Zafier Gaster 47

2216 Words

"Selama ini dia tertekan memikirkanmu, sayang." Zaf hanya diam, duduk di kursi di samping tempat tidur Papinya yang masih terlelap. Keadaannya sudah jauh lebih baik setelah kemarin sempat kritis meski alat kedokteran masih terpasang di tubuhnya. "Dia hanya memikirkan Max," jawab Zaf akhirnya. Max, kembarannya selalu menuruti semua kemauan Papinya. Maminya menghela napas, menatapnya penuh sayang. "Mungkin Papi pernah mengambil keputusan yang salah tapi dia selama ini menyesalinya." "Kalau dia tidak pernah mengambil keputusan itu, Max akan berdiri di sini bersama kita." Zaf mengepalkan tangan, mencoba menahan emosinya. "Nyatanya kita semua kehilangannya." Dan memberikan Zaf rasa penyesalan yang dalam karena pertemuan terakhir mereka diwarnai dengan perkelahian. "Dia terlalu egois untuk s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD