14. She's My Sunshine

2424 Words
"Kamu--" Williem memijit pelipisnya. "Maaf Pak, saya tidak tahan. Jadi lebih baik, Bapak pecat saja saya sekarang juga." "Pecat?" Ulang Williem. "Kamu minta saya pecat. Bukannya kamu sudah berhasil mencuri perhatian seorang Zafier Gaster yang begitu dipuja semua wanita yang ada di sini tapi malah minta dipecat." Williem memperhatikan ekspresi Shine seksama. "Kamu yakin?" "Saya tidak tahan berada di dekat lelaki itu Pak--" "Tidak tahan untuk segera berada di dalam pelukannya?" Tuduh Williem langsung. "Bukan itu Pak--" Shine menggelengkan kepala. "Tapi saya tidak bisa menahan kepalan tangan saya tetap diam di tempat. Kalau ketemu dia bawaannya pengen nonjok wajahnya, Pak." Shine menunduk, Wiiliem melongo. Lalu ponselnya berbunyi dan Williem menghela napas. "Halo?!" Ucapnya kesal, mendengarkan suara seseorang itu lalu menutupnya disertai dengusan dan berdiri. "Kamu ikut saya sekarang juga!" "Loh kemana Pak?" Tanya Shine dan terpaksa mengikuti Williem keluar dari ruangannya menuju ke lift lalu menekan angka lima belas. Shine melotot. "Buktikan omonganmu tadi," desah Williem di sampingnya. "Jangan buat saya memiliki anggapan kalau kamu sama seperti yang lainnya. Begitu murahan karena terpikat dengan seorang Zafier Gaster." Shine menelan salivanya. Pokoknya dia bertekad untuk bisa keluar dari perusahaan ini secepatnya. Bodo amat kalau dia harus jadi pengangguran lagi. Jadi saat lift berhenti di lantai ruangan sang CEO, Shine sudah bersiap dengan kepalan tangannya. Apa kabarnya Reina yang bakalan makan ayam geprek level 50? Di depan ruangan Zafier, Shine bergumam dalam hati. Mampus lo, Bastard! *** "Apa yang kau lakukan di sini?" Geram Zafier saat menemukan wanita itu berdiri di dekat dinding kaca di dalam kantornya. Helena berbalik, tersenyum untuk Zafier yang berdiri di ambang pintu terlihat tidak suka dengan kedatangannya. "Halo, sayangku. Bagaimana kabarmu?" Helena bergerak anggun dengan gaun press bodi di atas lutut yang menampilkan jelas lekuk gitar spanyolnya begitu juga dengan Zaf yang masuk setelah menutup pintu. "Seharusnya, kau tidak pernah menemuiku lagi dan tidak datang ke sini seakan-akan kita memiliki hubungan spesial lebih dari teman tidur." Zaf berdecak. "Jangan serakah seperti itu, Hel. Seharusnya semua uang itu cukup untuk membuatmu bersenang-senang di luar sana." Helena tersenyum cantik menanggapi sampai mereka berdiri saling berhadapan di tengah ruangan. "Kenapa?" Tanyanya. Lalu seakan tersadar akan sesuatu, dia menambahkan. "Ah, apa karena aku tidak berada di apartemen saat kau datang dan itu artinya hubungan panas kita berakhir begitu saja." Zaf diam mengamati. Helena tertawa, mendekat dan mengalungkan lengannya di leher Zaf, menghirup aroma maskulin dari cekungan lehernya, mengecupnya sensual dan bibir berbalut lipstik merahnya bergerak naik ke telinga Zaf dan berbisik. "Sudah aku katakan kalau kita harus menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman bercinta. Aku menginginkanmu, sayang." Zaf memasukkan kedua tangannya ke saku celana tidak berniat sama sekali menyentuh wanita yang membelitnya seperti ular itu. Mengangkat sedikit dagunya saat Helena melancarkan serangan ciumannya di sekitar rahang juga telapak tangannya yang bergerak membelai dadanya. "Apa kau tidak merindukan sentuhanku, desahanku dan kenikmatan kita berdua?" Bisiknya lagi. "Kita bisa melakukannya sekarang." Zaf tersenyum miring, "Dengarkan ucapanku kali ini baik-baik, bitch." Zaf mengatakannya penuh penekanan. Helena reflek menghentikan ciumannya di pipi Zaf saat mendengar panggilan b***h itu dan saling memandang dalam jarak dekat dengan emosi yang berbeda. Helena yang nampak menahan geram dan Zaf yang terlihat berbahaya. "Aku sama sekali tidak berminat menjadikanmu kekasihku karena aku sudah punya kekasih yang sesungguhnya." Helena melebarkan mata mendengarnya. "Hubungan kita hanya sekedar teman tidur dan itu sudah berakhir sejak aku tidak menemukanmu di apartemen setelah kembali dari Amerika. Jadi--" Zaf mengeluarkan tangannya dan melepaskan belitan Helena dalam sekali sentak, mundur beberapa langkah menikmati ekspresi Helena yang tercengang dengan penolakannya. "Kau pergi sekarang juga dari hadapanku dan jangan pernah berani-beraninya muncul dan datang ke sini." Helena membuka bibirnya dengan tatapan kaget tapi tidak ada kalimat yang keluar, dia terlalu syok mendengar semua perkataan Zaf yang dia tahu tidak main-main itu. "Kau membuangku begitu saja?" Desisnya penuh amarah. "Tidak!!" Ucap Zaf enteng seakan lelah menghadapi jenis wanita seperti Helena. "Aku sudah mengatakannya di awal sejak kita mulai berkencan. Apa kau pura-pura lupa atau tidak mendengarnya?" Zaf mengusap bekas ciuman dengan punggung tangannya, bergerak melewati Helena ke arah sofa dan duduk di sana. Helena berbalik dan berdesis, "Tidak semudah itu, bastard!!!" Zaf menoleh dan tersenyum mengejek, "Terima saja kenyataannya." "Aku yakin kau bohong tentang memiliki kekasih. Lelaki sepertimu tidak mungkin setia hanya dengan satu wanita saja!!!" "Pergilah, Hel," desah Zaf. "Kamu sama sekali tidak mengenalku jadi tidak usah berbicara yang macam-macam tapi satu hal yang pasti, aku sudah memiliki satu wanita yang akan aku jadikan kekasih bukan teman tidur." Helena jelas tidak terima, "Hah, aku meragukannya. Kalau begitu coba tunjukan, mana kekasihmu sekarang? MANA DIA?" Teriaknya dengan emosi. Zaf tersenyum dan semakin lebar saat ketukan di pintu ruangannya terdengar. Zaf berdiri dan melipat lengannya di d**a. "Setelah melihat kekasihku maka pergilah dari hadapanku dan jangan pernah muncul lagi." Helena mengatupkan bibirnya dan bergeming menatap Zaf yang menyunggingkan senyuman bahagia menatap pintu tertutup di belakangnya. "Masuk," ucap Zaf, menyisir rambutnya ke belakang dan berjalan mengarah ke pintu untuk menyambut tamunya melewati Helena yang berdiri dengan tangan terkepal. Lalu pintu itu terbuka memunculkan sosok lelaki mengikuti wanita berambut pendek di belakangnya. Helena menyimpitkan matanya tajam. "Ah, datang juga," sambut Zafier setelah Williem masuk dan terlihat memperhatikan Helena dan Shine yang berhenti di ambang pintu lebih karena kaget dengan sambutan ramah setan bergelar CEO itu. Shine sama sekali tidak tahu ada wanita yang lain kerena fokus memandangi ekspresi Zafier yang menyambutnya dengan senyuman lebar. Ekspresi macam itu? Apa kopi asin membuat otaknya bermasalah? "Sayang--" Eh! Sayang? Williem yang mendengarnya langsung menoleh ke Zafier dan kaget dengan tingkah bosnya sama seperti Helena yang terbakar api cemburu untuk siapapun wanita itu. Lalu keduanya terbelalak saat melihat Zaf langsung memeluk Shine yang mendelikkan matanya maksimal karena pelukan tiba-tiba yang diterimanya. Fix, otak bos setannya bermasalah. Zaf mengurai pelukannya, menangkup pipi Shine dengan gemasnya dan menggoyangkan kepala Shine, "Aku sudah nungguin dari tadi." Shine cuma bisa bengong dengan bibir monyong ke depan dan mengerjapkan mata berkali-kali, terbelalak saat Zaf mengecup keningnya dan merangkul lehernya lalu membawanya ke dalam melewati Williem yang sukses tercengang. "Hel, kau seharusnya sudah angkat kaki dari sini sejak tadi. Kau lihatkan, tidak ada tempat untukmu di sini atau di hidupku. Hubungan kita berakhir." Zaf membawanya ke hadapan Helena dan Shine hanya bisa diam memandangi ekspresi kemarahan di wajah wanita cantik yang baru dia lihat keberadaanya. Otaknya yang lambat mulai mencerna apa yang sedang terjadi. Yeah, bos setannya sedang menjadikannya daging segar yang diumpankan ke singa betina yang lapar dan haus darah. Rangkulan Zaf turun ke pinggang dan menyentak wanita itu yang terbelalak kaget untuk semakin merapat ke tubuhnya, mengambil telapak tangannya yang lain dan mengenggamnya erat seakan-akan memperlihatkan pada dunia kalau mereka kekasih yang bahagia. "Hatiku dan hidupku akan dipenuhi dengan sosok wanita dalam pelukanku ini. Kekasihku satu-satunya." Zaf membawa gengaman tangan Shine ke bibir dan mengecupnya dengan penuh penghayatan disertai senyuman lebar diiringi ekspresi cengok Shine. Zaf menatap Shine lembut. "Iya kan, sunshine?" "Hah?" Shine mengerjap. "Apa mak--" belum tuntas mengutarakan protesnya, Zaf mengagetkan semua orang terutama Shine saat laki-laki itu dengan kurang ajarnya melumat bibirnya tanpa permisi. Mencumbuny mesra dan agresife seakan-akan mereka hanya berdua dalam ruangan. Williem ternganga, Helena terbakar amarah dengan tangan terkepal erat. "Aku tidak terima ini semua Zaf. Aku akan membuat perhitungan dengan kalian berdua!!" Helena menatap marah Zaf dan berbalik pargi dari sana dengan emosi. Membanting pintu ruangan Zaf membuat Williem berjengit kaget. "Ya ampun, menyebalkan!!!" Desah Zaf seraya melepaskan ciumannya dengan napas naik turun. "Wanita selalu aja msnyusahkan kalau banyak maunya." Shine mengerjap beberapa kali seakan tersadar dari mantra sihir dan memandangi setan yang bermonolog sendiri di depannya dengan penuh amarah. "Akhirnya bebas juga!!" Zaf terkekeh. BUKK!!! Terlambat menghindar, Zaf terhuyung ke belakang saat kepalan tangan Shine tepat mengenai wajahnya. Williem terbelalak kaget melihat Shine yang memukul Zaf tiba-tiba dan tidak sampai di situ. "SETAN i***t!!!" Teriak Shine murka. "BASTARD!!! Lalu menjambak rambut Zaf dengan kuat sampai laki-laki itu menggerang dan mendaratkan pukulannya di perut Zaf dengan kuatnya juga teriakannya. "GO TO THE HELL!!!" BUKK!!!! Zaf tentu saja tidak bisa berkutik dan langsung terkapar di lantai kantornya seraya menggerang. "Arggh--"  "Ehhh, Shine hentikan!!!" Sela Williem saat melihat Shine sudah akan maju lagi menghajar Bos besarnya. "Itu sudah cukup!!!" Shine yang masih mengepalkan tangannya langsung menolah dan menatap bergantian Williem yang mendekat juga zaf yang terkapar tidak berdiri. "Tenangkan dirimu," ucap Williem. "Dia pantas dihajar Pak. Seenaknya saja mencium orang lain tanpa permisi." Shine mengelap bibirnya dengan punggung tangan, bergidik sendiri. "Aku akan membalasmu, Shine," kekeh Zaf kemudian tertawa sendiri seperti orang gila dan bangkit lalu duduk di sofa seraya memegangi wajahnya yang memar. "Anda baik-baik saja Pak Zafier?" Tanya Williem khawatir. Zaf mengibaskan tangannya, merenggangkan otot lehernya dan tersenyum lebar. "Aku baik-baik saja. Bahagia malah." Williem jelas heran, Shine memutar bola mata mendengarnya dan menghadap bosnya yang berdiri di sampingnya kemudian merunduk sopan. "Pak Williem yang terhormat, saya berterimakasih sudah diberi kepercayaan untuk bisa merasakan bekerja dengan Bapak meskipun belum ada 2 x 24 jam tapi itu sudah cukup menjadi pengalaman yang berharga." Williem diam mendengarkan sementara Zafier tertawa membahana mendengarnya. "Bapak harus sadar kalau Bos bapak ini nggak waras. Saya juga telah meneima perlakuan tidak senonoh darinya," ucapnya seraya menunjuk Zafier yang mengangguk-angguk. "Jadi, saya mohon terima pengunduran diri saya sekarang juga. Saya takut tidak bisa menahan diri menghajarnya, Pak." Williem mengerjap, Zaf semakin kencang tertawa. "Aku tidak masalah, Shine," ucap Zaf. "Saya mohon dengan sangat, Pak Williem," ucap Shine seraya menempelkan telapak tangannya di depan d**a. Memohon. Williem terdiam sesaat dan menyadari ada sesuatu yang terjadi di antara Shine dan juga Zaf sebelum ini tapi tidak tahu apa. "Saya takjub dengan perbuatanmu tadi yang sangat berani tapi itu jelas melanggar sesuatu di sini jadi--" "Tidak ada yang boleh memecat Shine tanpa persetujuanku!!" Ucap Zaf tegas seraya berdiri dari duduknya dan mendekati keduanya. "Kau mengerti, Williem." Shine terbelalak. Williem berjengit kaget. "Tapi Pak--" "Tidak-tanpa-persetujuanku," ulang Zaf dan itu cukup untuk Williem diam tidak membantah. "Gak bisa gitu dong," protes Shine. "Bisa dong, Sunshine." "JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!!" Teriak Shine di depan Zaf. "SUNSHINE!" Zaf malah berteriak balik. Shine mengerjap. Williem sakit kepala melihat tingkah keduanya dan menyerah. "Oke, terserah kalian berdua. Aku tidak suka melihat Tom & Jerry modelan kalian ini. Aku keluar." "Pak Williem--" Shine merengut saat Williem berbalik pergi dan berhenti sebentar di ambang pintu yang di ukanya. "Selesaikan urusan kalian dan temui aku di ruangan setelah ini Shine. Kita banyak pekerjaan." Shine menjambaki rambutnya kesal saat Williem keluar. "Ah, sial!!!" Shine berjongkok dengan tampang frustasi. "Bisa gila!!!" Memukul kepalanya sendiri dengan tangan. "Dinikmati aja sudah," Zaf ikutan jongkok di depan Shine yang melotot. "Enak aja, bisa mati muda tahu nggak, ngadepin lelaki modelan gila kayak kamu. Darah tinggi aja bawaannya." "Setiap penandatanganan kontrak di perusahaan ini, ada hukumnya dan itu ada dendanya. Kamu masuk ke sini dan itu artinya kamu sudah diberi akses untuk masuk ke semua sistem yang ada--" Shine diam mendengarkan. "Kamu punya ID sendiri dan itu harus kamu jaga jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Hukumannya kurungan penjara kalau sampai ID itu disalah gunakan makanya setiap karyawan yang mengundurkan diri atau dipecat pasti akan menandatangani perjanjian bermaterai untuk tidak membocorkan rahasia perusahaan." "Terus?" "Dendanya mahal loh dan bayarnya pakai hitungan dollar," ucap Zaf enteng. "Memangnya kau sanggup bayar?" Cibir Zaf. Shine mendelik. "Bisa makan mie instan terus tiap malam di depan mini market." Shine ternganga. Zaf tersenyum lebar. "Aku terjebak!!!" Shine merutuki kebodohannya sendiri. "Yang sabar ya," ucap Zaf senang seraya menepuk-nepuk puncak kepala Shine yang langsung ditepisnya. "Jangan sentuh-sentuh!!" Zaf menggidikkan bahu dan berdiri. "Kerja sana yang benar, nanti kalau rajin aku kasih bonus, menginap seminggu bersama Zafier Gaster di kepulauan Hawai." Shine ikut berdiri dan nyalak, "Nggak sudi!!!!" "Oon!!!" Ejek Zaf dan berjalan melewati Shine tapi wanita itu menahan lengannya hingga mereka berdiri saling berhadapan dalam jarak dekat. "Apa? Berubah pikiran?" Shine menatapnya lekat, memajukan wajahnya hingga mendekati cekungan leher Zaf dan menghirup aroma yang luput dia perhatikan. Zaf menahan napas dan bergetar. Aroma lilac jelas masih mempengaruhinya. Oh, dia berharap bisa mencumbu Shine sekarang juga. "Kamu--" Shine mengangkat wajahnya. Mengulurkan telapak tangan dan memposisikannya di depan mata Zaf dan menghalangi pandangannya, fokus dengan dagunya. Seakan-akan dia sedang berhadapan dengan-- Shine menurunkan tangannya dengan ekspresi marah ketika ingat dengan kissmark itu. "Kamu lelaki berhoodie itu?" Tembak Shine membuat Zaf sempurna terdiam. "KAMU YANG MEMBUAT KISSMARK DI LEHERKU?" Teriak Shine. Perlahan bibir Zaf tertarik ke masing-masing sisi membentuk seringaian, menarik pinggang Shine merapat dan mengecup cepat bibirnya membuat Shine jelas kaget. "Yah nggak asik. Cepet banget aku ketahuan." "b******n memang!!!" Desis Shine, mengusap bekas ciuman Zaf dengan tangan. "Jangan pernah menciumku lagi karena bibirmu itu sudah tercemar." Perlahan senyuman Zaf memudar. Rasanya aneh mendengar hal itu dari Shine. Menyadarkan dirinya kalau dia sudah rusak. Shine melepaskan diri dan menatap tajam Zaf. "Kembalikan pisau lipatku!!" "Kembalikan hatiku yang kau ambil." Shine terdiam melihat tatapan penuh emosi Zaf di depannya dan tidak mengerti dengan maksud ucapannya. Mereka saling berpandangan intens. Zaf merasakan debaran itu jauh di dalam sana, di tempat di mana hatinya yang terbelah tersimpan rapat. Mungkin kah? Karena kepingan hatinya Zafier yang lain tersimpan di dalam kalung matahari milik Victoria yang penuh kenangan cinta yang dia yakin di simpan oleh Shine. Sunshine, gumam Zaf dalam hatinya. "Aku akan membunuhmu, Zafier Gaster," geram Shine. Zaf memutar bola matanya dan melewati Shine begitu saja tapi tiba-tiba wanita itu loncat ke atas punggungnya seraya menjambak rambutnya kencang sampai terasa ngilu. "SHINE!!!" desis Zaf. "Aku sudah berjanji untuk membunuh siapapun lelaki yang sudah melecehkanku seperti kemarin jadi bersiaplah!!!" Zaf berputar dan memgangi Shine dengan lengannya. "Turun sekarang juga. Kau bisa jatuh!!!" Tidak peduli Shine menjambaki rambutnya, Zaf berusaha menurunkan Shine dan mereka berputar-putar di ruang kantor seperti anak belasan tahun main gendong-gendongan. Krek!! Lalu pintu terbuka, Shine dan Zaf sontak menoleh dan menemukan tatapan terkejut Freya melihat keadaan Bosnya dan seseorang di punggungnya membuat Shine kaget dan reflek melepaskan tangannya membuatnya terjatuh ke bawah membuat Zaf jelas kaget. DUKK!! "Awww--" desah Shine yang terlentang di lantai. "Tuh kan jatuh," decak Zaf mengabaikan rambutnya yang berantakan. Sebelum Zaf membantunya, Shine sudah berdiri seraya memgangi kepalanya dan bergegas keluar melewati Freya yang ternganga melihatnya. "Siang Bu Freya," sapa Shine padahal keadaanya sedang berantakan saat itu dan dia langsung ngacir pergi. "SUNSHINE!!!" teriak Zaf tapi Shine sudah menghilang. Zaf menghela napas dan menggelengkan kepala lalu mengacak rambutnya dan terkekeh sendiri. "Ada hubungan apa kalian berdua?" Tanya Freya penasaran. Zaf menoleh dan tersenyum, "Dia sunshine." Freya mengatupkan bibirnya tercengang dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan sementara Shine di dalam lift yang membawanya turun mengetukkan  kepalanya di dinding kaca lift dengan erangan tertahan. "Shine i***t, Zaf gila!!!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD