tangan, bahkan bisa dibilang bahwa dirinya adalah seorang kolektor jam tangan. Alice pun lantas mengambil buku itu dan pergi ke kasir untuk membayarnya. "Seratus lima puluh ribu," ucap si kasir yang memberitahu harga buku itu pada Alice. "Ah, murah, sebentar ya," ujar Alice yang kemudian mengambil dompetnya. Begitu dibuka, dompetnya ternyata kosong, Alice pun baru sadar bahwa dia tidak memiliki uang sepeserpun sekarang. 'Astaga, gimana aku bisa lupa kalau aku gak punya uang sama sekali?' batin Alice. "Uhm ... sebentar ya, kartu kredit saya ada sama pacar saya, dan dia lagi ke toilet, saya akan menghampirinya dulu," kata Alice pada si kasir. "Oh, iya, tidak apa-apa, Kak," sahut si kasir. Alice pun lantas menaruh buku itu ke tempat asalnya dan keluar dari toko buku itu. "Sial, padahal aku pengen banget beli buku itu," gumam Alice. Karena sama sekali tidak memiliki uang, Alice pun jadi bingung harus melakukan apa sekarang, sudah tentu hal yang bisa dia lakukan hanya kembali ke Apartemen, tapi dia tidak mau melakukannya, paling tidak, Alice ingin membeli buku tadi, dan dia mulai memikirkan caranya. 'How about ... mencuri?' batin Alice. Matanya kemudian mulai melirik orang-orang yang sedang merogoh saku mereka, ada yang merogoh saku untuk mengambil ponsel, dan ada yang untuk mengambil dompet. Selain itu, Alice juga memperhatikan perempuan-perempuan yang membawa tas. 'Okay, you are my target,' batinnya, target dia adalah seorang pria berusia kira-kira 50 tahun yang memakai setelan jas dan celana panjang hitam. Pria itu baru saja memasukkan dompetnya ke saku celana  belakangnya, dan Alice berniat untuk menarik dompet itu tanpa disadari oleh siapapun, dan di keramaian yang luar biasa seperti ini. Alice secara perlahan mendekati pria itu, dan dia berhasil menarik dompetnya yang memang tidak masuk semua ke dalam saku celana pria itu. Setelah itu, Alice mulai menjauh dari pria tersebut, tampaknya tidak ada satupun yang menyadari aksi Alice. Gadis tersebut pun lantas kembali ke toko buku tadi dan membeli buku itu dengan uang hasil curiannya. Setelah itu, dia memeriksa dompet curiannya itu. Ternyata ada banyak sekali uang dalam dompet tersebut, dan ada ATM juga KTP dan SIM. 'Banyak banget duitnya, kalau gini aku bisa ngelakuin banyak hal selama tante Kirana ninggalin aku, hihihi,' batin Alice, dia kemudian memutuskan untuk kembali ke Apartemen karena ini sudah pukul setengah sepuluh, jalanan juga terlihat macet, jadi Alice tidak mau berlama-lama berada di dalam mall ini, dia takut dirinya akan pulang tidak tepat waktu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD